Svyatoslav Fursin Dan Yaryna Arieva, Pengantin Baru Yang Memilih Angkat Senjata (SMH)
Dream - Yaryna Arieva, 21 tahun, tak bisa menutupi kegugupannya. Sirene serangan udara meraung di telinganya ketika dia mencium suami barunya di luar Biara St Michael yang berkubah emas di ibukota Ukraina, Kiev.
Pasangan muda itu bergegas ke gereja di tepi Sungai Dnieper itu untuk menikah, sehari setelah pasukan Rusia menyerbu Ukraina dan melancarkan serangan terkoordinasi di beberapa kota besar, termasuk juga ke Kiev.
Pagi itu, Arieva terbangun pada pukul 5.30 pagi karena langkah panik tetangga di lantai atas apartemen yang bersiap untuk melarikan diri, Ia juga menemukan pesan panik dari rekan-rekannya tentang kemajuan pasukan Rusia ke kotanya.
“ Perang telah dimulai,” begitu salah satu pesan berbunyi.
Barulah setelah dia berdiri di luar gereja setelah upacara pernikahan bersama suaminya, perancang perangkat lunak Lviv, Svyatoslav Fursin, 24 tahun, realitas perang yang suram akhirnya menyadarkannya.
“ Pemahaman tentang realitas baru menghantam saya setelah pernikahan. Saat kami keluar dari gereja, di saat kami harus melakukan ciuman pernikahan,” kata Arieva dalam percakapan WhatsApp dengan wartawan The Sidney Morning Herald.
“ Kami menikah saat suara sirene menyalak di telinga kami. Pemahaman bahwa segala sesuatunya akan berubah, segala sesuatunya telah berubah dan tidak akan ada yang sama seperti dulu lagi.”
Keesokan paginya, pasangan muda itu memutuskan bergabung dengan pasukan teritorial Ukraina –komponen cadangan militer tentara Ukraina– dan memulai pelatihan tempur mereka.
Sebuah gambar yang dibagikan oleh Arieva di media sosialnya menunjukkan wanita berusia 21 tahun itu menyandarkan kepalanya di bahu Fursin.
Keduanya mengenakan pakaian musim dingin sipil dan memegang senapan serbu di depan tempat yang tampak seperti tempat perlindungan serangan udara.
Judulnya berbunyi: “ Foto keluarga pertama setelah pernikahan. Hari kedua perang. Kebenaran akan menang.”
Tak lama setelah gambar itu diambil, Fursin dikerahkan ke lokasi yang dirahasiakan di dekat Kiev untuk mencegat satu iringan kendaraan lapis baja Rusia dan memberikan dukungan kepada pasukan Ukraina.
Pria berusia 24 tahun itu menggambarkan menghabiskan berhari-hari tanpa tidur, ditemani pejuang lain yang mengenakan pakaian sipil, bertahan di bawah suara ledakan dan tembakan artileri.
Fursin sejak itu dipromosikan menjadi komandan kedua peletonnya dan bertugas membantu melatih rekrutan baru untuk menangani senjata.
Arieva sendiri tetap tinggal untuk menjalani pelatihan medis di Kiev, jauh dari bulan madu yang awalnya dibayangkan pasangan pengantin baru itu.
Ditanya bagaimana dia mengatasi kecemasan akan suaminya saat dia tengah melakukan misi, dia bilang dia hanya banyak berdoa, “ dan rokok adalah sahabat saya”.
“ Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan berhenti merokok setelah perang berakhir … dan memulai hidup baru setelah perang.”
Dia tetap yakin, bergabung dengan tentara dan mengangkat senjata adalah pilihan yang tepat.
“ Saya melakukannya karena ini negara saya, ini tanah saya. Saya lahir di Kiev, saya adalah wakil dewan kota Kiev. Rumah saya, mobil saya, orang yang saya cintai, teman-teman saya, bahkan kucing saya tinggal di sini,” katanya.
“ Jika harus, saya akan membunuh setiap orang Rusia yang saya temui. Meski mereka memakai baju besi, saya akan membunuh mereka,” ujarnya.
Arieva, seorang wanita anggota parlemen Ukraina dan pembawa acara TV, mengatakan suasana di dalam garis pertahanan teritorial selalu riang dan optimis, meskipun diwarnai hari-hari yang panjang jauh dari rumah dan ketegangan fisik dari pelatihan.
Para personil, " menertawakan Rusia, menceritakan lelucon, membuat meme dan menceritakan anekdot lama" , katanya.
Dan ketika sirene meraung untuk mengumumkan serangan udara yang akan datang, mereka menyanyikan lagu-lagu Ukraina di dalam bunker tempat perlindungan.
Arieva, yang tumbuh dengan mendengar cerita tentang perlakuan Uni Soviet terhadap tahanan Ukraina, yakin negaranya pada akhirnya akan menang. Dia mengatakan kemarahan membuatnya terus bertahan dan bermimpi " Rusia menghilang dari peta dunia sepenuhnya" .
Ditanya apa yang akan dia lakukan jika negaranya memenangkan perang, Arieva menjawab: " Saya pikir semua orang di sini akan memiliki jawaban yang sama: kita akan mabuk semampu kita."
***
Tak hanya Arieva yang menikah pada saat perang, sepasang kekasih Ukraina yang angkat senjata berjuang bersama melawan invasi Rusia juga menikah di garis depan
Pasangan Ukraina itu telah hidup bersama selama 22 tahun. Mereka telah bergabung dalam perang melawan invasi pasukan Rusia. Dan baru-baru ini memutuskan menikah di garis depan.
Lesia Ivashchenko meninggalkan pekerjaannya ketika perang dengan Rusia dimulai bulan lalu. Ia bergabung dengan pasukan pertahanan teritorial untuk mempertahankan distriknya di pinggiran ibukota Kiev.
Dia belum melihat pasangannya, Valerii Fylymonov, sejak awal invasi Rusia sampai hari Minggu ketika pasangannya itu resmi melamarnya.
" Sangat menyedihkan bahwa ini (invasi Rusia) terjadi pada kami, bahwa keluarga kami tidak dapat bersama," kata Lesia Ivashchenko seperti dikutip ABC setelah upacara pernikahan yang diselenggarakan tepat di garis pertahanan di Kiev.
" Saya senang kami masih hidup. Suami saya masih hidup, dan dia bersama saya.
" Kami memutuskan siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok. Kami harus menikah di depan negara, di depan Tuhan.
" Dan kami telah memiliki seorang putri dewasa, dan saya pikir dia senang kami akhirnya melakukannya."
Seorang pria berseragam militer Ukraina memainkan alat musik gesek kobza di sebuah lapangan, dengan seorang pria militer lainnya berdiri di dekatnya.
" Saya berharap untuk mengadakan upacara yang sangat sederhana. Saya pikir kami hanya akan mengatakan 'ya' satu sama lain."
" Ini adalah kejutan dari saudara-saudara saya dan komandan kami bahwa mereka memutuskan untuk mengatur upacara pernikahan untuk menunjukkan, terlepas dari segalanya, kami percaya pada masa depan dan kehidupan terus berjalan.
" Kami bertekad untuk mengusir keluar musuh dan merebut kembali tanah kami dan menang," tegasnya.
***
Pemerintah Ukraina mengatakan hampir 4.000 pasangan menikah di tengah perang dengan Rusia untuk menunjukkan 'semangat dan kekuatan iman'
Dalam sebuah unggahan Facebook, seperti dikutip Insider, pemerintah mengatakan Ukraina menunjukkan " kekuatan" di tengah " agresi bersenjata" Rusia.
Keterangan itu terungkap setelah pasangan yang mengenakan seragam militer memutuskan menikah di sebuah pos pemeriksaan di Kiev.
Pemerintah Ukraina melaporkan bahwa hampir 4.000 pasangan telah menikah sejak Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari.
Sebuah unggahan Facebook yang dibagikan oleh akun resmi Kementerian Kehakiman Ukraina pada hari Minggu mengatakan bahwa 3.973 pasangan telah menikah selama perang dengan Rusia.
" Tidak peduli seberapa keras musuh mencoba untuk menghancurkan kita, hidup terus berjalan," tulis unggahan tersebut, yang aslinya diunggah dalam bahasa Ukraina. " Selama ini, Ukraina telah menciptakan hampir 4.000 keluarga baru."
" 3.973 pasangan memutuskan untuk secara resmi memperkuat hubungan mereka selama perang," tambahnya.
" Meskipun Rusia melakukan agresi bersenjata, Ukraina tidak kehilangan semangat dan kekuatan iman. Musuh akan dihancurkan! Kami akan menang!"
Bersamaan dengan unggahan tersebut, kementerian membagikan beberapa foto pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka selama konflik bersenjata dengan Rusia. Dua dari pasangan itu tampaknya telah menikah saat para pria mengenakan seragam gaya militer.
Pasangan Lesia Ivashchenko dan Valerii Fylymonov yang menikah di pos pemeriksaan garis depan baru-baru ini telah menjadi berita utama menurut The Washington Post.
Koran setempat melaporkan bahwa Walikota Kiev, mantan petinju kelas berat Vitali Klitschko, juga hadir. Ia mengatakan " kehidupan berlanjut dan orang-orang hidup dan cinta mereka membantu perang."
Lesya Filimonova dan Valeriy Filimonov hanyalah " orang normal" yang tidak berencana membawa senjata, kata Klitschko di pernikahan tersebut.
Namun setelah konflik pecah, kata Klitschko, mereka bergabung dengan Pasukan Pertahanan Teritorial sebagai sukarelawan warga untuk militer Ukraina.
Pada akhirnya perang memang tak pernah bisa menghentikan cinta. Di balik sirine peringatan serangan udara dan riuh-rendah suara mitraliur dan bom, pasangan kekasih Ukrania memilih menikah di tengah perang. Mereka juga memilih angkat senjata untuk membela tanah kelahiran mereka. Merdeka atau mati. (eha)
Advertisement