Geger Penemuan 40 Mayat Diduga Wanita di Rumah Mantan Polisi

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Minggu, 23 Mei 2021 16:00
Geger Penemuan 40 Mayat Diduga Wanita di Rumah Mantan Polisi
Diyakini kebanyakan dari mereka adalah mayat perempuan.

Dream - Tim Sepsialis Forensi di El Savador menemukan kerangka setidaknya 40 mayat yang diyakini kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Penemuan ini diperoleh setelah petugas menggali kuburan di rumah salah seorang petugas polisi.

Menurut pejabat tinggi El Savador, setidaknya sudah ada 24 mayat telah teridentifikasi dan semuanya ditemukan di wilayah Chalchuapa, sekitar 78 kilometer dari kota San Salvador.

Dilansir dari National Post, baru-baru ini, setidaknya 10 orang sudah menghadapi dakwaan termasuk petugas polisi Hugo Ernesto Osorio Chaves yang rumahnya menjadi tempat penemuan para mayat.

1 dari 4 halaman

Muncul Harapan di Keluarga yang Kehilangan Kerabat

Dengan beredarnya berita mengejutkan ini, puluhan orang di El Savador percaya kerabat mereka yang hilang kemungkinan merupakan salah satu maya itu.

" Ada harapan untuk mengenali anggota keluarga, bahkan ketika sudah menjadi mayat," kata Marleny Barrientos, 50 tahun, yang membawa foto putranya yang menghilang pada 2015 lalu.

" Itulah sebabnya saya disini."

 

 

2 dari 4 halaman

Pembunuhan terhadap Wanita Banyak Terjadi

Penemuan kuburan massal ini membawa isu femisida menjadi fokus di negara Amerika Tengah yang berpenduduk 6,7 juta itu. Pemerintah mencatat ada 70 pembunuhan terhadap wanita pada tahun lalu dan 111 di tahun 2019.

Saat ini pihak berwenang tengah mengusut sembilan kasus femisida. Dengan penemuan kuburan massal ini, memperburuk keadaan disana.

" Poros utama penyelidikan adalah kekerasan seksual," kata jaksa Graciela Sagastume.

Kekerasan terhadap perempuan di Amerika Latin juga diperparah pandemi Covid-19.

Sumber: national post

3 dari 4 halaman

3 Kategori Pelaku Kejahatan yang Bisa Dijatuhi Hukuman Kebiri

Dream - Hukuman kebiri kimia untuk pelaku kekerasan seksual pada anak resmi berlaku setelah presiden menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020. Beleid baru tersebut mengatur tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak oleh Presiden Joko Widodo.

Penerbitan PP ini dimaksudkan untuk memberikan efek jera kepada pelaku sekaligus mencegah tindak kekerasan seksual terhadap anak. PP baru itu telah ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 7 Desember 2020.

" Bahwa untuk mengatasi kekerasan seksual terhadap anak, memberi efek jera terhadap pelaku, dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak, serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 81A ayat (4) dan Pasal 82A ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang," demikian pertimbangan dalam PP tersebut.

4 dari 4 halaman

3 Kategori Pelaku Kekerasan Seksual Pada Anak

PP ini menetapkan tiga kategori pelaku kekerasan seksual terhadap anak yang bisa dijatuhi hukuman kebiri kimia. Kategori pertama yaitu pelaku pidana persetubuhan kepada anak.

Kategori kedua, pelaku pidana persetubuhan terhadap anak dengan kekerasan atau ancaman yang memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain yang juga pelaku persetubuhan.

Kategori ketiga, pelaku perbuatan cabul terhadap anak dengan kekerasan atau ancaman, memaksa melakukan tipu muslihat, dengan serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Sedangkan pada Pasal 4 PP tersebut diatur ketentuan pengecualian. Hukuman kebiri kimia tidak bisa dijatuhkan jika pelaku kekerasan seksual dalam tiga kategori tersebut juga masih tergolong anak-anak. Sementara, PP tersebut juga menetapkan batas usia seseorang dinyatakan masih anak-anak adalah di bawah 18 tahun.

Sebagai catatan, kebiri kimia tidak bisa dijalankan secara langsung dan dilaksanakan dalam waktu 2 tahun sejak jatuh putusan. Selain itu, kebiri juga mempertimbangkan aspek klinis serta kesimpulan dalam pelaksanaannya.

Sumber: Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro

Beri Komentar