Enes Kanter Ketika Membela Portland Trail Blazer (USA Today)
Dream - Saat itu sekitar pukul 3 pagi, Rabu 15 Mei 2019, beberapa jam setelah kekalahan besar Portland Trail Blazers dari Golden State Warriors, ketika alarm berbunyi di sebuah kamar hotel San Francisco. Alarm ini mengejutkan pria setinggi 2,08 meter itu.
Saat alarm berbunyi, pria itu, pemain center Blazers, Enes Kanter, memaksa dirinya turun dari tempat tidur dan berjalan ke lemari es kecil hotel. Dia mengeluarkan sepiring makanan yang sudah disiapkan dan beberapa botol Gatorade dan air mineral. Sudah waktunya untuk sahur.
Dia menghabiskan makanannya, meneguk minumannya, menelan beberapa pil obat pereda nyeri bahunya yang cedera, dan akhirnya salat saat azan Subuh. Kemudian, sebelum matahari terbit, Kanter kembali ke ranjangnya dan kembali tidur.
" Dulu agak sulit mencoba untuk kembali tidur," katanya. “ Tapi sekarang saya sudah terbiasa. Dengan semua permainan dan latihan dan perjalanan, saya cukup lelah. Jadi saya langsung kembali tidur,” kata Enes Kanter seperti dikutip Oregon Live.
Sudah 10 hari sejak awal Ramadhan, bulan terpenting dalam agama Islam, Kanter telah mengembangkan rutinitas saat ia menyeimbangkan untuk tetap setia pada imannya dan timnya. Tapi ini pertama kalinya bagi Kanter bahwa Ramadhan bertepatan dengan babak playoff NBA.
Ketika Blazers mengalahkan Denver Nuggets di Game 7 Semifinal Wilayah Barat —sebuah pertandingan yang dimulai di tengah hari— Kanter tidak mengonsumsi makanan atau seteguk air. Dia bermain selama 40 menit, menyelesaikan dengan 12 poin dan 12 rebound, dan membuat 6 dari 13 tembakan.
Kanter mengatakan dia gugup menuju pertandingan playoff pertamanya selama Ramadhan. Ia sempat tidak yakin bagaimana tubuhnya akan merespons. Dan, dia tahu orang akan menyalahkan imannya jika dia goyah.
Kanter tidak akan diberikan keistimewaan di final wilayah. Setiap pertandingan melawan Golden State Warrior akan berakhir pada pukul 6 sore. Jadi, dia harus bermain ketika berpuasa.
Sebelum Ramadhan dimulai, ia telah meminta saran kepada pebasket veteran yang masuk Hall of Fame, Hakeem Olajuwon, seorang Muslim taat yang bermain di babak playoff beberapa kali selama Ramadhan. Olajuwon memberitahu Kanter bahwa dia hanya akan makan kurma, oatmeal dan mengonsumsi satu liter air saat sahur.
Tapi Kanter menilai porsi makan itu tidak akan cukup baginya. “ Akhirnya saya makan seperti orang gila. Saya makan pasta, saya makan granola bar, saya minum Gatorade. Saya mencoba memasukkan begitu banyak makanan ke dalam diri saya sehingga pada siang hari saya tidak akan merasa lapar.”
Sejauh ini, kata Kanter, dia sangat terkejut dengan seberapa baik dia dirinya di lapangan, baik secara fisik maupun emosional. Di lapangan, dia mencetak rata-rata 12,7 poin dan 10,9 rebound di babak playoff, dan tidak terlihat lelah atau kewalahan.
Saat pertandingan, yang berbeda hanyalah pada saat waktu istirahat di bangku pemain. Saat istirahat, teman-temannya akan menenggak minuman Gatorade dingin yang disediakan. Sementara Kanter hanya sibuk mengelap keringatnya. Ini menunjukkan Kanter masih tetap teguh berpuasa.
***
Enes Kanter Freedom, lahir dengan nama Enes Kanter tanggal 20 Mei 1992 di Zurich, Swiss. Usianya kini 29 tahun. Ia menambah nama belakangnya menjadi Freedom pada November 2021 saat resmi menjadi warga negara Amerika Serikat.

Orang tua Kanter adalah warganegara Turki. Ayahnya, Mehmet Kanter, menerima gelar M.D. dari Universitas Zurich, Swiss. Keluarga tersebut kemudian kembali ke Turki, tempat Kanter dibesarkan.
Mehmet Kanter menjadi profesor histologi dan genetika di Universitas Trakya, Turki. Sementara ibu Kanter, Gülsüm Kanter, adalah seorang perawat. Kanter memiliki tiga saudara kandung: dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan.
Kanter belajar di sekolah yang berafiliasi dengan Hizmet, bagian dari gerakan Gülen di Turki. Dia tinggal di kota Ankara, dan kemudian pindah ke Istanbul untuk bermain basket profesional saat remaja.
Pada usia 17 tahun, Kanter pindah ke Amerika Serikat untuk bermain basket. Kanter kemudian bersekolah di Stoneridge Preparatory School di Simi Valley, California. Di sini dia bisa bermain basket selama satu musim. Ia meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan menonton kartun Nickelodeon " SpongeBob SquarePants."
Tamat kuliah, ia menjadi pemain bola basket profesional NBA. Kanter berada pada urutan ketiga dari daftar draft NBA tahun 2011. Ia lalu direkrut oleh Utah Jazz. Sebagai center, Kanter telah bermain untuk lima tim NBA sejak memasuki liga pada 2011.
Di klub NBA, dia bergabung dengan Utah Jazz (2011–2015), Oklahoma City Thunder (2015–2017), New York Knicks (2017–2019), Portland Trail Blazers (2019), dan Boston Celtics (2019–2020).
Ketika menjadi pemain bebas pada 1 Juli 2019, Kanter dan Boston Celtics menyetujui kontrak dua tahun senilai U$ 10 juta atau Rp 143 miliar. Di sana Kanter rata-rata mencetak 8,1 poin, 4,6 rebound, dan 1 assist. Musim tertingginya adalah 22 poin, 6 blok, dan 19 rebound. Di babak playoff, ia mencetak total 50 poin dalam 11 pertandingan, rata-rata 4,5 poin per game.
Pada 20 November 2020, Kanter dijual kembali ke Portland Trail Blazers. Pada 10 April 2021, dalam kemenangan Blazer 118-103 atas Detroit Pistons, Kanter mencetak rekor karir tertinggi dengan 30 rebound, memecahkan rekor Sidney Wicks dengan 27 rebound yang dibuat pada 1975. Dia juga mencetak 24 poin dalam permainan, sehingga ia menjadi pemain ketiga dalam 20 tahun terakhir yang menghasilkan 20 poin dan 30 rebound.
Pada 13 Agustus 2021, Kanter menandatangani kontrak minimum satu tahun senilai U$ 2,7 juta atau Rp 38 miliar dengan Boston Celtics.
Menurut Populer Networth, kekayaan Enes Kanter dari profesinya sebagai pebasket profesional adalah sebesar U$ 50 juta atau setara Rp 717 miliar.
Pada 10 Februari 2022, Kanter dijual Boston Celtics bersama dengan Dennis Schröder dan Bruno Fernando ke Houston Rockets, dengan imbalan pertukaran dengan pemain Houston Rockets, Daniel Theis.
Pada 14 Februari 2022, Rockets mem-PHK Enes Kanter. Diduga pemecatan ini dilakukan atas perintah NBA untuk menghindari ketidaksenangan pemerintah China karena aktivisme hak asasi manusia yang dilakukan Kanter, meskipun NBA mati-matian membantah klaim ini.
***
Enes Kanter Freedom telah mengutuk pelanggaran hak asasi manusia di Turki selama bertahun-tahun. Sekarang dia mengklaim NBA mengkambinghitamkannya saat ia berfokus pada pelanggaran hak asasi manusia di China.
“ Aktivisme saya sebenarnya dimulai ketika saya berusia 9 tahun,” kata Enes Kanter Freedom kepada hadirin yang penuh antusias dan para aktivis pro-demokrasi termasuk Garry Kasparov, mantan juara catur dunia yang dikenal karena penentangannya terhadap Presiden Rusia Vladimir V. Putin, saat bicara di Olive Tree Café, Greenwich Village, pada 23 Februari 2022.
“ Ibu saya mengatakan –saya ingat ketika saya masih kecil– 'Percayalah pada sesuatu dan selalu berdiri tegak untuk itu. Bahkan jika itu berarti mengorbankan semua yang kamu miliki’,” kata Kanter seperti dikutip The New York Times.
Saat ini, Kanter tidak lagi bermain di NBA. Tidak ada tim yang mengontraknya sejak dia dibuang Houston Rockets bulan lalu.
Selama beberapa dekade, rencana NBA untuk melakukan ekspansi global telah mencakup China, tempat lebih banyak penggemar NBA daripada di Amerika Serikat. Sebelum pandemi virus corona, pemain NBA secara rutin bepergian ke sana untuk mempromosikan sepatu. China menyumbang aliran pendapatan televisi dan sponsor yang besar dan stabil untuk NBA.
“ Tidak perlu ahli roket untuk memahami penyebab saya hanya mendapat sedikit waktu bermain, dan kemudian dipecat,” katanya. “ Tapi memang butuh orang dengan hati nurani untuk berbicara dan mengatakan itu tidak benar.”
Di awal karirnya, Kanter memberikan sedikit indikasi bahwa ia akan menjadi advokat hak asasi manusia yang vokal. Kanter memulai aktivisme politik pada tahun 2016 dengan kecamannya terhadap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, yang menahan ribuan orang di Turki setelah kudeta militer yang gagal. Erdogan menyalahkan upaya kudeta pada Fethullah Gulen, seorang pengkhotbah Islam dan mantan sekutu Erdogan. Kanter adalah pendukung Gulen, dan dia menyebut Erdogan sebagai “ Hitler abad kita.”

Turki membalas Kanter dengan membatalkan paspor Kanter dan mengeluarkan surat perintah penangkapannya. Ayah Kanter Mehmet Kanter, menulis surat yang tidak mengakuinya sebagai anak. Tapi kemudian ayahnya ditangkap, sebelum dibebaskan, atas tuduhan terorisme di Turki. Kanter belum kembali ke Turki sejak tahun 2015.
Namun sebuah jumpa fans di sebuah kamp bola basket di New York, telah mengalihkan perhatian Kanter ke China.
“ Saya berfoto dengan seorang anak, dan orang tuanya memanggil saya di depan semua orang dan berkata, 'Bagaimana Anda bisa menyebut diri Anda seorang aktivis hak asasi manusia ketika saudara-saudari Muslim Anda disiksa dan diperkosa setiap hari di kamp konsentrasi di China?',” kata Kanter, mengacu pada tuduhan yang biasanya dibuat oleh aktivis hak-hak Uyghur tentang pelanggaran oleh China di Xinjiang, sebuah wilayah di barat laut China.
Pertemuan itu terjadi seminggu sebelum Kanter memulai musim NBA-nya dengan Boston Celtics, pada bulan Oktober 2021. Menjelang pertandingan pertama mereka, Kanter mem-posting video di Twitter dengan judul yang mengacu pada pemimpin China, Xi Jinping, sebagai “ diktaktor brutal”.
Selama pertandingan, ia mengenakan sepatu yang dirancang oleh seniman pembangkang Tiongkok Badiucao yang bertuliskan " Bebaskan Tibet," mengacu pada wilayah yang diserbu dan direbut oleh pasukan China pada tahun 1951.
Tanggapan NBA, kata Kanter, adalah mencoba membungkamnya. Dalam beberapa penampilan media setelah pertandingan itu, dia mengatakan dua offisial liga menyuruhnya melepas sepatu tersebut, tapi dia menolak. Dia juga mengatakan serikat pemain NBA secara terpisah mencoba membuatnya berhenti memakai sepatu itu.
“ Alih-alih mengadvokasi atas nama saya, saya menemui serikat pekerja yang memberi tahu bahwa saya harus tutup mulut dan berhenti berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia di China,” kata Kanter.
Bahkan jika kritik Kanter tidak menjadi masalah bagi Celtics, mereka telah mencapai titik yang menyakitkan di China. Tencent, yang menyiarkan pertandingan NBA di China, menolak menayangkan game Boston Celtics, sehingga membangkitkan kenangan 2019, ketika China berhenti menyiarkan pertandingan NBA di jaringan televisi pemerintahnya setelah seorang eksekutif Houston Rockets membagikan gambar Twitter yang mendukung pengunjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong. Pemerintah China pun murka.
NBA mengatakan episode tahun 2019 telah menyebabkan kerugian hingga ratusan juta dolar atau puluhan triliun rupiah bagi NBA. Maka, NBA ingin menormalkan hubungan dengan China karena besarnya kerugian bisnis yang ditanggung NBA.
Akibatnya pada bulan Februari 2022, Celtics menjual Kanter ke Houston Rockets, yang kemudian segera mem-PHK-nya. Rockets sendiri menolak berkomentar tentang spekulasi alasan dibalik pemecatan itu karena tekanan pemerintah China ke NBA.
***
Walau kini menjadi pemain tanpa klub NBA yang merekrutnya, Kanter pernah menulis opini di harian The Washington Post tentang rasanya bertanding di NBA selama berpuasa Ramadhan.

Ia menulis: “ Iman saya dalam Islam tidak berbeda dengan iman saya dalam permainan bola basket: Keduanya membutuhkan tekad yang besar, fokus, semangat dan disiplin. Namun tantangan yang saya hadapi selama Ramadhan tidak hanya saya alami. Jutaan Muslim di seluruh dunia dapat merasakan perjuangan untuk melewati setiap hari tanpa makanan atau air. Satu-satunya alasan orang membicarakan pengalaman saya selama Ramadhan adalah karena saya adalah pemain bola basket profesional yang menonjol.”
“ Bagi saya, bola basket lebih dari sekadar gairah atau gaji — itu adalah alat yang saya gunakan untuk mencoba memberi dampak di dunia. Namun tidak semua tantangan dapat diatasi dengan kemauan dan tekad yang kuat, karena masih ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Hari ini, ribuan tahanan yang juga Muslim yang taat menjalankan Ramadhan dari balik jeruji penjara di Turki…Lebih dari segalanya, saya ingin menjadi contoh bagi anak-anak di mana pun, menunjukkan kepada mereka bahwa Anda dapat berkembang saat tertantang —puasa saat Ramadhan, misalnya, tetapi juga berusaha keras di babak playoff NBA,” tulisnya.
Enes Kanter Freedom telah membuktikan satu hal. Aktivitas politiknya membela mereka yang tertindas, memang telah membuat dia tersingkir dari panggung NBA. Tapi dia juga telah menjadi teladan setiap atlet muslim: tetap istiqamah berpuasa ketika berada di kompetisi bola basket tingkat tinggi! (eha)