Curie Bersama Putrinya Melody Yang Meninggal Akibat Gagal Ginjal Akut (BBC)
Dream – Pada siang hari, biasanya Agustina Melani sedang bermain dengan putrinya, Nadira Azea Almaira, yang baru berusia 15 bulan. Nadira adalah putri semata wayang yang lahir setelah usia pernikahan Agustina melewati usia enam tahun, dan " tengah lucu-lucunya“ .
" Banyak mainannya. Boneka-boneka. Terakhir itu saya belikan kids walker-nya, baru dipakai seminggu sama dia,“ kata Agustina kepada BBC mengenang hari-hari terakhir bersama buah hatinya.
Tapi semua mainan itu kini sudah menepi dan menyepi di pojokan rumah.
Pemiliknya, Nadira Azea Almaira meninggal dunia setelah dinyatakan mengalami gagal ginjal akut pada tanggal 25 Agustus 2022. Ia sempat menjalani perawatan selama lima hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.
" Sebelumnya tidak pernah sakit berat. Paling sakit pilek, demam, mau tumbuh gigi. Jarak dua hari sembuh, main lagi,“ katanya.

(Agustina Melani bersama putrinya Nadira yang wafat akibat sirup parasetamol/BBC)
Agustina menceritakan awalnya Nadira hanya batuk dan flu. Kondisinya memburuk setelah diminumkan obat sirup parasetamol dari sebuah Puskesmas di bilangan Jakarta Selatan.
“ Setiap empat jam saya kasih obat, karena panasnya nggak turun-turun. Sempat sembuh, tapi demam lagi. Akhirnya tidak bisa pipis,” katanya.
Urine yang tidak keluar juga disertai pembengkakan pada tubuh Nadira. Setelah masuk ke beberapa rumah sakit, terakhir Nadira dilarikan ke RS Fatmawati.
Diagonsis laboratorium menunjukkan kreatinin dan ureum Nadira pada angka yang melampaui ambang batas. Artinya ginjal Nadira dinyatakan tidak berfungsi.
“ Dan akhirnya dia meninggal dengan begitu cepat. Dengan sakit yang begitu mengerikan,” kenangnya.
“ Kalau memang benar-benar sudah terbukti ini ada kelalaian dari pihak farmasi, tentunya kami semua para orang tua korban akan menindaklanjuti kasus ini, untuk meminta pertanggung jawaban atas kasus yang menimpa anak-anak kami,“ tambah Agustina.
Tragedi serupa juga dialami seorang balita bernama Cyrene Melody Mamonto, 2 tahun 7 bulan. Ia juga mengalami gagal ginjal akut dan tak bertahan setelah menjalani serangkaian perawatan di rumah sakit. Ia sempat mengkonsumsi obat parasetamol yang dibeli di pasaran, termasuk di rumah sakit.
" Dua minggu sebelum dia meninggal itu. Kami ke gereja… maksudnya anaknya aktif. Jalan ke sana kemari, main… Kayak diracuni dengan tiba-tiba. Cuma racun yang kuat, yang bisa buat dia kayak begitu (meninggal),” kata Curie Mamonto Loho, ibu dari Melody.
Untuk mengambil langkah selanjutnya, Curie masih menunggu hasil penyelidikan yang saat ini dilakukan BPOM, Kemenkes, Ikatan Dokter Anak Indonesia, ahli epidemiolog, farmakolog dan laboratorium kepolisian.

(Curie bersama putrinya Melody/BBC)
" Harus menunggu penelitiannya. Hasilnya seperti apa,” katanya.
Sedangkan di Jawa Barat, Siti Suhardiyati terlihat agak memaksakan diri saat membereskan mainan Umar Abu Bakar, anak bungsunya yang meninggal 24 September 2022 lalu. Air matanya mengalir deras dipicu rasa kehilangan.
Beragam mainan itu mengingatkannya pada sosok Umar yang ceria dan penyayang. “ Saya nggak kuat,” ungkapnya pilu.
Umar Abu Bakar berusia 2 tahun 10 bulan ketika dinyatakan meninggal oleh dokter di RS Cipto Mangunkusomo (RSCM) Jakarta. Umar didiagnosis mengalami gagal ginjal akut.

(Umar Abu Bakar yang tewas akibat gagal ginjal akut setelah mengomsumsi sirup parasetamol maut/BBC)
Siti tidak merasakan kecurigaan sedikit pun, ketika Umar mengalami demam, batuk, pilek, dan diare, pada Sabtu, 10 September 2022. Ia hanya berpikir, anak keduanya itu cuma mengalami sakit yang umum dialami anak-anak balita.
Namun karena disertai diare, Siti membawa Umar berobat ke sebuah klinik di Bekasi yang menjadi layanan kesehatan tingkat pertama BPJS Kesehatan.
Ia dan Umar pulang dengan membawa tiga jenis obat, termasuk sirup parasetamol.
Setelah tiga hari mengkonsumsi obat, Umar mendadak berhenti kencing.
“ Malamnya masih pipis, tapi Selasa pagi, sudah gak ada pipis. Saya gantiin pampers kan biasanya pagi penuh, tapi ini sudah nggak ada pipis,” tutur Siti.
Umar beberapa kali dirawat di rumah sakit, sebelum akhirnya dirujuk ke RSCM.
Siti tidak menyangka sedikit pun anaknya bakal mengalami gangguan ginjal akut karena Umar tidak memiliki riwayat penyakit berat. “ Makanya bingung, kok bisa gagal ginjal akut,” ucapnya.

(Siti, kakak Umar, Umar, dan ayahnya/BBC)
Siti mengaku heran, mengapa kasus tersebut baru diangkat ke media belakangan ini, padahal kasusnya sudah ada sejak awal tahun ini.
Mengenai dugaan kandungan etilen glikol dan dietilen glikol dalam sirup parastemaol yang menjadi penyebab sakit tersebut, Siti kembali menyatakan kebingungannya.
“ Saya juga bingung sebenarnya ini, kenapa bisa ada yang berbahaya dari si sirup ini. Padahal kalau memang dia berbahaya BPOM kan seharusnya sudah diuji. Kenapa bisa ada kandungan-kandungan lain yang berbahaya di dalam obat itu,” tanyanya pedih.
Nadira, Cyrene dan Umar adalah bagian dari 143 anak yang tewas akibat gagal ginjal akut di Indonesia. Kenapa begitu masif jumlahnya dan mengapa begitu terlambat mengantisipasinya?
***
Penyakit gagal ginjal akut awalnya disebut penyakit gagal ginjal akut misterius. Pasalnya, penyakit yang sudah menewaskan anak Indonesia sejak Januari 2022 itu penyebabnya masih belum diketahui.
Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, temuan pasien gagal ginjal akut mulai mengalami kenaikan pesat pada September 2022, yakni mencapai 78 orang dan pada Oktober 2022 menjadi 141 orang. Budi mengatakan sebagian besar pasien yang mengalami gagal ginjal berusia di bawah lima tahun.
Budi mengatakan pihaknya mulai mengamati kasus gagal ginjal ini sejak Agustus 2022. Saat itu pemerintah menduga kasus gagal ginjal akut pada anak melonjak akibat virus, bakteri, atau parasit. Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan gagal ginjal itu, kata Budi, adalah leptospira.
" September kita berkumpul, kita tes patologi dari anak anak yang terkena kasus ini untuk melihat apakah dia terkena virus atau bakteri atau parsit. Hasilnya itu kecil sekali disebabkan virus atau bakteri," ujar Budi.
Budi mengatakan hasil pengecekan terhadap semua pasien tidak ditemukan adanya bakteri itu. Kemenkes kemudian mengembangkan dugaan gagal ginjal akun anak karena terpapar Covid-19. Namun, setelah dicek, kurang dari satu persen pasien yang terpapar Covid-19.
" Kita baru agak terang saat WHO mengeluarkan surat edaran 5 Oktober, warning, terjadi kasus yang mirip di Gambia, penyebabnya adalah zat kimia yang ada di pelarut obat-obatan," ujar Budi.

(Menteri Kesehatan Budi G Sadikin/Liputan6)
Seperti diketahui, pada tanggal 5 Oktober 2022, WHO mengumumkan kematian hampir 70 anak di Gambia, disebabkan oleh obat sirup parasetamol yang diproduksi perusahaan farmasi India, Maiden Pharmaceuticals Limited.
Empat produk sirup parastemaol penurun demam dan batuk yang diidentifikasi dalam peringatan WHO tersebut adalah: Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup dan Magrip N Cold Syrup.
“ Analisis laboratorium dari sampel masing-masing dari empat produk mengkonfirmasi bahwa mereka mengandung jumlah yang tidak dapat diterima dari dietilen glikol dan etilena glikol sebagai kontaminan. Dietilen glikol dan etilen glikol beracun bagi manusia jika dikonsumsi dan bisa berakibat fatal,” kata WHO.

(Obat yang tercemar di Gambia/BBC)
Parahnya lagi, kontaminan tersebut tidak berbau dan tidak berwarna serta tidak tercantum pada kemasan masing-masing obat batuk. Hal ini membuat mereka tidak mungkin dideteksi, tanpa analisis laboratorium terperinci atau sampai efek toksik mulai terlihat.
Efek toksik dapat mencakup sakit perut, muntah, diare, ketidakmampuan untuk buang air kecil, sakit kepala, perubahan kondisi mental, dan gagal ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian.
Ironisnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia baru mengeluarkan aturan bahwa semua produk obat sirup yang beredar di Tanah Air tidak boleh mengandung dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG) pada tanggal 15 Oktober 2022. Atau baru 10 hari kemudian setelah peringatan WHO.
Aturan terbaru ini disampaikan BPOM guna mencegah kejadian tidak diinginkan berkaca dari kejadian 70 anak meninggal di Gambia yang diduga terkait obat batuk sirup mengandung dua komponen itu.
" Untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat, BPOM telah menetapkan persyaratan pada saat registrasi bahwa semua produk obat sirup untuk anak maupun dewasa, tidak diperbolehkan menggunakan dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG)," kata BPOM dalam pernyataan resmi yang diterima Liputan6.com pada Sabtu, 15 Oktober 2022.
BPOM sudah melakukan pengawasan baik pre dan postmarket pada obat yang beredar di Indonesia. Hasilnya empat produk produksi Maiden Pharmaceuticals Limited, India yang terkait dengan kematian 70 anak di Gambia tidak tidak terdaftar di Tanah Air.
" Keempat produk yang ditarik di Gambia tersebut tidak terdaftar di Indonesia dan hingga saat ini produk dari produsen Maiden Pharmaceutical Ltd, India tidak ada yang terdaftar di BPOM," kata BPOM.
Setelah 10 hari pengumuman WHO, BPOM baru mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG). Artinya selama ini zat itu tidak dilarang, Padahal bahan ini sudah dilarang oleh Food and Drugs Administration (FDA) Amerika sejak tahun 1938. Dan sudah ada tragedi puluhan anak Bangladesh yang tewas akibat sirup parasetamol bercampur dietilen glikol dan etilen glikol yang meletus tahun 2009 atau 13 tahun lalu.
Untunglah, Kementrian Kesehatan (Kemnkes) bertindak cepat dan mengambil langkah drastis. Pada tanggal 18 Oktober 2022, Kementerian Kesehatan menginstruksikan seluruh apotek agar tidak menjual obat bebas maupun obat bebas terbatas dalam bentuk cair atau sirup untuk sementara waktu.
Instruksi ini menyusul merebaknya kasus gangguan ginjal akut misterius atau gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang anak-anak, umumnya balita.
Instruksi itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) pada Anak.
" Seluruh apotek untuk sementara tidak menjual obat bebas dan/atau bebas terbatas dalam bentuk sirup kepada masyarakat sampai dilakukan pengumuman resmi dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," tulis instruksi tersebut.
Instruksi yang ditandatangani oleh Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Murti Utami itu juga meminta agar para tenaga kesehatan tidak meresepkan obat dalam belum cair untuk sementara waktu.
" Tenaga Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/sirup sampai dilakukan pengumuman resmi dari Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," sebutnya.
Sementara itu apabila sudah ditemukan gangguan ginjal akut pada anak, fasilitas pelayanan kesehatan atau fasyankes harus merujuk pasien tersebut ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis ginjal anak dan fasilitas hemodialisis (cuci darah) anak.
Rujukan perlu dilakukan bila fasyankes tidak memiliki fasilitas ruangan intensif berupa High Care Unit (HCU) dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Di sisi lain, fasyankes bersama dinas kesehatan (Dinkes) setempat perlu memberikan edukasi agar orang tua lebih waspada, utamanya jika memiliki anak dengan usia di bawah 6 tahun yang memiliki gejala gangguan ginjal.
Gejala yang perlu diwaspadai adalah penurunan volume atau frekuensi urin maupun tidak ada urin, dengan atau tanpa demam/gejala prodromal lain. Jika ditemukan gejala tersebut, segera menuju ke klinik, rumah sakit, maupun fasilitas kesehatan lain terdekat.
Pada hari yang sama, Kementrian Kesehatan juga melakukan penyelidikan epidemiologi dan farmakologi dengan mengambil seluruh sampel dan obat-obat pasien gagal ginjal akut yang meninggal dunia untuk diperiksa lebih lanjut
Di saat yang sama, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orangtua untuk tidak memberikan obat sirup parasetamol sementara waktu mengingat munculnya kasus gangguan ginjal misterius pada anak.
***
Dua hari setelah pelarangan apotek menjual obat sirup, Kementerian Kesehatan menemukan tiga zat kimia berbahaya yang terdeteksi pada pasien balita penderita gangguan ginjal akut misterius.
Tiga zat kimia berbahaya tersebut, yaitu etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE).
" Kemenkes sudah meneliti bahwa pasien balita yang terkena AKI (accute kidney Injury) terdeteksi memiliki 3 zat kimia berbahaya," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam pernyataannya, Kamis 20 Oktober 2022.
Budi mengungkapkan, ketiga zat kimia ini adalah impurities (ketidakmurnian) dari zat kimia tidak berbahaya, polyethylene glycol.
Polyethylene glycol sendiri adalah zat yang sering dipakai sebagai solubility enhancer atau pelarut di banyak obat-obatan jenis sirup. Namun harga bahan itu cukup mahal. Maka, tak jarang perusahan farmasi nakal menggantinya dengan etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG) yang harganya lebih murah seperti yang terjadi di Bangladesh 13 tahun lalu.
Namun, kata Budi, obat-obat jenis sirup yang digunakan oleh pasien terserang AKI mengandung tiga zat kimia berbahaya tersebut. Obat-obat dengan zat berbahaya itu didapatkan dari rumah pasien anak yang meinggal dunia akibat gagal ginjal akut.
" Beberapa jenis obat sirup yang digunakan oleh pasien balita yang terkena AKI, terbukti memiliki EG, DEG, EGBE, yang seharusnya tidak ada di obat-obatan sirup," ucap Budi.
Oleh karena itu, kata dia, Kemenkes mengambil langkah konservatif untuk sementara: melarang penggunaan obat-obat sirup. Larangan ini diberlakukan sambil menunggu otoritas obat atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memfinalisasi hasil penelitian kuantitatif mereka.
" Kemenkes mengambil posisi konservatif dengan sementara melarang penggunaan obat-obatan sirup, mengingat balita yang teridentifikasi AKI sudah mencapai 70-an (penderita) per bulan," tutur Budi. " Realitasnya pasti lebih banyak dari ini, dengan fatality rate atau kematian mendekati 50 persen," ujar dia.
Pada saat itu Kemenkes mencatat jumlah penderita gangguan ginjal akut misterius mencapai 206 kasus yang tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Sebanyak 99 di antaranya meninggal dunia. Mayoritas pasien yang meninggal adalah pasien yang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Angka kematian pasien yang dirawat di RSCM mencapai 65 persen.
Pada hari yang sama. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan menemukan lima produk obat yang mengandung cemaran etilen glikol melebihi ambang batas yang sudah ditentukan.
Sirup obat yang diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) kemungkinan berasal dari 4 bahan tambahan yaitu propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/gliserol.
Sejatinya, keempat bahan tambahan itu bukan merupakan bahan yang berbahaya atau dilarang digunakan dalam pembuatan sirup obat. Namun, BPOM sudah menetapkan ambang batas aman atau Tolerable Daily Intake (TDI) untuk cemaran EG dan DEG sebesar 0,5 mg/kg berat badan per hari.
Sampling dilakukan BPOM terhadap 39 bets dari 26 sirup obat.
" Hasil sampling dan pengujian terhadap 39 bets dari 26 sirup obat sampai dengan 19 Oktober 2022, menunjukkan adanya kandungan cemaran EG yang melebihi ambang batas aman pada 5 produk," tulis BPOM dalam keterangan resmi.
Adapun sampling dilakukan berdasarkan beberapa kriteria. Pertama, obat-obat tersebut diduga digunakan pasien gagal ginjal akut sebelum dan selama berada di rumah sakit.
Lalu, diproduksi oleh produsen yang menggunakan 4 bahan baku pelarut propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/gliserol dengan jumlah volume yang besar.
Dan diproduksi oleh produsen yang memiliki rekam jejak kepatuhan minimal dalam pemenuhan aspek mutu.
Terhadap hasil uji 5 sirup obat dengan kandungan EG yang melebihi ambang batas aman, BPOM telah melakukan tindak lanjut dengan memerintahkan kepada industri farmasi pemilik izin edar untuk melakukan penarikan sirup obat dari peredaran di seluruh Indonesia dan pemusnahan untuk seluruh bets produk.
" Penarikan mencakup seluruh outlet antara lain Pedagang Besar Farmasi, Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, Toko Obat, dan praktik mandiri tenaga kesehatan," tandas BPOM.
Sedangkan lima obat yang ditemukan BPOM melebihi ambang batas cemaran etilen glikol adalah:.
Pertama, Termorex Sirup (obat demam), produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

(Termorex Sirup penurun demam produksi PT Konimex/Blibli)
Kedua, Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.

(Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT Yarindo Farmatama/Tokopedia)
Ketiga, Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml.

(Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries/Lazada)
Keempat, Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan Dus, Botol @ 60 ml.

( Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries/Shopee)
Kelima, Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan Dus, Botol @ 15 ml.

(Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries/PBR)
Tragedi Gambia agaknya memang terulang di Indonesia. Tapi dalam jumlah korban tewas yang lebih parah.
Sementara itu Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengatakan pihaknya juga melakukan analisa toksikologi terhadap 10 anak. Hasil pemeriksaan darah mengonfirmasi 7 dari 10 anak gagal ginjal akut positif mengandung etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) di atas ambang batas.
Untuk lebih memastikan temuan itu, Budi mengatakan pihaknya melakukan biopsi terhadap jasad anak yang meninggal karena gagal ginjal akut.
" Apakah ada ciri-ciri kerusakan ginjal yang disebabkan zat kimia ini. Kita cek, 100 persen memang terjadi kerusakan ginjal sesuai ciri-ciri yang disebabkan obat kimia ini," kata Budi.
Pihak Kementerian Kesehatan kemudian juga mendatangi rumah para pasien gagal ginjal akut dan mengambil obat-obatan yang dikonsumsi pasien. Hasilnya, sebagian besar obat itu mengandung senyawa EG, DEG, dan EGBE.
" Dari situ kita simpulkan penyebabnya adalah obat-obat kimia yang merupakan cemaran dari pelarut obat itu," ujar Budi.
***
Perkara gagal ginjal akut pada anak balita juga membuat Istana turun tangan.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi pun menggelar rapat Penanganan Gagal Ginjal Akut di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 24 Oktober 2022.
Pada kesempatan itu, Jokowi meminta semua jajarannya di pemerintahan untuk memberi perhatian bersama terhadap kasus ini. “ Yang pertama utamakan keselamatan masyarakat. Jangan menganggap ini masalah kecil. Ini masalah besar," kata Jokowi.
Presiden Jokowi mengatakan berdasarkan laporan yang diterimanya, penyebab kasus gagal ginjal akut disebabkan tingginya cemaran bahan pelarut di atas ambang batas, seperti masalah etilon glikol (EG) dan dietilen glikol atau DEG, dan lainnya.
" Dan kalau kita lihat data hingga 23 Oktober 2022 tercatat sudah 245 kasus di 26 provinsi," jelasnya.
Ia mengaku sudah menyampaikan kepada Menteri Kesehatan untuk menghentikan sementara terlebih dulu obat-obatan yang diduga berbahaya.

(Presiden Jokowi/Liputan6)
" Meskipun masih diduga, itu dihentikan terlebih dahulu, menunggu investigasi secara menyeluruh dari BPOM pada seluruh obat sirop yang menggunakan bahan pelarut, dan dilakukan secara terbuka, transparan tapi juga hati-hati dan obyektif," jelas dia.
Presiden Jokowi meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM menarik dan mengumumkan merek obat-obatan yang terbukti berbahaya atau mengandung bahan yang menjadi penyebab gagal ginjal akut.
" BPOM segera tarik dan hentikan peredaran obat sirop yang betul-betul secara evidence base terbukti mengandung bahan obat penyebab gangguan ginjal," kata Jokowi.
Ia menegaskan akan lebih bagus lagi jika diumumkan dan diinformasikan kepada publik secara luas, nama-nama produk obat yang terbukti mengandung bahan penyebab gangguan ginjal.
Dalam arahan di Istana Bogor itu, Presiden juga meminta agar rumah sakit membebaskan biaya bagi para penderita gangguan ginjal akut. Jokowi memerintahkan jajarannya memastikan soal fasilitas pengobatan gratis itu.
" Saya minta diberikan pengobatan gratis kepada pasien-pasien yang dirawat. Saya kira ini penting sekali," ujar Jokowi.
Presiden juga meminta agar pelayanan kesehatan serta pengadaan obat-obatan untuk masalah gagal ginjal akut ini disiapkan dengan baik.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara terpisah menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempercepat kedatangan pasokan fomepizol ke Indonesia. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan, tujuh di antara 10 pasien gagal ginjal akut kondisinya membaik setelah pengobatan dengan fomepizol.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) juga berencana akan mempidanakan dua perusahaan farmasi. Obat-obatan yang diproduksi dua perusahaan itu diduga mengandung etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) sangat tinggi.
" Dalam proses ini juga kami sudah mendapatkan dua industri farmasi yang akan kami tindak lanjuti menjadi pidana," kata Kepala BPOM, Penny K. Lukito, seusai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Bogor, Jawa Barat.
Penny mengungkapkan, kandungan EG dan DEG dalam obat yang diproduksi dua perusahaan itu sangat beracun. Dia mengatakan kandungan itu diduga bisa mengakibatkan gagal ginjal akut jika dikonsumsi.
" Karena ada indikasinya bahwa kandungan dari EG dan DEG di produknya itu tidak hanya dalam konsentrasi sebagai kontaminan tetapi sangat-sangat tinggi dan tentu saja sangat toxic dan itu bisa tepat diduga bisa mengakibatkan ginjal akut dalam hal ini," paparnya.

(Kepala BPOM Penny K Lukito/Liputan6)
Penny mengaku sudah menugaskan Deputi Bidang Penindakan BPOM untuk memeriksa dua industri farmasi tersebut. Pemeriksaan itu, lanjutnya, bekerja sama dengan kepolisian.
" Jadi Kedeputian IV, Deputi Bidang Penindakan dari Badan POM sudah kami tugaskan untuk masuk ke industri Farmasi tersebut bekerja sama dengan kepolisian dalam hal ini dan akan segera melakukan penyidikan untuk menuju pada pidana," tuturnya.
Penny enggan mengungkap nama dua perusahaan industri tersebut. Sebab, kata dia, proses hukum kasus ini masih akan berjalan. Polisi sendiri sudah membentuk tim untuk mengusut kejahatan ini.
Belakangan, Kepala BPOM Penny Lukito menyampaikan dua industri tersebut adalah PT Yarindo Farmatama yang memproduksi Flurin DMP Sirup dan PT Universal Pharmaceutical Industries sebagai produsen obat sirup bermerek Unibebi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mencabut sertifikat CPOB untuk fasilitas produksi dua industri farmasi yang memproduksi obat sirup yang mengandung bahan berhaya etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Sertifikat CPOB adalah dokumen bukti sah bahwa industri farmasi telah memenuhi persyaratan dalam membuat satu jenis obat.
Kepala BPOM Penny K. Lukito menjelaskan pencabutan itu dilakukan sesuai BPOM bersama Bareskrim Polri melakukan operasi bersama sejak Senin 24 Oktober 2022. Dua industri farmasi itu adalah PT Yarindo Farmatama yang beralamat di Jalan Modern Industri, Cikande, Serang, Banten; dan PT Universal Pharmaceutical Industry yang beralamat di Tanjung Mulia, Medan, Sumatera Utara.
“ Dua industri farmasi itu diduga menggunakan pelarut propilen glikol yang mengandung EG dan DEG di atas ambang batas,” ujar Penny dalam konferensi pers virtual pada Senin, 31 Oktober 2022.
“ Produk Flurin DMP Syrup terbukti menggunakan bahan baku Propilen Glikol yang mengandung EG sebesar 48 mg/ml dari syarat ambang batas kurang dari 0,1 mg/ml. Ini hampir 100 kalinya dari batas aman,” katanya.
Lalu ada produsen baru yang disebut Kepala BPOM yang juga mengandung EG dan DEG tinggi. Yakni PT Afi Farma Pharamaceutical Industry yang beralamat di Jl. Mauni No.8, Bangsal, Kec. Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur.

(Sirup parasetamol produksi PT Afi Farma/Toko SehatQ)
“ Update terbaru hasil perluasan sampling dan pengujian obat sirup yang mengandung cemaran EG (melebihi ambang batas). Kami temukan produk sirup obat parasetamol drop, paracetamol sirup, produksi PT Afi Farma,” ujar Penny.
Yang menjadi pertanyaan korban, termasuk almarhum Nadira, Cyrene dan Umar yang merupakan bagian dari 143 anak yang tewas akibat gagal ginjal akut di Indonesia, mengapa hanya dua perusahaan awal itu yang dipidana?
Bukankah pada pengumuman BPOM pertama, ada tiga perusahaan farmasi yang terbukti lalai? Yang menyebabkan kandungan etilen glikol dan dietilen glikol ada pada kandungan lima sirup parasetamol pembawa maut bagi anak Indonesia. Mungkin hanya rumput bergoyang yang bisa menjawab kejanggalan ini. Yang jelas, keadilan bagi balita yang menjadi korban masih jauh. (eha)
Sumber: BBC, Liputan6, Merdeka.
Advertisement