Pintu Perbatasan Di Distrik Sadao, Provinsi Songkhla (Foto: Bangkok Post Photo)
Dream - Thailand dan Malaysia akan membahas rencana untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan bersama mereka. Hal itu disampaikan para pejabat Thailand pada hari Kamis, sehari sebelum kunjungan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, di Bangkok.
Perdagangan manusia dan penyelundupan narkoba serta senjata adalah di antara kejahatan transnasional yang telah berkembang di sepanjang perbatasan Thailand-Malaysia yang berjarak 640 kilometer. Sampai sebuah penggerebekan yang dilakukan Thailand tahun lalu berhasil mengganggu rute perdagangan mereka.
Kunjungan Najib untuk bertemu dengan Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha untuk membahas kerja sama dalam bidang keamanan dan investasi.
Menurut seorang pejabat kementerian luar negeri Thailand, masalah tembok perbatasan merupakan salah satu agenda pertemuan tersebut.
" Masalah itu akan menjadi agenda selama kunjungan Najib, tapi bukan agenda utama," kata Chinawut Setawat, juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, kepada Reuters pada pertemuan regional di Vientiane.
" Tentang tembok perbatasan itu masih dalam tahap nota kesepahaman," tambah Kolonel Yutthanam Petchmuang, juru bicara Komando Operasi Keamanan Internal Thailand.
Kementerian luar negeri Malaysia tidak menanggapi permintaan dari Reuters untuk memberikan komentar.
Kunjungan Najib menyusul tiga serangan bom mematikan di Thailand selatan selama bulan lalu. Termasuk gelombang serangan bom di kota-kota wisata yang oleh polisi Thailand telah dikaitkan dengan separatis Muslim yang beroperasi di selatan negara itu.
Tembok perbatasan diharapkan bakal mengurangi masalah kriminal dan terorisme...
© Dream
Perbatasan Thailand-Malaysia juga menjadi situs untuk penyelundupan senjata, obat-obatan dan minyak ilegal.
Setelah mengambil alih kekuasaan dalam kudeta pada bulan Mei 2014, junta Thailand menjanjikan apa yang disebut kebijakan 'toleransi nol' terhadap perdagangan manusia. Pemerintah juga akan melancarkan tindakan keras kepada pelaku penyelundupan dan kejahatan narkoba.
Pada Januari 2004, separatis pemberontakan yang didalangi etnis Melayu muncul kembali di Thailand, setelah tenggelam selama beberapa dekade. Sejak itu, 6.500 orang telah tewas, kata Deep South Watch, sebuah badan yang memonitor kekerasan sektarian di Thailand.
Tiga provinsi paling selatan Thailand yakni Pattani, Yala, dan Narathiwat, dulunya bagian dari kesultanan Melayu Muslim yang merdeka hingga mereka dikuasai oleh Thailand pada tahun 1909.
Dua masalah khusus telah mendorong kepentingan Malaysia dan Thailand dalam membangun tembok perbatasan, kata Srisompop Jitpiromsri, direktur Deep South Watch.
" Yang pertama adalah untuk menghentikan aliran barang ilegal, apakah itu bensin, obat-obatan atau perdagangan manusia," katanya kepada Reuters.
" Alasan ke dua adalah bahwa gerilyawan yang beroperasi di Thailand secara teratur melintasi perbatasan dan menggunakan Malaysia sebagai basis keselamatan."
Namun masih belum jelas seberapa efektif tembok di perbatasan kedua negara itu akan mengurangi masalah kriminal dan terorisme.
" Masih banyak masalah logistik yang perlu diatasi sebelum membangun tembok pemisah," kata Srisompop. " Itu adalah wilayah yang sangat panjang."
(Sumber: bangkokpost.com)