Penembakan Gas Air Mata Ke Tribun Penonton Oleh Aparat Di Stadion Kanjuruhan (merdeka)
Dream – Ada yang tak biasa di barisan tribun penonton saat Bayern Munchen menghadapi klub asal Republik Ceko, Viktoria Plzen, di ajang Liga Champions, Selasa 4 Oktober 2022 yang disiarkan tengah malam itu.
Bayern Munchen di pertandingan itu memang tak tertahan. Mereka menang telak 5-0 atas Plzen pada matchday ketiga Liga Champions yang berlangsung di Stadion Allianz Arena, Jerman.
Namun yang menjadi sorotan pada pertandingan adalah sebuah spanduk besar yang dibentangkan penonton di stadion Allianz malam itu. Fans Munchen mengusung spanduk yang mengkritik polisi Indonesia setelah terjadinya tragedi Kanjuruhan.
Seperti foto yang beredar luas di media sosial, fans Bayern Munchen membentangkan spanduk besar berisi kritik keras kepada polisi Indonesia.
" Lebih dari 100 orang dibunuh polisi. Ingatlah mereka yang meninggal di Kanjuruhan," begitu bunyi spanduk yang terbentang diantara padat dan riuhnya penonton di Allianz Arena malam itu.

(Spanduk protes ke polisi Indonesia atas tragedi Kanjuruhan di Alianz Arena Stadium/Liputan6)
Pertandingan itu digelar tiga hari setelah tragedi Kanjuruhan yang memakan korban 132 orang tewas, 96 orang luka berat, 484 orang luka sedang maupun ringan.. Tragedi yang terjadi si Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, itu memang langsung membetot perhatian dunia.
Entah sadar tengah menjadi sorotan dunia, ada foto viral lain yang muncul enam hari kemudian setelah spanduk di pertandingan Bayen Muenchen itu.
Foto itu menunjukkan Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto bersama anggota polisi lainnya tiba-tiba bersimpuh dan bersujud massal untuk meminta maaf pada para korban tragedi Kanjuruhan. Sujud massal dilakukan saat kegiatan apel pagi di halaman Mapolresta Malang Kota pada Senin pagi 10 Oktober 2022.
Sebelumnya, Budi Hermanto dengan didampingi oleh jajaran pejabat Polresta Malang Kota, melaksanakan doa bersama terlebih dahulu.
Budi mengatakan, aksi bersimpuh dan bersujud dilakukan untuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sujud massal juga menggambarkan permohonan maaf yang terdalam kepada korban dan keluarganya, serta seluruh Aremania dan Aremanita atas tragedi di Stadion Kanjuruhan.
" Kita berdoa agar saudara-saudari kita, Aremania dan Aremanita korban tragedi Kanjuruhan bisa diterima di sisinya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kita bersama-sama memohon ampun kepada Allah SWT agar peristiwa itu tidak terjadi lagi," kata Budi.

(Kapolera Malang dan bawahannya sujud minta maaf ke korban tgragedi Kanjuruhan/Liputan6)
Selain itu, Polresta Malang Kota juga memberikan semangat dan bantuan kepada korban tragedi di Stadion Kanjuruhan. Salah satunya, korban yang ada di Jalan Bareng Raya 2G, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang yakni seorang bocah bernama Muhammad Alfiansyah, 11 tahun.
Alfiansyah harus menjadi yatim dan piatu karena kedua orangtuanya meninggal dalam tragedi Kanjuruhan. Saat Budi menyambangi langsung kediaman Alfian, ia memastikan bahwa bocah tersebut diangkat sebagai anak asuh Polresta Malang Kota. Mulai dari biaya sekolah hingga kesehatannya akan ditanggung untuk mencapai cita-citanya.
" Kita berempati dan sebagai keluarga besar Arema Police, dengan kedekatan historis yang cukup panjang dan erat. Merasa belasungkawa atas peristiwa tersebut," kata Budi.
Dia juga berharap agar situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Malang bisa kembali kondusif. " Kami juga berharap agar situasi kembali kondusif dan persoalan tragedi Kanjuruhan segera terselesaikan," pungkasnya.
Tragedi Kanjuruhan memang telah mengharubiru bangsa Indonesia dan mengejutkan dunia. Ini adalah tragedi sepakbola kedua terburuk di dunia dalam sejrah, setelah peristiwa Stadion Nasional Lima saat polisi menembakkan gas air mata pada 24 Mei 1964 yang menyebabkan 328 penonton tewas.
Padahal, penggunaan gas air mata sudah dilarang oleh FIFA dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations pasal 19 b. Di pasal ini dinyatakan: " No fire arms or crowd control gas shall be carried or used (Tidak boleh membawa atau menggunakan senjata api atau gas air mata)”.
Pasal 19 sendiri membahas tentang aturan petugas lapangan dan polisi dalam menjaga ketertiban di stadion saat pertandingan.
Lalu, bagaimana sesungguhnya peristiwa tragedi Kanjuruhan bisa terjadi?
***
Tiga hari setelah tragedi Kanjuruhan, kantor berita BBC mencoba memetakan peristiwa di Stadion Kanjuruhan dengan mewawancarai sejumlah saksi mata langsung yang menceritakan menit-menit mematikan Sabtu 1 Oktober 2022 itu dari beragam posisi para penonton.
Mereka adalah Andika Bimantara, 21 tahun, dan Muhamad Dipo Maulana, 21 tahun, yang berada di tribun VIP.
Lalu, Fahryanto Bagustuza, 21 tahun, di tribun 7-8. Lantas Risma Eko Widianto, 18 tahun, berada di tribun 12 dan Chandra Dirawan, 19 tahun, di tribun 14.
Mereka semua menonton dari sudut tribun berbeda.
Mereka semua menceritakan, pada awalnya situasi stadion saat itu dibanjiri pendukung lautan biru, warna kebanggaan tim Arema Malang. Tidak ada pendukung tim lawan Persebaya yang diizinkan menonton karena alasan keamanan.
Tepat pukul 20:00 WIB, pertandingan Arema Malang lawan Persebaya di mulai.
Andika dan Dipo menyaksikan dari tribun VIP.
Sementara Fahryanto seorang diri di tribun 7-8, Eko di tribun 12 dan Chandra di tribun 14.
Mereka mengatakan laga pertama berlangsung panas. Masing-masing tim saling menjebol gawang lawan dan tercipta skor dua sama.
Tapi panasnya laga tidak menimbulkan aksi kekerasan di kursi penonton, yang terdengar hanyalah kata-kata " kasar" dan kekecewaan yang terucap.
Ketika turun minum, kata Chandra, di tribun 13 -di sebelah tempat dia menonton- beberapa penonton berkelahi dan langsung diamankan aparat keamanan.
Fahryanto juga melihat insiden di tribun 13 itu. Dari tribun 7-8, dia melihat beberapa orang mengejar yang lain.
Selebihnya, menurut mereka tidak ada insiden besar, hanya nyanyian dan yel-yel dukungan yang bersahut-sahutan.
Babak kedua dimulai, situasi pertandingan mulai memanas.
Babak kedua pun dimulai. Kedua tim bergantian saling menyerang. Namun pada menit 51, Persebaya malah yang mencetak gol.
Dalam situasi tertinggal 3-2 oleh Persebaya, Eko yang menonton dari tribun 12 menceritakan, para penonton terlihat mulai memanas.
Terdengar ucapan-ucapan kasar yang ditujukan kepada baik pemain Arema maupun Persebaya.
Situasi yang sama juga digambarkan oleh narasumber yang lain, hingga akhirnya memasuki 10 menit akhir pertandingan.
Menurut pengamatan Chandra, beberapa penonton mulai melemparkan plastik berisi air ke lapangan. Alasannya karena beberapa pemain Persebaya, menurutnya, terlihat mengulur-ulur waktu.
Dari tribun Fahryanto, terlihat beberapa penonton juga mulai melempari nasi bungkus dan kantong plastik air.
Arema pun semakin tampil menyerang, namun selama 90 menit plus tujuh menit waktu tambahan, tidak ada gol tambahan yang disarangkan.
Pertandingan pun diakhiri dengan kemenangan Persebaya 3-2.
Usai peluit panjang, tanda akhir pertandingan dibunyikan, polisi segera mengawal pemain Persebaya untuk masuk ke ruang ganti.
Sementara di lapangan, terlihat pemain Arema tertunduk lesu. Lalu mereka, mendatangi tribun penonton untuk menyampaikan permintaan maaf.
Kejadian itu berlangsung sekitar 10-15 menit. Belum ada satu pun penonton yang turun ke lapangan.
Situasi tersebut disebut cukup hening karena penonton masih belum menerima kekalahan.
Lalu, seorang pemain Arema menuju depan tribun 7-8, menurut kesaksian Fahryanto. Terlihat satu orang penonton, yang diikuti tiga di belakangnya, turun ke lapangan dari tribun 9 dan 10.
" Penonton menghampiri pemain Arema, terlihat menunjuk ke pemain, seperti meluapkan kekecewaanya. Lalu ia dirangkul pemain itu. Tapi polisi datang, menghalau penonton, dan melakukan tindakan represif, ditarik bajunya, dipukul hingga jatuh," kata Fahryanto.
Tiga teman di belakangnya mencoba menolong, namun kembali mendapatkan hantaman keras dari polisi.
" Satu tergeletak, tiga di belakangnya dipukul polisi dan melawan," kata Fahryanto.
Andika dari tribun VIP juga melihat kejadian tersebut.
Menurutnya, satu atau dua orang penonton mendatangi pemain Arema namun dipukul mundur oleh aparat keamanan.
" Mereka dipukul tongkat sampai jatuh tergeletak, namun bisa bangkit lalu kabur," kata Andika.
Melihat tindakan pemukulan polisi itu, ratusan penonton dari segala penjuru tribun, disebut melompat pagar pembatas tribun dan turun ke lapangan meski harus melewati pagar pembatas setinggi sekitar enam meter.

(Penonton menyerbu lapangan/Merdeka)
Fahryanto melihat, kumpulan penonton yang turun pertama kali berasal dari tribun 12. Lalu serentak diikuti oleh ratusan orang dari tribun lain.
" Di lapangan mereka membentangkan poster, bentrok dengan polisi, menolong rekan penonton lain yang terluka," kata Fahryanto.
Sementara Dipo melihat, ratusan penonton yang turun pertama kali berasal dari tribun 7-8 yang berbarengan dari tribun 10 hingga 12.
Dari tribun 12 sendiri, Eko mengatakan hal yang sama.
Menurutnya, terdapat seorang penonton yang memberikan aba-aba mengajak para penonton untuk turun ke lapangan. Serentak, Eko melihat, banyak penonton bergegas turun ke lapangan.
Dari sisi VIP, Andika mengatakan, setelah ratusan penonton turun ke lapangan. Polisi bergerak mundur perlahan ke depan wilayah VIP.
Polisi pun mengeluarkan anjing pelacak untuk memukul mundur para penonton.
Setelah terpukul mundur, menurut keterangan Chandra, Fahryanto dan Dipo, polisi untuk pertama kali menembakan gas air mata ke area lapangan.

(Tembakan gas air mata dimulai oleh polisi/Merdeka)
" Ada sekitar empat tembakan ke lapangan," kata Dipo.
" Setelah tembakan, beberapa massa mundur, namun ada yang terus melawan," kata Fahryanto.
Andika melihat, beberapa tembakan gas air mata di lapangan dilempar kembali ke arah polisi oleh beberapa penonton yang turun di lapangan.
Selang beberapa menit kemudian, Andika, Eko, Chandra, Fahryanto, dan Dipo satu suara menyatakan, dari sisi depan VIP, polisi menembakan gas air mata ke tribun 12.
" Untuk pertama kali, polisi menembak ke arah tribun 12, di gawang selatan," kata Andika.
" Arah tembakan dari sebelah VIP kanan dekat tribun 14 ke arah tribun 12. Lalu aparat juga terlihat melempar sesuatu, tapi tidak tahu apa. Di tribun 12 itu tidak kelihatan lagi orang, semua asap putih, hanya samar dan bayangan saja," kata Fahryanto.
Eko mengatakan," jelas sekali saya lihat, polisi dari depan VIP menodong pistol (gas air mata) ke arah gawang selatan, sekitar tribun 11 hingga 13, ada tiga tembakan," katanya.
" Pelurunya (gas air mata) turun di depan kaki saya, seperti karet," kata Eko.
Senada, Chandra juga mengungkapkan hal yang sama di tempatnya, tribun 14. " Gas air mata ditembak ke arah tribun 10 hingga 14. Di sini seperti lautan awan, putih semua. Di depan saya gas air mata, saya lempar balik ke lapangan pakai jas hujan," katanya.
Setelah itu, beberapa polisi juga mengeluarkan tembakan gas air mata ke arah tribun empat dan sisi lainnya, kata Fahryanto yang menyebabkan hampir seluruh tribun terkena dampak gas air mata.
Lautan asap gas air mata di tribun 14, kata Chandra, menyebabkan ribuan orang di sana langsung panik, dan berdesakan untuk keluar dari stadion.
" Anak kecil menangis, perempuan pingsan, jeritan di mana-mana, semua berbondong-bondong keluar, tapi pintu 13 ditutup, pintu 14 dibuka, cuma satu pintu," kata Chandra.

(Pintu 13 Stadion Kanjuruhan/Liputan6)
Ia pun mencoba untuk keluar melewati pintu 13, namun ditutup.
" Di kamar mandi pintu 13 yang ditutup, saya lihat dua orang laki-laki tergeletak tidak bernyawa, mungkin kekurangan oksigen, berdesak-desakan dan juga gas air mata," kata Chandra.
Lalu ia ke pintu 14, tapi penonton lain juga berdesakan mencoba untuk keluar.
" Saya lihat ibu-ibu gendong anaknya balita sambil berteriak. Keluar air dari hidung dan mata. Sedih sekali."
Chandra pun memutuskan untuk melompat ke dalam lapangan. Kemudian dia berlari ke arah pintu lapangan yang terbuka.
Sementara Eko dari tribun 12 mengalami hal yang sama. Dia tidak bisa keluar dari pintu 12, 13 dan 14 karena banyak orang berdesakan mencoba untuk melarikan diri.
" Teriakannya, tolong-tolong, arek wedok (anak perempuan), arek cilik (anak kecil)," kata Eko.
" Saat saya turun ke pintu. Semua pada berdesakan. Akhirnya saya kembali ke atas tribun bersama teman. Lalu menggunakan syal mengibas-ibas asap. Setelah itu saya loncat ke dalam lapangan dan turun lewat pintu samping lapangan," katanya.
Fahryanto dari tribun 7-8 juga merasakan dampak gas air mata yang ditembakan ke tribun 4 di sebelahnya.
" Gas air mata mengalir ke tempat kami dan menyebabkan penonton di tribun saya panik teriak," kata Fahryanto.
Dalam kepungan gas air mata, Fahryanto mengambarkan situasinya.
" Seorang ibu pingsan sambil memeluk anaknya, di sebelahnya anak laki-laki pingsan. Lalu beberapa supporter menggendong ibu dan anak-anak itu untuk keluar. Mereka tidak sadar saat digendong, itu karena gas air mata," katanya.
" Lalu saya juga mendengar orang tua mencari anaknya, di mana anakku - di mana anakku. Panik semua. Lalu di kamar mandi, tiga sampai lima orang remaja tergeletak. Saya trauma membayangkan itu," kata Fahryanto.
Fahryanto bisa keluar dari stadion setelah melewati pintu 5-6 walau harus antri selama 30 menit di tengah kepungan gas air mata.
Sementara itu di lorong VIP, kata Dipo, puluhan orang yang pingsan, tergeletak kelelahan, sesak nafas dan ada yang terluka.
Lalu Andika yang juga di VIP mengatakan," kejadian terus teringat, anak kecil nangis, anak kecil cari mama papanya, bapak ibu cari anak di mana, mereka pada lari ke VIP terus bilang anakku hilang. Mereka cari di VIP soalnya di sini tempat penampungan korban. Masih terngiang suara minta tolong sampai sekarang," katanya.
Situasi mencekam berlangsung hingga di luar stadion. Terjadi insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat keamanan dan tindakan saling pukul antara kedua pihak.
BBC menanyakan satu pertanyaan yang sama ke semua saksi mata itu, apa yang menjadi pemicu kepanikan penonton yang menyebabkan desak-desakan hingga menimbulkan korban jiwa 132 orang?
Andika, Eko, Chandra, Fahryanto, dan Dipo satu suara, penyebabnya adalah tembakan gas air mata polisi ke tribun.
Eko mengatakan," kalau chaos itu karena gas air mata penyebabnya. Konflik polisi dan suporter itu wajar, tapi gas air mata yang tidak wajar. Semoga ini bisa diusut tuntas, kasihan keluarga korban yang ditinggalkan."

(Gas aire mata ditembakkan ke tribun penonton/Merdeka)
Chandra mengatakan," gas air mata pemicu utamanya. Kenapa harus ditembak ke tribun yang tidak bersalah. Gara-gara itu korban jiwa berjatuhan."
Fahryanto menambahkan," jelas pemicunya pas ditembak gas air mata ke tribun. “ Ada ibu-ibu, anak-anak, termasuk orang dewasa, mau keluar tidak bisa, pintu ada yang ditutup, dan yang dibuka pintunya kecil berdesak-desakan," katanya.
Andhika mengatakan, " gara-gara gas air mata semua jadi kacau, banyak korban diinjak-injak, sesak nafas. Ini harus diusut tuntas, menurut saya yang bertanggung jawab polisi," ujarnya.
Dipo mengatakan, " orang yang di tribun tidak ikut rusuh, anarkis, kenapa tembakan gas air mata menuju ke situ? Kenapa tidak mengusir yang di lapangan saja?"
***
Nasi sudah jadi bubur. Tembakan gas air mata dilepaskan polisi ke tribun penonton. Penonton yang tidak rusuh, banyak di antaranya wanita dan anak-anak, jadi panik. Mereka pun berhamburan untuk keluar arena pertandingan. Sialnya tidak semua pintu terbuka. Kalaupun ada pintu yang terbuka kecil sekali.
Akibatnya terjadi desak-mendesak. Dan ratusan korban meninggal dunia. Bangsa Indonesia shok. Dunia pun terkejut.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi langsung menyempatkan diri menjenguk korban tragedi Kanjuruhan Malang yang dirawat di RS Saiful Anwar Malang pada Rabu siang 5 Oktober 2022.
Dalam kunjungannya, Jokowi menegaskan pemerintah akan menanggung seluruh biaya perawatan korban serta mendorong pengusutan kasus sampai tuntas.

(Presiden Jokowi saat mengunjungi kobrna selamat Tragedi Kanjuruhan/Liputan6)
Dia tiba di RS Saiful Anwar Malang pada Rabu 5 Oktober 2022, sekitar pukul 13.00 WIB. Hampir selama 45 menit menemui korban, Jokowi memastikan mereka mendapat pelayanan dengan baik sekaligus memberikan santunan kepada para korban tragedi Stadion Kanjuruhan Malang.
" Saya ingin memastikan bahwa pasien yang dirawat di RSSA mendapatkan pelayanan paling baik. Tadi saya juga berbincang dengan satu sampai empat pasien untuk mengetahui kurang lebih situasi di malam pertandingan itu," ujar Jokowi.
Tak hanya itu, Jokowi meminta agar tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang harus diusut tuntas, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dia menegaskan pihak yang terbukti bersalah dalam tragedi ini harus diberi sanksi dan dipidanakan.
" Ya, kenapa dibentuk tim pencari fakta independen karena ingin kita usut tuntas, tidak ada yang ditutup-tutupi, yang salah juga diberikan sanksi, kalau masuk pidana juga sama," kata Jokowi.
Jokowi juga sudah membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruan yang dipimpin Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD. Jokowi berharap kerja tim independen ini akan kelar segera, kurang dari sebulan
Yang menarik, pada hari jadi TNI itu, pada pagi harinya beredar video Jokowi tak menyalami Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Istana Negara. Video itu viral di media sosial. Jokowi awalnya menyalami Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Namun setelah itu Jokowi tak menyalami Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang berada di sebelah Andika.
Jokowi malah langsung bergerak menyalami KSAD Jenderal Dudung Abdurachman dan istri. Selanjutnya Jokowi menyalami KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo dan KSAL Laksamana Yudo Margono.
Video yang beredar di media sosial itu merupakan potongan dari video yang diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden. Momen Jokowi tak menyalami Kapolri itu terjadi setelah acara defile pasukan dan pawai alutsista di panggung depan Istana Merdeka pada hari peringatan Hari TNI tanggal 5 Oktober 2022.
Mungkin paham dengan gestur Jokowi yang tak biasanya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Pranomo pun langsung bergerak cepat. Esok malamnya Kapolri langsung menetapkan enam orang tersangka tragedi Kanjuruhan.
Dalam jumpa pers di Malang, Rabu malam 6 Oktober 2022, Kapolri Listyo Sigit Prabowo langsung menetapkan enam tersangka. Namun ke depannya, menurutnya bisa jadi ada kemungkinan penambahan tersangka baru terkait investigasi yang terus dilakukan.
Dalam penjabarannya, terdapat lima poin penting terkait tragedi Kanjuruhan yang jadi tragedi paling kelam di sepakbola Indonesia dan dunia. Kelimanya adalah jam main, overcapacity, verifikasi stadion, penembakan gas air mata, dan steward.
Untuk jam main, Listyo Sigit menyebut kalau pihak kepolisian sudah meminta waktu pertandingan mundur lebih 'awal' dari pukul 20.00 WIB ke pukul 15.30 WIB pada 26 September. Namun itu ditolak oleh PT LIB (Liga Indonesia Baru) selaku operator Liga 1.
" Permintaan tersebut ditolak oleh PT LIB dengan alasan apabila waktunya digeser tentunya ada pertimbangan-pertimbangan dengan masalah penayangan langsung," jelasnya.
" Persiapan melakukan pengamanan juga menambah jumlah semula 1.073 personil jadi 2.034 personil dan disepakati bahwa khusus untuk suporter yang hadir hanya dari suporter Aremania," lanjutnya.
Untuk overcapacity, Listyo Sigit menyebut ada kelalaian dari pihak panitia pelaksana atau panpel. Tiketnya dijual lebih banyak dari yang seharusnya.
" Kemudian mengabaikan permintaan dari pihak keamanan dengan kondisi dan kapasitas stadion yang ada, terjadi penjualan tiket overcapacity. Dari 38 ribu dijual 42 ribu tiket," terangnya.
Masalah verifikasi Stadion Kanjuruhan juga disoroti tajam. Usut punya usut, ternyata verifikasi Stadion Kanjuruhan masih memakai verifikasi di tahun 2020.
" Verifikasi menggunakan hasil yang dikeluarkan pada tahun 2020 dan belum ada perbaikan terhadap catatan hasil verivikasi tersebut," terangnya.

(Kapolri Jendreal Listyio Sigit Prabowo saat juma pers di Malang/Liputan6)
Soal ditembakkannya gas air mata pada saat tragedi Kanjuruhan, Listyo Sigit menyebut pihak kepolisian yang berjaga di lapangan seharusnya tahu tentang larangan penggunaan gas air mata. Akan tetapi, mereka tidak mengindahkannya.
" Personil yang tembakkan gas air mata di stadion berjumlah 11 personil," terangnya.
Terakhir soal steward yang dinilai Listyo Sigit tidak bekerja dengan semestinya. Steward yang berjaga di pintu-pintu stadion tidak ada di tempat ketika para suporter mau berusaha keluar.
" Seharusnya lima menit sebelum pertandingan berakhir, pintu seharusnya dibuka. Namun saat itu pintu tidak dibuka sepenuhnya dan steward tidak berada di tempat.
" Berdasarkan pasal 21 Regulasi Keselamatan dan Keamanan PSSI bahwa steward harusnya berada di tempat selama penonton belum meninggalkan stadion," ujar Listyo Sigit.
Keenam tersangka itu adalah Direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ahmad Hadian Lukita, Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris, Security Officer Arema FC Suko Sutrisno, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Danki 3 Yon Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan, dan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi.
Salah satu yang ditetapkan tersangka adalah Kabag Ops Polres Malang Wahyu Setyo Pranoto. Wahyu disebut mengetahui terkait adanya aturan FIFA tentang penggunaan gas air mata tapi tidak mencegah atau melarang pemakaian gas air mata.
Selain itu, Danki 3 Yon Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan juga menjadi tersangka. Dia memerintahkan anggotanya menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan.
" Kemudian Saudara H Brimob Polda yang bersangkutan memerintahkan anggotanya untuk melakukan penembakan gas air mata," ujar Kapolri dalam jumpa pers.
Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi juga menjadi tersangka. Dia juga memerintahkan anggotanya menembakkan gas air mata.
" Kasat Samapta Polres Malang pidana pasal 359, pasal 360 memerintahkan anggotanya untuk melakukan penembakan gas air mata," ujar Kapolri.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga menyatakan, ada 20 anggota polisi yang diduga melakukan pelanggaran dalam tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
" Kita telah memeriksa 31 orang personel, ditemukan bukti yang cukup terhadap 20 orang terduga pelanggar," tutur Kapolri Listyo di Malang.
Adapun 20 polisi pelanggar tersebut adalah pejabat utama Polres Malang empat personel yaitu AKBP FH, Kompol WS, AKP BS, dan Iptu BS. Kemudian perwira pengawas dan pengendali dua orang AKBP AW dan AKP D.
Selanjutnya polisi atasan yang memerintahkan penembakan gas air mata tiga orang yaitu AKP H, AKP US, dan Aiptu BP. Sementara sisanya personel yang menembakkan gas air mata sebanyak 11 orang.
" Kemudian terkait dengan temuan tersebut tentunya setelah ini akan segera dilaksanakan proses untuk pertanggungjawaban etik, namun tidak menutup kemungkinan jumlah ini bertambah," kata Listyo.
Komnas HAM juga menegaskan gas air mata adalah pemicu utama tragedi Kanjuruhan. Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan juga memastikan kematian massal penonton di Stadion Kanjuruhan akibat tembakan gas air mata polisi di dalam stadion.
Yang jelas, dari kesaksian para saksi mata di lapangan, mereka semua sepakat penyebab petaka itu berawal adalah gas air mata. Dan sejarah juga membuktikan penggunaan gas air mata di Stadion Nasional Lima Peru juga telah menyebabkan 328 orang tewas dan 500 orang luka berat. Maka, tak berlebihan jika harus ada yang bertanggungjawab atas kelalaian yang menyebabkan kematian massal ratusan orang ini. Tak bisa tidak. (eha)
Sumber: Liputan6, Merdeka, BBC