Tragedi Kanjuruhan, Kisah Para Korban

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 17 Oktober 2022 20:37
Tragedi Kanjuruhan, Kisah Para Korban
Dari korban termuda sampai anak yang mendadak jadi yatim piatu.

Dream – Ada yang berbeda dengan M Virdi Prayoga, 3 tahun. Hari itu, Sabtu pagi, 1 Oktober 2022, dia meminta ibunya memotong rambutnya. Ia begitu bersemangat karena malamnya dia dan kedua orang tuanya akan menonton pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Prayoga pagi itu begitu gembira. Sebab, selama ini warga Jalan Sumpil Gang 2, Blimbing, Kota Malang ini lebih banyak menyaksikan pertandingan Arema FC melalui televisi karena pandemi. Sebelum bertolak ke Kanjuruhan, Prayoga masih sempat mengubah penampilan.

Pada pagi hari, dia meminta ibunya, Elimiati,  memotong rambutnya agar terlihat lebih rapi. Ia lalu berangkat bersama ibunya dan ayahnya, Rudi Harianto ke Stadion Kanjuruhan. Sementara kakak perempuannya, Caynanda Billa yang berusia 14 tahun, memutuskan tinggal di rumah.

Niat menonton pertandingan pun sudah mereka rancang sejak jauh-jauh hari. Kebetulan, Prayoga, kata Elimiati memang suka Arema seperti ayahnya. " Biasanya ya nonton bareng di televisi. Saya mengajak menonton untuk menyenangkan anak karena selama ini jarang main akibat pandemi,” kata Elimiati.

Namun itu adalah pagi terakhir bagi Prayoga. Tragedi Kanjuruhan pada malam harinya telah mengakhiri keceriaan masa mudanya. Bocah warga Blimbing, Kota Malang itu tidak pernah pulang dalam keadaan hidup setelah menyaksikan tim kesayangannya Arema FC bertanding melawan musuh bebuyutan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan.

Prayoga ikut tewas dalam kericuhan yang meletus usai pertandingan. Dia meninggal dunia bersama ayahnya, Rudi Harianto saat berusaha keluar dari pintu tribun 13 yang penuh sesak oleh gas air mata.

Menurut data terakhir, Prayoga tercatat sebagai korban termuda tragedi Kanjuruhan.

Selama pertandingan berlangsung, sebenarnya awalnya tidak ada masalah berarti apapun di dalam stadion. Elimiati bersama suami dan anaknya saat di tribun juga sempat berfoto bersama.  " Ternyata itu foto kebersamaan kami untuk terakhir kalinya,” kata Elimiati lirih menahan tangis.

Elimiati menunjukkan foto bersama suami dan akanya di Stadion Kanjuruhan

(Elimiati menunjukkan foto bersama suami dan akanya di Stadion Kanjuruhan/Liputan6)

Petaka muncul begitu wasit meniup peluit panjang tanda akhir permainan. Begitu terjadi kekacauan, seiring banyak suporter masuk lapangan, aparat keamanan melepas tembakan gas air mata ke sejumlah titik termasuk sektor 13.

“ Suami saya langsung mengajak pulang, ternyata pintu sektor 13 hanya terbuka sedikit. Hanya cukup untuk dilewati dua orang saja,” tuturnya.

Akses keluar yang sulit ditambah kepulan asap gas air mata di tribun Stadion Kanjuruhan membuat penonton berebut keluar menyelamatkan diri. Saling desak dan dorong agar bisa segera keluar tak terelakkan. Elimiati berjalan bersama putranya, sedangkan suaminya berjalan di depannya.

" Posisi awal seperti itu, tapi kami lalu terpisah. Saya tak tahu suami saya sudah bisa keluar atau tidak. Anak saya juga entah di mana,” katanya.

Hampir 30 menit dalam kondisi kacau itu, Elimiati diselamatkan suporter lainnya. Setelah suasana mulai kondusif, ia kembali naik ke tribun 13 Stadion Kanjuruhan. Di tribun itu ia berjumpa dengan adik iparnya, lalu ia meminta bantuan mencari suami dan anaknya.

" Adik saya bilang aman mbak, ada di tempat parkiran. Ternyata maksudnya agar saya tenang menunggu di tribun bersama saudara saya lainnya. Karena suami saya saat itu sudah meninggal,” ujar Elimiati.

Ia dan lainnya bertahan di tribun meski harus berjuang melawan sesak nafas dengan mata dan tenggorokan terasa perih akibat gas air mata. Kondisi gerimis tanpa angin membuat asap gas air mata hanya mengepul di satu titik.

Tak lama kemudian, mereka keluar stadion. Elimiati mengatakan salah seorang saudaranya meminta foto anaknya, Prayoga, untuk diberikan ke polisi agar membantu mencari. Serta disebar ke grup sosial media Aremania guna memudahkan pencarian.

“ Ternyata posisi anak saya ketemu dalam keadaan meninggal dunia, berada di kamar mayat RSUD Kanjuruhan. Jenasah suami saya di RS Saiful Anwar,” ujarnya.

Anaknya mengalami luka pada bagian kepala, sedangkan suaminya tak ada sedikitpun luka. Kulit kedua korban juga tak tampak seperti gosong seperti beberapa korban lainnya.

“ Tak tahu apakah terinjak-injak atau sesak nafas. Tidak ada surat keterangan dari rumah sakit,” katanya.

Elimiati dan anak sulungnya yang tertinggal setelah suami dan Prayoga wafat

(Elimiati dan anak sulungnya yang tertinggal setelah suami dan Prayoga wafat/Liputan6)

Niat mencari hiburan dengan menonton pertandingan sepakbola pun berakhir duka. Jenazah anaknya tiba di rumah sekitar pukul 02.00, Minggu 2 Oktober 2022. Satu jam kemudian menyusul jenazah suaminya diantar mobil ambulans ke rumah.

“ Saya ingin diusut peristiwa ini diusut tuntas. Terserah pemerintah mau buat keputusan apa, pokoknya ada rasa keadilan,” katanya.

“ Biasanya 10 menit sebelum selesai pintu kan dibuka, tapi kemarin tidak. Saat di dalam stadion masih banyak korban, lampu malah dimatikan,” ucapnya.

***

Kisah pilu serupa juga dialami Muhammad Alfiansyah, 11 tahun. Ia kini jadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya tewas dalam tragedi Kanjuruhan.

Ayah dan ibunya,  Muhammad Yulianto, 40 tahun, dan Devi Ratna S, 30 tahun, menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan Malang. Sementara Muhammad Alfiansyah berhasil selamat setelah terpisah dari kedua orang tuanya.

Adik ayahnya, Doni yang juga menyaksikan laga Arema FC dan Persebaya Surabaya malam itu, awalnya menemukan kakak iparnya, Devi Ratna S. Dia mengenali celana kakak iparnya saat dibopong oleh suporter lain. Saat ditemukan kondisi Devi sudah meninggal dunia.

" Ada yang menggotong dari suporter lain. Saya lihat celananya kok mbak iparku, ternyata benar," kata Doni saat ditemui di rumah duka Jalan Bareng Raya 2, Kelurahan Bareng, Kota Malang.

Doni, adik korban saat ditemui di rumah duka

(Doni, adik korban saat ditemui di rumah duka/Merdeka)

Setelah mengatur jenazah, Doni bergegas mencari suami Devi, karena memang saat berangkat mereka bersama-sama. Tidak begitu jauh dari posisinya, dia melihat kakaknya diangkat suporter.

" Setelah itu spontan saya mencari suaminya. Saya lihat ada yang dibopong suporter dan saya lihat benar juga, itu mas saya," ungkapnya.

Doni bersama tetangganya selanjutnya mengumpulkan jenazah keduanya di sekitar pintu 14. Doni masih kebingungan mencari Muhammad Alfiansyah anak dari pasangan tersebut.

Tidak lama kemudian Doni menemukan Alfiansyah. Karena saat terjadi desak-desakan terpisah dia diselamatkan polisi. Alfiansyah sendiri saat itu belum mengetahui kalau kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

" Sama polisi dibawa keluar. Saya tanya mamamu di mana? Dia jawab di dalam," ungkapnya.

Jenazah keduanya sempat dibawa ke medis stadion dan dinyatakan meninggal dunia. Sekitar satu jam jenazah menunggu dibawa ke rumah sakit dengan truk polisi.

Jenazah lalu dibawa ke Rumah Sakit Teja Husada sebelum kemudian dibawa pulang, Minggu 2 Oktober 2022 dini hari. Jenazah kakaknya memiliki luka. " Kemungkinan karena desak-desakan terjatuh. Ada lebam di mata dan bibir," terangnya.

Saat kejadian, kata Doni, korban menonton antara papan skor dan pintu 11. Korban kemungkinan terjatuh dari tangga di pintu keluar.

Awalnya polisi menembakkan gas air mata ke lapangan saat suporter ricuh. Polisi juga menembak ke arah tribun atas.

" Otomatis semua berlari keluar. Desak-desakan akhirnya banyak korban itu. Terutama kakak saya juga," ungkapnya.

Doni memastikan sebelum ditembakkan gas air mata, tribun 14 masih kondusif. Tetapi kemudian meluncur tembakan gas air mata hingga membuat penonton berhamburan.

Tragedi itu telah memaksa Muhammad Alfiansyah menjadi yatim piatu. Di usia 11 tahun!

***

Cerita perih juga dialami Sulastri, 60 tahun. Ia ingat masih bergandengan tangan dengan suaminya, Ahmad Wahyudi, suaminya di tangga Tribun 13 Stadion Kanjuruhan. Namun pasangan suami istri ini akhirnya terpisah selamanya setelah tembakan gas air mata dilepaskan ke dekat mereka.

Kala itu gas air mata ditembakkan ke sekitar tribun sehingga membuat penonton berlarian menyelamatkan diri. " Suami kan posisi di depan pegang tangan saya, terus terlepas," ucap Sulastri.

Perempuan ini mengaku sempat berpegangan pagar tangga, kemudian terdorong dan berdesakan. Napasnya terasa sesak dan matanya pedih sebelum kemudian jatuh pingsan.

Posisi Sulastri saat itu masih belum jauh dari tempat duduknya menonton laga Arema FC vs Persebaya. Ia berniat keluar stadion lewat Pintu 13 bersama anggota keluarga lainnya yang saat itu memang nonton rama-ramai. Selain menonton bersama almarhum suaminya, Ia mengajak anak, cucu, dua keponakan dan anak menantu.

Sulastri harus kehilangan suaminya saat tragedi Kanjuruhan

(Sulastri harus kehilangan suaminya saat tragedi Kanjuruhan/Merdeka)

" Saya mau ke tangga, masih di atas. Masih melangkahkan kaki satu, gas air mata sudah jatuh di situ," ungkapnya.

Sulastri diselamatkan keluarga dan Aremania yang membantu evakuasi melalui pintu utama (VIP). Ia berhasil dibawa keluar stadion bersama para korban lain, sehingga segera mendapat pertolongan.

Saat dibawa keluar, Ia mengaku sesaat sudah tersadar tetapi matanya tidak dapat dibuka. Kemudian sesorang membasuh air es ke wajahnya dan perlahan terasa lebih baik.

Ia pun bergegas dibawa pulang oleh anggota keluarga yang lain. Namun saat itu memang belum diperoleh kabar tentang suaminya, Ahmad Wahyudi sejak terpisah di sekitar tangga Tribun 13.

Ahmad Wahyudi belakangan diketahui sudah dalam posisi meninggal dunia di Rumah Sakit Wafa Husada.

Sulastri sendiri sebenarnya sejak melihat awal terjadi aksi kejar-kejaran Aremania dan polisi, sudah berniat meninggalkan lokasi. Saat itu bergegas mengajak suami dan rombongannya turun ke pintu keluar.

" Kita turun saja daripada lihat ramai-ramai di lapangan, nggak baik untuk anak kecil," ungkapnya.

Sulastri masih melihat para Aremania hendak memberikan semangat kepada pemain Arema FC yang lemas karena kekalahan malam itu. Aksi itu dilarang pihak keamanan karena semakin banyak yang turun ke lapangan.

" Satu dua turun, semua mau ikut turun. Sama panpel pemainnya disuruh masuk," katanya.

Pasangan Sulastri dan Ahmad Wahyudi memang Aremania tulen dan nyaris setiap laga Arema FC selalu menonton ke stadion. Ia tidak menyangka kalau pertandingan malam itu menjadi laga terakhir yang mereka tonton bersama.

***

Menurut data terakhir, korban jiwa atas tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya bertambah menjadi 132 orang meninggal dunia, termasuk 2 anggota kepolisian.

Data korban jiwa berasal dari sejumlah rumah sakit (RS) yang menangani korban, di antaranya RS Wafa Husada, RSB Hasta Brata Batu, RSUD Kanjuruhan, RSUD Dr. Saiful Anwar, dan RS Teja Husada Kepanjen.

Kemudian data korban juga berasal dari pencatatan di RS Ben Mari Pakisaji, RS Hasta Husada, RSI Gondang Legi, RS Salsabila, RST Soepraon serta informasi dari keluarga korban.

Dari 132 korban tragedi Kanjuruhan Malang meninggal tersebut, terdiri dari 90 laki-laki dan 42 perempuan. Kebanyakan korban remaja dan muda, yakni rentang usia 12-24 tahun. Sementara itu, ada satu korban meninggal masih balita yang berusia 3 tahun yaitu M Virdi Prayoga.

Rincian jumlah korban meninggal tragedi Kanjuruhan terdata sebanyak 44 orang di tiga rumah sakit pemerintah meliputi RSUD Kanjuruhan 21 orang, RS Bhayangkara Hasta Brata Batu 2 orang dan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang 20 orang.  

Kemudian sebanyak 75 korban meninggal dunia terdata di tujuh rumah sakit swasta, yakni RSUD Gondanglegi 4 orang, RS Wafa Husada 53 orang, RS Teja Husada 13 orang, RS Hasta Husada 3 orang, RS Ben Mari 1 orang, RST Soepraoen 1 orang, dan RS Salsabila 1 orang. Lalu, sebanyak 12 orang korban meninggal dunia di luar fasilitas kesehatan.

Berikut adalah nama-nama korban tewas yang telah teridentifikasi:

RS WAFA HUSADA MALANG
1. MUCHAMAD ARIFIN, 45 tahun, Tumpang, Teridentifikasi
2. MOCH HASHFI AL WAFI, 16 tahun, Wagir, Teridentifikasi
3. RONI SETIAWAN, 23 tahun, Kromengan, Teridentifikasi
4. ANGGRAENI DWI KRUNIASARI, 20 tahun, Sumber Pucung, Teridentifikasi
5. VIKY ROHIBALA , 27 tahun, Tajinan, Teridentifikasi
6. IWAN JUNAEDI, 45 tahun, Singosari, Teridentifikasi
7. FAIQOTUL HIKMAH, 22 tahun, Sumbersari Jember, Teridentifikasi
8. FILLAH AZIZ FIRMANSYAH, 21 tahun, Gondanglegi Malang, Teridentifikasi
9. ELISABETH AGUSTIN, 16 tahun, Tumpang, Teridentifikasi
10. MOH RIZKI DARMAWAN, 16 tahun, Garum Blitar, Teridentifikasi
11. GILANG SURYA RAMADANI, 20 tahun, Blimbing Kota Malang, Teridentifikasi
12. ANIK HARIANI, 40 tahun, Pagak Malang, Teridentifikasi
13. HADI KURNIAWAN, 22 tahun, Batu, Teridentifikasi
14. HUTRI ADI HERMANTO, 37 tahun, Pakisaji, Teridentifikasi
15. AHMAD WAHYUDI, 27 tahun, Lowokwaru Malang, Teridentifikasi
16. MOHAMMAD ADIT, 27 tahun, Pagelaran, Teridentifikasi
17. JEFRI IKLASTUL AMAL, 27 tahun, Gedangan, Teridentifikasi
18. AHMAD DANI SAFARUDIN, 15 tahun, Kepanjen, Teridentifikasi
19. MOCH. TEGAR ARDIAN, 17 tahun, Pakisaji, Teridentifikasi
20. ARNOLD P 22 tahun, Pagelaran, Teridentifikasi
21. MOCH. ABID HUSNI, 18 tahun, Bantur, Teridentifikasi
22. MUHAMMAD NOVAL PUTRA AULIA, 21 tahun, Sumbersari Jember, Teridentifikasi
23. EKO VIKI SULISTIYONO, 26 tahun, Tajinan, Teridentifikasi
24. HADIYATUS TSANIYAH, 24 tahun, Ujung Pankag Gresik, Teridentifikasi
25. MUHAMMAD UBAIDILLAH, 15 tahun, Pakis, Teridentifikasi
26. ALFINIA MAHARANI PUTRI, 20 tahun, Lowokwaru, Teridentifikasi
27. WAHYUDI, 22 tahun, Wajak, Teridentifikasi
28. MOH BINTANG PRATAMA, 27 tahun, Kromengan, Teridentifikasi
29. GABY ASTA PUTRI, 37 tahun, Wajak, Teridentifikasi
30. TASYA, 16 tahun, Wajak, Teridentifikasi
31. EVI NUR ROSIDAH, 22 tahun, Kalipare, Teridentifikasi
32. LALA, 14 tahun, Wajak, Teridentifikasi
33. HENDRIK GUNAWAN, 21 tahun,  Purwodadi Pasuruan, Teridentifikasi
34. RADINA ASTRID YUFITASARI, 20 tahun, Sukun Kota Malang, Teridentifikasi
35. M. HAFIZH APRILIANTO, SDRA, 19 tahun, Kedungkandang, Teridentifikasi
36. AUDI NESIA ALFIARI, 12 tahun, Kedungkandang, Teridentifikasi
37. SHIFWA DINAR, 17 tahun, Kedungkandang, Teridentifikasi
38. BRAGI KUSUMA, 20 tahun, Ampelgading, Teridentifikasi
39. AGUS RIANSYAHPRATAMA PUTRA, 20 tahun, Purwosari Pasuruan, Teridentifikasi
40. GABRIEL, 16 tahun, Wonosari, Teridentifikasi
41. FAIZ AL FIKRY, 18 tahun, Ngunut Blitar, Teridentifikasi
42. FIRMAN NUR ABIDIN, 32 tahun, Kedungkandang, Teridentifikasi
43. M RIZAL ILHAMIN, 18 tahun, Ampelgading, Teridentifikasi
44. GEBY SETYAWARDANI, 16 tahun, Pagak, Teridentifikasi
45. MOH. IRSYAD AL JUNED, 20 tahun, Lowokwaru Malang, Teridentifikasi
46. CITRA AYU AMELIA, 15 tahun, Pakisaji, Teridentifikasi
47. SALSA YONAS OCTAVIA, 39 tahun, Sukun, Teridentifikasi
48. REVANO PRASETYO, 15 tahun, Wonosari, Teridentifikasi
49. MUNIFA LATIFUL IKSAN, 20 tahun Ngariboyo Magetan, Teridentifikasi
50. WILDAN RAMADANI, 19 tahun, Pagelaran, Teridentifikasi
51. ABIAN HASYI RIFKI, 18 tahun, Kraksaan Probolinggo, Teridentifikasi
52. ANDIKA BAYU PRADANA, 20 tahun, Nglegok Blitar, Teridentifikasi

RSB HASTA BRATA BATU
1. BRIPTU FAJAR YOYOK, Trenggalek
2. BRIPKA ANDIK PURWANTO, Tulungagung

RSUD KANJURUHAN
1. SYAHRULLAH, 18 tahun, Gondang Legi, Teridentifikasi
2. INDHI RAHMA PUTRI, 19 tahun, Tulungagung, Teridentifikasi
3. MUH. VIRDI PRAYOGA, 3 tahun Blimbing Kota Malang, Teridentifikasi (korban termuda)
4. KLARISTA DISCA SAPUTRI, 18 tahun, Wagir, Teridentifikasi
5. HERLANGGA ADITAMA, 18 tahun, Tulungagung, Teridentifikasi
6. LUTVIA DAMAYANTI, 20 tahun, Blimbing Kota Malang, Teridentifikasi
7. MOCHAMAD ALI MUHTAR, Wajak, Teridentifikasi
8.  NAFISATUL MUKHOYAROH, 24 tahun, Klojen, Teridentifikasi
9. EL VIDUALLY, 23 tahun, Sukun, Teridentifikasi
10. SANDI SANJAYA, 21 tahun, Kalipare, Teridentifikasi
11. MUSTOFA, 15 tahun, Blitar, Teridentifikasi
12. M. RIAN FAUZI, 15 tahun, Turen, Teridentifikasi
13. KAKA WIDAD, 17 Tahun, Dau, Teridentifikasi
14. HADINATA, 21 tahun, Sumbergempol, Teridentifikasi
15. ANGGER A.P, 19 tahun, Kota Malang, Teridentifikasi
16. LINDA SETYA, 18 tahun, Dampit, Teridentifikasi
17. LAMHADI IRAWAN, 20 Tahun, Kedungkandang, Teridentifikasi
18. WAHYU NUR UTOMO, 18 tahun, Tumpang, Teridentifikasi
19. ACH NUR CAHYO, Pakis, Teridentifikasi
20. ACHMAD HUSEN RAHMADANI, 16 Tahun, Sumber Gempol Tulungagung, Teridentifikasi
21. RIYO EDIT SETYAWAN, 21 tahun, Tumpang, Teridentifikasi.

Korban tewas Kanjuruhan

(Korban tewas Kanjuruhan/Merdeka)

RSUD SAIFUL ANWAR
1. M. ARI MAULANA, 18 tahun, Pakis, Teridentifikasi
2. RUDI HARIYANTO, 34 tahun, Blimbing Kota Malang, Teridentifikasi
3. PRATIWI, 25 tahun, Purwosari Pasuruan, Teridentifikasi
4. SEPTIAN RAGIL SYAHPUTRA, 21 tahun, Pakisaji, Teridentifikasi
5. AHMAD KHOIRUL HUDA, 28 tahun, Garum Blitar, Teridentifikasi
6. YUNIA, 19 tahun, Ngajum, Teridentifikasi
7. DAFA YUNANTO, 18 tahun, Turen, Teridentifikasi
8. PUTRI LESTARI, 21 tahun, Teridentifikasi
9..HINDUN DIANA, 19 tahun, Sumbermanjing Wetan, Teridentifikasi
10. MUHAMMAD NIZAMUDIN, 15 tahun, Rejoso Pasuruan, Teridentifikasi
11. YANUAR DWI BRAMANTYO, 13 tahun, Kanigaran Probolinggo, Teridentifikasi
12. MOH. HENDRA, Pagak, Teridentifikasi
13. FAIZ AL FIKRI, 18 tahun, Ngunut Tulungagung, Teridentifikasi
14. MOH AKBAR ARRAHAN, 14 tahun, Gondanglegi, Teridentifikasi
15. MOCH. RIKKY ADITYA, 13 tahun, Tumpang, Teridentifikasi
16. HANDIKA RIZKY TRIONO, 15 tahun, Sumberpucung, Teridentifikasi
17. RIA AMELIA PUTRI, 19 tahun, Kedungkandang Kota Malang, Teridentifikasi
18. ABDAN AGENG FAUZAN, 18 tahun, Wagir, Teridentifikasi
19. FAREL ATYANABI, Pakis, Teridentifikasi
20. MOH. KINDI ARRUMI, 16 tahun, Probolinggo, Teridentifikasi
21. HELEN PRISELA, 20 tahun, Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, meninggal pada Selasa 11 Oktober 2022 pukul 14.25 WIB setelah sempat dirawat di ICU.

RS TEJA HUSADA KEPANJEN
1. DEVI RATNASARI, Klojen Kota Malang, Teridentifikasi
2. MUCHAMAD YULIANTO, 40 tahun, Klojen, Teridentifikasi
3. NAJWA, 15 tahun, Klojen, Teridentifikasi
4. ANGGAPRASDIYANSYAH, 34 tahun, Sukun, Teridentifikasi
5. MUH. FEBRIANSYAH, 17 tahun, Lowokwaru, Teridentifikasi
6. NOVAL BUDIONO, Ampel Gading, Teridentifikasi
7. HERLANGGA ADITAMA, Tulungagung, Teridentifikasi
8. ADITYA DIMAS PRATAMA, Tumpang, Teridentifikasi
9. DAFFA FAKHRUDIN WIJAYA, 15 tahun, Klojen, Teridentifikasi
10. RIYAN, Nongkojajar, Teridentifikasi
11. MUH. MUNGIZUL HIDAYATULLAH, Blitar, Teridentifikasi
12. MAYANG AGUSTIN, Sumberpucung, Sumber Pucung, Teridentifikasi
13. NITA MAULIDYA, 27 tahun, Klojen, Teridentifikasi
14. RANGGA P SAPUTRA, Sukun, Teridentifikasi
15. MUHAMMAD HAIKAL MAULANA, 17 tahun, Teridentifikasi

RS BEN MARI PAKISAJI
1. EKA PRIYATI MEI WULANDARI, 18 tahun, Teridentifikasi

RS HASTA HUSADA
1. RIZKY DWI, Krajan Probolinggo, Teridentifikasi
2. RIZKY WAHYUDI, 20 tahun, Sumber Pucung, Teridentifikasi
3. FAJAR KHOIRUN AHMAD, 14 tahun, Singosari, Teridentifikasi

RSI GONDANG LEGI
1. IBNU MUHAMMAD RAFI, 15 tahung, Kedingkandang Kota Malang, Teridentifikasi
2. YULIO DINI PRASTIAWAN, 14 tahun, Sumber Pucung, Teridentifikasi
3. HILDAN ADISTA, 17 tahun, Teridentifikasi
4. BAHRUL ULUM, 22 tahun, Kedungkandang, Teridentifikasi

RS SALSABILA
1. HAIKAL, 15 tahun, Tirtoyudo, Teridentifikasi

RST SOEPRAON
1. MUHAMMAD NAILUL AUTHOR, 15 tahun, Pagak, Teridentifikasi.

***

Nama-nama mereka adalah nama manusia yang nyata. Kematian mereka karenanya adalah sebuah tragedy kemanusiaan. Siapa pun yang bertanggungjawab harus dihukum. Agar tidak ada lagi penonton sepakbola yang meninggal sia-sia. Duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga kepergian mereka tidak sia-sia. (eha)

Sumber: Liputan6, Merdeka

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More