Viral Pengakuan Pria Relawan Pertama Uji Coba Vaksin Virus Corona

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Selasa, 31 Maret 2020 10:01
Viral Pengakuan Pria Relawan Pertama Uji Coba Vaksin Virus Corona
Ini dia, pasien pertama yang melakukan uji coba Vaksin Covid-19.

Dream- Sejumlah negara maju berpacu dengan waktu untuk menghasilkan obat atau vaksin penyakit corona Covid-19. Sebelum sampai tahap produk massal, perusahaan dan lembaga pemerintah akan melakukan uji coba dari produk yang mereka teliti.

Untuk vaksin Corona Covid-19, uji coba dikabarkan sudah dilakukan di Kaiser Permanente Washington Health Research Institute (KPWHRI) di Seattle pada 16 Maret 2020 lalu. Uji klinis tersebut dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas vaksin Corona.

The National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), bagian dari National Institutes of Health, dilaporkan turut mendanai proyek pencarian vaksi corona ini.

KPWHRI adalah bagian dari Konsorsium Penelitian Klinis Penyakit Menular NIAID. Uji coba dilakukan dengan mendaftarkan 45 sukarelawan dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun selama sekitar 6 minggu. Salah satunya adalah Ian Haydon.

1 dari 5 halaman

Ucapan Terima Kasih di Twitter

Ilustrasi Uji Coba Vaksin Corona

Dilansir dari twitter pribadinya @ichaydon, Ian  mengakui sebagai orang pertama yang mengikuti uji coba Vaksin Covid-19.

“ Saya bersyukur sekali. Terima kasih untuk seluruh ilmuwan yang membawa kami ke sini. Dan untuk tim yang mengembangkan vaksin ini, dan perawat yang bersedia mengambil darahku” ungkapnya.

Uji coba ini akan mengevaluasi keamanan dan kemampuannya dalam menginduksi respon imun pada partisipan. Uji coba ini merupakan yang pertama dari beberapa proses uji klinis untuk mengevaluasi potensi manfaat vaksin.

2 dari 5 halaman

Jenis Vaksin Covid-19 yang Diuji

Ilustrasi virus corona

Vaksin yang sudah dilakukan kepada Ian Haydon biasa disebut mRNA-1273. Vaksin tersebut dikembangkan oleh para ilmuwan NIAID dan kolaborator mereka di perusahaan bioteknologi Moderna, Inc., yang berbasis di Cambridge, Massachusetts. The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) juga mendukung pembuatan kandidat vaksin untuk uji klinis Fase 1.

“ Menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2 adalah prioritas kami untuk masyarakat,” kata Direktur NIAID, Anthony S. Fauci, MD

“ Uji Coba Fase pertama ini, diluncurkan dengan cepat, dan merupakan langkah awal yang sangat penting”

Infeksi dengan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, dapat menyebabkan penyakit pernapasan ringan hingga berat dan termasuk gejala demam, batuk, dan sesak napas.

Kasus COVID-19 pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.

Saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah infeksi dengan SARS-CoV-2.

3 dari 5 halaman

Cara Menemukan Vaksin Corona

Sebut Virus Corona Berbahaya, Dokter Penemunya Dipecat Arab Saudi

Penelitian vaksin dikembangkan dengan menggunakan platform genetik yang disebut mRNA (messenger RNA). Vaksin tersebut mengarahkan sel-sel tubuh untuk mengeluarkan protein virus yang diharapkan akan menghasilkan respons kekebalan yang kuat.

Vaksin mRNA-1273 telah menunjukkan respon baik pada hewan, dan ini adalah uji coba pertama pada manusia.

Para ilmuwan di Pusat Penelitian Vaksin NIAID (VRC) dan Moderna mampu dengan cepat mengembangkan mRNA-1273 karena sudah ada studi sebelumnya tentang virus Corona, yang menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Virus Corona berbentuk bulat dan memiliki duri-duri yang menonjol dari permukaannya, partikel-partikel tersebut membuatnya terlihat seperti mahkota. Partikel tersebut akan mengikat sel manusia, dan membuat virus masuk kedalam tubuh.

Dengan penelitian pada vaksin MERS, hal ini menjadi langkah awal bagi pengembangan vaksin untuk COVID-19. Setelah informasi genetik SARS-CoV-2 tersedia, para ilmuwan bisa dengan cepat menemukan protein virus dalam platform mRNA yang ada.

4 dari 5 halaman

Uji Coba Fase Pertama

Video Wajah Wuhan Usai Diisolasi Akibat Virus Corona, Bak Kota Hantu

Uji coba fase pertama dipimpin oleh Lisa A. Jackson, M.D. Dia adalah penyelidik senior di KPWHRI. Para peserta uji coba akan menerima dua dosis vaksin melalui injeksi intramuskular di lengan atas sekitar 28 hari terpisah.

Setiap peserta uji coba akan menerima dosis 25 mikrogram (mcg), 100 mcg atau 250 mcg pada kedua vaksinasi, dengan 15 orang dalam setiap kohort dosis.

Empat peserta pertama akan menerima satu suntikan dengan dosis rendah, dan empat peserta berikutnya akan menerima dosis 100 mcg.

Peneliti akan meninjau data keamanan sebelum memvaksinasi peserta yang tersisa dalam kelompok dosis 25 dan 100 mcg dan sebelum peserta menerima vaksinasi kedua.

Ulasan keamanan lain akan dilakukan sebelum peserta terdaftar dalam kohort 250 mcg.

 

5 dari 5 halaman

Masih Menanti Hasil

Peserta akan diminta untuk kembali ke klinik untuk kunjungan berikutnya. Antara vaksinasi dan untuk kunjungan tambahan dalam rentang satu tahun setelah suntikan kedua.

Dokter akan memantau peserta jika terjadi gejala vaksinasi umum, seperti rasa sakit di tempat suntikan atau demam serta masalah medis lainnya.

Tim protokol akan bertemu secara teratur untuk meninjau data keselamatan. Tim pemantauan keselamatan juga akan secara berkala meninjau data uji coba dan memberi saran kepada NIAID.

Peserta juga akan diminta untuk memberikan sampel darah pada waktu tertentu, yang akan diuji oleh peneliti di laboratorium untuk mendeteksi dan mengukur respons kekebalan terhadap vaksin.

" Uji coba ini sangat penting bagi upaya nasional untuk menanggapi ancaman virus Corona," kata Dr. Jackson.

" Kami siap melakukan uji coba penting ini karena pengalaman kami sebagai pusat uji klinis NIH sejak 2007." Tambahnya.

(Sah, Sumber National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Beri Komentar