Semenanjung Arab di Zaman Purba Mirip Padang Rumput, Sampai Hidup Kuda Nil

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 6 September 2021 11:35
Semenanjung Arab di Zaman Purba Mirip Padang Rumput, Sampai Hidup Kuda Nil
Dugaan ini diperoleh dari penemuan jejak danau prasejarah yang saat ini menjadi gersang. DItemukan pula sisa-sisa kuda nil dan hewan-hewan lain.

Dream – Huw Groucutt, seorang ilmuwan menemukan bukti mengejutkan terkait kondisi semenanjung Arab di zaman prasejarah atau 400 ribu tahun silam. Salah satunya adalah dugaan daerah gurun yang sama dulunya merupkan tempat yang hijau dan rindang bahkan menjadi tempat satwa dari Afrika hidup.  

Dikutip dari Yahoo News, Sabtu 4 September 2021, Huw menemukan bukti bahwa manusia dari Afrika dan beberapa hewan liar seperti kuda nil bermigrasi ke kawasan semenanjung Arab ini dan hidup dalam waktu yang cukup lama. 

Upaya mengungkap kehidupan di kawasan yang terkenal dengan gurn saharanya itu dimulai sejak satu dekada terakhir. Para ilmuwan berusaha mengungkap kisah evoluasi manusia purba dan pergerakannya keluar dari Afrika. 

1 dari 6 halaman

Kok Sekarang Gersang?

Penggalian ekstensif lebih dari satu dekade mengungkapkan alat-alat batu dari beberapa periode pemukiman prasejarah, dilakukan oleh kelompok manusia purba yang tertua sekitar 400 ribu tahun yang lalu.

Analisis sampel sedimen dari danau purba, sisa-sisa kuda nil, dan hewan lain menjelaskan bahwa selama beberapa periode di masa lalu, semenanjung itu berisi danau dan padang rumput yang luas.

Menurut para peneliti, manusia dan hewan purba pindah dari timur laut Afrika ke Semenanjung Arab.

“ Sungai dan danau yang mengalir, dikelilingi oleh padang rumput dan sabana, akan menarik hewan dan kemudian manusia purba mengejar mereka,” kata arkeologis paleolitik di Max Planck Instititute for the Science Human History di Jena, Jerman, Michael Petraglia.

2 dari 6 halaman

Bergerak ketika Iklim Berubah

Kuda nil membutuhkan air untuk bertahan hidup. Sementara hewan yang lain, termasuk burung unta dan antelop, menunjukkan hubungan biologis yang kuat dengan timur laut Afrika.

Ahli paleoantropologi Rick Potts mengatakan hasil penelitian menggabungkan catatan arkeologi dan iklim 400 ribu tahun yang lalu. Penggabungan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa manusia purba bergerak melintasi lanskap itu ketika iklim berubah.

“ Kehadiran episodik dan tidak adanya populasi di Semenanjung Arab, selaras dengan osilasi iklim,” kata dia.

(Laporan: Angela Irena Mihardja)

3 dari 6 halaman

Salju Kembali Turun di Gurun Sahara, Tanda Kiamat?

Dream - Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi sejumlah peristiwa aneh di dunia. Mulai suara sangkakala dari langit hingga turun salju di Arab Saudi, yang semuanya dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat.

Baru-baru ini muncul lagi fenomena alam yang sangat langka di Gurun Sahara. Sebuah kota di gurun pasir di Afrika Utara ini diselimuti salju untuk ke dua kalinya dalam empat dekade terakhir. Fotografer Karim Bouchetata berhasil mengabadikan kejadian alam langka di kota bernama Ain Sefra itu.

 

© Dream



Karim melihat kota tersebut diselimuti salju setebal 45 sentimeter saat terjadi badai musim dingin yang lalu. Padahal kota terpencil yang masuk wilayah negara Aljazair itu belum pernah melihat salju lagi setelah terakhir kali turun pada 37 tahun silam.

4 dari 6 halaman

Menurut Karim, tempat yang rata-rata bersuhu 30 derajat Celcius dan berwarna kemerahan itu secara tidak terduga berubah menjadi putih karena tertutupi salju.

" Kami benar-benar terkejut saat bangun pagi dan melihat salju lagi. Salju itu bertahan sepanjang hari pada hari Minggu dan mulai mencair sekitar jam 5 sore," kata Karim.

Turunnya salju itu disambut gembira, terutama oleh anak-anak. Mereka membuat patung salju dan bermain seluncur salju menggunakan papan yang sebenarnya untuk pasir.

Salju terakhir terlihat di kota berjuluk Gerbang ke Padang Pasir itu pada 18 Februari 1979 silam. Namun, saat itu salju yang turun hanya bisa bertahan selama setengah jam.

Benarkah fenomena ini menjadi pertanda Bumi telah menua? Karena sebelumnya fenomena serupa juga terjadi di Arab Saudi.

5 dari 6 halaman

Ini Penjelasan Pejabat Kota Ain Sefra

Seorang pejabat Departemen Meterologi setempat menjelaskan bahwa salju turun di kota tersebut adalah fenomena alam biasa.

" Udara dingin tertarik ke selatan di atas Afrika Utara akhir pekan lalu sebagai akibat dari udara bertekanan tinggi di Eropa. Tekanan tinggi berarti cuaca dingin meluas ke selatan dari biasanya," kata pejabat tersebut.

Ain Sefra terletak  sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh Pegunungan Atlas. Sementara Gurun Sahara mencakup sebagian besar Afrika Utara.

Gurun terluas di dunia ini telah melalui perubahan suhu dan kelembaban selama beberapa ratus ribu tahun terakhir.

Meskipun saat ini merupakan tempat paling kering di dunia, Gurun Sahara diprediksi akan menjadi hijau kembali dalam 15.000 tahun lagi.

(Sumber: Mirror.co.uk)

6 dari 6 halaman

Begini Penampakan Salju di Gurun Sahara

Beginilah penampakan indah dari hamparan salju yang turun di kota Ain Sefra, Aljazair.

#1.

Salju Turun di Gurun Sahara 1© (Foto: Geoff Robinson)

#2.

Salju Turun di Gurun Sahara 2© (Foto: Geoff Robinson)

#3.

Salju Turun di Gurun Sahara 3© (Foto: Geoff Robinson)

#4.

Salju Turun di Gurun Sahara 4© (Foto: Geoff Robinson)

#5.

Salju Turun di Gurun Sahara 5© (Foto: Geoff Robinson)

#6.

Salju Turun di Gurun Sahara 6© (Foto: Geoff Robinson)

#7.

Salju Turun di Gurun Sahara 7© (Foto: Geoff Robinson)

Beri Komentar