Fakta Sebenarnya Bintang Tsurayya yang Diyakini Pertanda Akhir Wabah Corona

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 2 Mei 2020 15:20
Fakta Sebenarnya Bintang Tsurayya yang Diyakini Pertanda Akhir Wabah Corona
Ini penjelasan yang tepat tentang kemunculan bintang tsuraya secara ilmiah dan tradisi.

Dream - Dalam beberapa hari terakhir masyarakat dijejali dengan informasi tentang penampakan bintang di pagi hari. Banyak yang meyakini kemunculan bintang tsuraya ini sebagai pertanda akan berakhirnya pandemi corona.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) menjelaskan sisi ilmiah serta tradisi masyarakat Indonesia terkait kemunculan bintang tersebut.

Dalam unggahan di akun Instagramnya, Lapan mengutip penjelasan Andi Pangeran dan tim dari Pusat Sains Antariksa Lapan menjelaskan Tsuraya (thuraya) dalam istilah astronominya populer disebut sebagai gugus bintang terbuka Pleiades. Ini adalah sekumpulan bintang yang terletak di dekat rasi Taurus.

Gugus bintang terbuka ini terdiri dari sejumlah bintang, dan tujuh diantaranya dapat dilihat dengan mata telanjang.

Dalam mitologi Yunani, dan dikenal sampai saat ini, ketujuh bintang tersebut adalah Sterope, Merope, Electra, Maia, Taygeta, Celaeno, dan Alcyone; dan dikenal sebagai bintang 7 saudari.

1 dari 3 halaman

Tradisi Masyarakat Soal Bintang Tsurayya

Mudah dikenali dengan mata telanjang, bintang tsuraya juga muncul dalam berbagai mitologi langit dari berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Pleiades juga dikenal sebagai bintang tujuh dalam berbagai mitologi di berbagai kebudayaan di seluruh dunia.

Dalam tradisi langit nusantara, bintang tsuraya sering disebut juga sebagai Lintang Wuluh, atau Lintang Kerti. Dari tradisi India dikenal sebagai Kartika (Kritikka) yang namanya diambil dari dewa pelindung bangsa Tamil, Kartikeya.

Sedangkan di Tiongkok dan Korea, Tsuraya dikenal sebagai Mao-Xing dan Myo-Su Byeol (Bintang Berambut, Hairy-Head Star). Jepang mengenalnya sebagai Subaru-hoshi atau " Bintang yang berkumpul" , secara populer dikenal sebagai Subaru.

2 dari 3 halaman

Keyakinan Orang Indonesia Soal Bintang Tsurayya

Dalam tradisi agraris nusantara, munculnya Pleiades atau buntang tsuraya ketika fajar menjadi tanda untuk memulai menggarap sawah dan membersihkan huma. Kemunculannya juga dianggap sebagai tanda awal bercocok tanam.

Sementara dalam tradisi di Timur Tengah, Tsuraya yang terbit ketika fajar merupakan penanda berakhirnya masa mewabahnya hama tanaman dan dimulainya panen buah kurma.

Dalam astronomi, jarak Pleiades ke Bumi mencapai 444 tahun cahaya, artinya cahaya dari Tsuraya membutuhkan waktu 444 tahun agar sampai ke Bumi.

 

3 dari 3 halaman

Kapan Bintang Tsurayya Muncul?

Pleiades terbit hampir bersamaan dengan Matahari terjadi di bulan Mei sampai dengan Juni ketika terbit saat fajar, kemudian tinggi di atas saat September-Desember, sampai kemudian tenggelam saat fajar ketika Desember, sehingga seringkali diasosiasikan sebagai penanda musim dingin bagi masyarakat di belahan Bumi utara.

Nama dalam katalog disebut sebagai Messier 45, dan anggota gugus bintang tersebut adalah bintang yang relatif muda, dengan kelas spektrum tipe B, cenderung panas, cerlang, dan berwarna kebiruan.

Bila kondisi tidak berawan, saat-saat seperti ini kita bisa mengarahkan pandangan ke arah timur saat jelang Matahari terbit, carilah rasi Taurus, dan temukan lintang Kartika di dekat rasi Taurus.(Sah)

Beri Komentar