Ilmuwan: Virus Corona Covid-19 Bisa Jadi Penyakit Musiman, Dapat Terulang Lagi

Reporter : Sugiono
Kamis, 26 Maret 2020 14:36
Ilmuwan: Virus Corona Covid-19 Bisa Jadi Penyakit Musiman, Dapat Terulang Lagi
Dia juga menekankan perlunya pengembangan vaksin dengan segera.

Dream - Sebuah kabar yang mengkhawatirkan terkait virus corona baru Covid-19 diungkapkan oleh ilmuwan asal Amerika Serikat.

Sekalipun negara-negara yang berjuang melawan Covid-19 berhasil mengalahkannya, penyakit itu akan kembali dalam siklus tahunan.

Hal itu diungkapkan oleh Dr Anthony Fauci, seorang pakar yang tergabung dalam satuan tugas pencegahan virus corona di AS.

" Ini (Covid-19) bisa menjadi penyakit musiman, berulang setiap tahun, dan saya pikir itu sangat mungkin," kata Dr Fauci kepada wartawan di Gedung Putih, pada Rabu, 25 Maret 2020.

Dr Fauci, yang juga mengepalai Institut Penyakit Alergi dan Menular Nasional dengan sekitar 45 gelar doktor kehormatan, menekankan perlunya pengembangan vaksin dengan segera untuk mengatasi virus corona baru penyebab Covid-19.

" Vaksin tersebut segera dilakukan pengujian dan harus sudah tersedia sebelum penyakit ini datang kedua kalinya di musim mendatang," katanya.

Dia juga menyarankan berbagai perawatan yang selama ini diberikan juga dilacak dengan cepat melalui uji klinis.

Pendapat bahwa virus corona Covid-19 bisa jadi penyakit musiman juga datang dari Dr. Lee Norman, Sekretaris Deprtemen Kesehatan dan Lingkungan Kansas.

Dr Norman mengungkapkan bahwa kemungkinan Covid-19 jadi penyakit musiman bisa saja terjadi. Namun untuk saat ini mungkin masih terlalu dini untuk mengkhawatirkan hal itu.

AS telah mengkonfirmasikan sekitar 65.000 kasus positif Covid-19 hingga saat ini, dengan lebih dari 900 kematian. Negara pimpinan Donald Trump ini menjadi negara ketiga tertinggi dengan kasus Covid-19, setelah China dan Italia.

Sumber: RT.com

1 dari 10 halaman

Ketahui Beda Batuk Biasa dan Batuk Karena Virus Corona

Dream - Virus corona atau Covid-19 telah menjadi pandemi di hampir sebagian negara-negara di dunia. Penyebarannya yang cepat dan meluas membuat orang-orang waspada.

Masih banyak yang kurang begitu paham dengan gejala-gejala jika seseorang terserang virus corona. Nah, salah satu gejala orang terjangkit virus corona atau Covid-19 adalah batuk.

Tetapi batuk yang dipicu oleh virus corona berbeda dengan batuk biasa yang disebabkan oleh virus influenza atau biasa disebut dengan flu.

Memang, gejala Covid-19 ini hampir mirip dengan gejala flu biasa yang dibarengi dengan demam, sakit kepala dan batuk.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut perbedaan gejala batuk akibat virus influenza dan virus corona yang perlu kamu ketahui.

2 dari 10 halaman

Batuk Biasa Karena Flu

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, batuk akibat virus influenza sering terjadi secara tiba-tiba.

Penderita biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya kurang dari dua minggu.

Batuk karena virus flu ini juga akan disertai dengan pilek dan bersin-bersin. Sementara penderita Covid-19 tidak mengalami kondisi tersebut.

Kesimpulannya, jika seseorang batuk disertai pilek dan bersin-bersin, maka kemungkinan dia hanya menderita sakit flu biasa.

3 dari 10 halaman

Batuk Akibat Covid-19

Sementara itu batuk pada orang positif Covid-19 berbeda dari batuk pada penderita flu.

Dilansir The Sun, Dr Sarah Jarvis, dokter dan Direktur Klinik di Patientaccess.com mengungkapkan bahwa orang positif Covid-19 akan mengalami batuk kering yang terus menerus.

Dr Sarah kemudian memberikan ciri-ciri dari batuk kering terus menerus yang kemungkinan menjadi gejala bagi orang terjangkit virus corona.

Ciri pertama adalah penderita belum pernah mengalami batuk kering terus menerus sebelumnya. Artinya, itu bukan batuk yang biasa dirasakan, seperti orang merokok kemudian batuk-batuk.

Batuk kering ini akan terjadi setidaknya selama setengah hari. Ciri lainnya, batuk ini terjadi terus menerus. Bukan sesekali seperti orang berdehem atau ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan.

4 dari 10 halaman

Tetap Perlu Waspada

Sesuai namanya, batuk kering adalah jenis batuk yang tidak disertai dahak. Batuk kering sangat mengganggu. Biasanya disertai dengan rasa gatal di tenggorokan.

Jadi, meski tidak selalu positif Covid-19, penderita batu kering sebaiknya waspada. Karena batuk kering ini lebih berpotensi menjadi gejala Covid-19 dibandingkan dengan batuk yang disertai dahak.

Dilansir Vox.com, selain demam, gejala Covid-19 yang paling umum adalah batuk kering dan sesak napas. Gejala-gejala ini terlihat pada hampir 90 persen orang positif Covid-19.

5 dari 10 halaman

Mengejutkan! Virus Corona Tetap Hidup di Paru-paru Korban yang Meninggal

Dream - Disebabkan ayahnya meninggal karena Covid-19, netizen Malaysia bernama Luqman Idris tak sempat melihat wajah orang yang sangat dihormati itu.

Jangankan melihat wajah untuk terakhir kali, mengurus jenazah ayahnya saja keluarganya tak diizinkan oleh rumah sakit.

Luqman dan keluarganya hanya bisa melihat proses pemakaman ayahnya yang sudah dimasukkan ke dalam peti dari jarak cukup jauh.

Tidak ada keluarga dan pelayat yang mengantar hingga ke lihat lahat. Hanya empat petugas medis dengan Alat Pelindung Diri yang memakamkan korban Covid-19.

Sebenarnya ada alasan khusus rumah sakit tidak mengizinkan keluarga menguburkan sendiri anggotanya yang meninggal akibat Covid-19.

Itu karena adanya temuan mengejutkan oleh pakar penyakit menular di Beijing, China, setelah melakukan post-mortem pada 29 pasien Covid-19.

Para pakar dari Peking University International Hospital mengatakan virus corona yang menyebabkan Covid-19 tetap hidup di paru-paru korban bahkan setelah pasien meninggal dunia.

Hasil temuan lainnya dari autopsi juga menunjukkan adanya kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pasien yang dilakukan virus corona.

Yang lebih mengerikan lagi, infeksi Covid-19 tidak hanya menyebabkan perubahan patologis yang parah di paru-paru. Tetapi juga merusak bronkiolus, yang membuat pasien lebih sulit untuk bernapas.

Karena fakta virus tetap hidup di tubuh orang yang meninggal inilah yang membuat pihak rumah sakit bersikap waspada.

Mereka melarang keluarga mengurus jenazah salah satu anggota yang meninggal karena tidak ingin virus yang masih hidup itu menular.

Sumber: World of Buzz

6 dari 10 halaman

Virus Corona Covid-19 Hasil Rekayasa dan Bocor dari Laboratorium, Cek Faktanya!

Dream - Di tengah merebaknya virus corona baru yang menyebabkan wabah COVID-19 ke seluruh dunia, banyak informasi salah tersebar di tengah masyarakat.

Salah satu informasi salah yang banyak beredar di media sosial adalah bahwa virus ini, yang disebut SARS-CoV-2, diciptakan di sebuah laboratorium di Wuhan, China.

Virus tersebut kemudian bocor dari laboratorium di Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia hingga menjadi pandemik seperti sekarang ini.

Karena itulah Wuhan dianggap sebagai pusat penyebaran virus corona baru yang telah menginfeksi ratusan ribu orang di seluruh dunia.

Namun menurut penelitian terbaru, SARS-CoV-2 bukanlah sebuah produk laboratorium atau virus yang dimanipulasi untuk tujuan tertentu.

7 dari 10 halaman

Sekelompok peneliti membandingkan genom virus corona baru ini dengan enam virus corona lain yang diketahui menginfeksi manusia, yaitu SARS, MERS, HKU1, NL63, OC43 and 229E.

Kristian Andersen, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, bersama rekan-rekannya meneliti contoh genetik dari spike protein atau lonjakan protein yang menonjol dari permukaan virus corona. Virus corona menggunakan lonjakan ini untuk menempel pada dinding luar sel inangnya dan kemudian memasuki sel-sel itu.

Para ilmuwan kemudian fokus pada pengurutan genetik dua fitur utama dari lonjakan protein ini, yaitu domain pengikat reseptor (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang; dan tapak pembelah, sebuah molekul yang memungkinkan virus untuk membuka dan memasuki dinding sel manusia dan hewan.

8 dari 10 halaman

Hasil analisis menunjukkan bahwa RBD virus corona ini telah berevolusi untuk menargetkan reseptor di dinding sel manusia yang disebut ACE2. Reseptor ini terlibat dalam pengaturan tekanan darah manusia.

RBD tersebut begitu efektif menempel pada sel manusia sehingga para peneliti mengatakan bahwa virus corona adalah hasil seleksi alam dan bukan rekayasa genetika.

Berikut penjelasan Kristian mengapa virus corona baru adalah seleksi alam dan bukan hasil rekayasa genetika.

9 dari 10 halaman

SARS-CoV-2 sangat erat kaitannya dengan virus yang menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah (SARS), yang menyebar di seluruh dunia hampir 20 tahun yang lalu.

Para ilmuwan telah mempelajari bagaimana SARS-CoV (penyebab SARS) berbeda dari SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19) - dengan beberapa perubahan dalam kode genetik.

Dalam simulasi komputer, mutasi pada SARS-CoV-2 tidak bekerja dengan baik dalam membantu virus menempel dan menembus sel manusia.

Jika para ilmuwan sengaja merekayasa dan menciptakan virus ini, mereka tidak akan memilih mutasi gagal yang disarankan simulasi komputer tersebut.

Jadi, alam lebih pintar daripada para ilmuwan. Virus SARS-CoV-2 menemukan cara yang lebih baik untuk bermutasi - dan benar-benar berbeda - dari apa pun yang bisa diciptakan oleh para ilmuwan melalui simulasi komputer.

10 dari 10 halaman

Bagaimana dengan teori konspirasi yang menyebut virus SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium dan kemudian menyebar?

Keseluruhan struktur molekul virus SARS-CoV-2 berbeda dari virus corona yang dikenal sebelumnya. Virus SARS-CoV-2 lebih mirip virus yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

Ilmuwan masih belum terlalu banyak mempelajari virus pada kedua hewan yang diduga jadi perantara ini. Selain itu, virus pada kedua binatang itu tidak pernah diketahui bisa menyebabkan bahaya pada manusia.

" Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, mereka harus membuatnya dari tulang punggung virus yang diketahui menyebabkan penyakit," kata Andersen.

" Kedua fitur virus ini, yaitu mutasi pada bagian RBD dari spike protein dan tulang punggungnya yang berbeda, mengesampingkan adanya laboratorium sebagai kemungkinan asal dari SARS-CoV-2," tambahnya.

Sumber: LiveScience.com

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak