Presiden Soroti Banyaknya Masyarakat Bawah Jadi Korban Pinjaman Online

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 11 Oktober 2021 14:47
Presiden Soroti Banyaknya Masyarakat Bawah Jadi Korban Pinjaman Online
Presiden yakini jika bisnis digitalisasi keuangan dikawal dengan baik akan tumbuh menjadi sehat bahkan menjadi sumber ekonomi baru bagi Indonesia.

Dream - Presiden Joko Widodo berpesan perkembangan digitalisasi keuangan harus dijaga dan dikawal. Pesan itu disampaikan presiden karena mendengar banyaknya masyarakat kelas bawah yang menjadi korban aksi penipuan dan tindak pidana teknologi keuangan dari aplikasi tak berizin (ilegal).

" Saya mendengar masyarakat bawah yang tertipu dan terjerat bunga tinggi oleh pinjaman online yang ditekan dengan berbagai cara untuk mengembalikan pinjamannya," ujar Jokowi saat memberikan keynote speech pada OJK Virtual Innovation Day, disiarkan Sekretariat Presiden.

Jokowi mengungkapkan pandemi Covid-19 telah menyebabkan bermunculannya industri keuangan berbasis digital. Sekarang masyarakat mulai banyak mengenal bank digital, asuransi digital, berbagai macam e-payment, financial technology (fintech) baik konvensional maupun syariah.

" Fenomena sharing economy semakin marak, dari ekonomi berbasis peer to peer hingga business to business," ucap dia.

 

1 dari 6 halaman

Potensi Industri Keuangan Digital

Melihat pertumbuhan yang pesat tersebut, Jokowi menegaskan pentingnya mengawal perkembangan digitalisasi keuangan tersebut. Selain itu instansi  dan pelaku industri ini harus siap memfasilitasi bisnis digitalisasi keuangan tumbuh secara sehat.

" Jika kita kawal secara cepat dan tepat, Indonesia memiliki potensi besar menjadi raksasa digital setelah China dan India, dan bisa membawa kita menjadi ekonomi terbesar dunia ketujuh di 2030," kata dia.

Tak hanya itu, upaya pengawalan juga harus disambung dengan pembangunan ekosistem keuangan digital yang kuat dan berkelanjutan. Terutama ekosistem yang bertanggung jawab.

" Memiliki mitigasi risiko atas kemungkinan timbulnya permasalahan hukum dan permasalahan-permasalahan sosial untuk mencegah kerugian dan meningkatkan perlindungan kepada masyarakat," kata Jokowi.

2 dari 6 halaman

Diteror Tagihan Pinjol, Wanita di Wonogiri Bunuh Diri

Dream - Wanita asal Wonogiri, WPS, 38 tahun, tewas tergantung di teras rumahnya. Diduga, dia nekat mengakhiri hidupnya karena terjerat utang di aplikasi pinjaman online.

Dugaan ini muncul karena ditemukan sepucuk surat yang kemungkinan ditulis oleh WPS. Selain itu, juga ada buku kecil berisi catatan pinjaman ke sejumlah pihak.

Humas Polres Wonogiri, Ajun Inspektur Dua Iwan Sumarsono, mengatakan, WPS ditemukan mertuanya pada Sabtu pagi. Posisinya saat itu tergantung di teras.

" Korban juga meninggalkan wasiat bahwa dirinya memiliki utang pinjol," ujar Iwan, dikutip dari Liputan6.com.

Iwan mengatakan, dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada jasad korban. Sementara suami korban menceritakan WPS terjerat pinjol.

" Akhir-akhir ini sering diteror dan membuat WPS frustasi," kata dia.

3 dari 6 halaman

Tinggalkan Surat Wasiat

Dalam suratnya, korban meminta maaf kepada suaminya lantaran punya banyak pinjaman. Diduga, korban nekat bunuh diri karena tidak sanggup melunasi utang tersebut.

Pada surat tersebut pula, korban memberitahu sang suami mengenai catatan utang. Daftar utang tersebut ditulis dalam buku kecil dengan sampul hitam.

Sementara dalam foto yang beredar, korban menulis sejumlah pihak yang menjadi sumber pinjakan. Sebagian besar adalah penyedia jasa pinjaman online, ada juga pinjaman ke orang pribadi.

Jumlah pinjaman tersebut bervariasi, dari ratusan ribu hingga jutaan. Korban juga meninggalkan PIN ATM dengan saldo hanya ratusan ribu.

4 dari 6 halaman

Polri: Ada 3.000 Lebih Pinjol Ilegal, Modus Teror Sebar Foto Vulgar

Dream - Bareskrim Polri mulai bergerak menindak pelaku jasa pinjaman online ilegal. Para pelaku kerap melakukan teror kepada nasabah dalam menagih pinjaman, bahkan sampai menyebar foto vulgar.

Wakil Direktur Tindak Pidana Khusus Polri, Kombes Whisnu Hermawan Februanto, mengatakan, terdapat sekitar 1.700 jasa pinjol yang resmi dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tetapi, jumlah pinjol ilegal jauh lebih banyak dan sudah meresahkan masyarakat.

" Masih ada 3.000 lebih dan masih ilegal atau tidak terdaftar di OJK. Ini hal-hal yang jadi perhatian Polri untuk mengungkap perkara-perkara yang meresahkan masyarakat," ujar Whisnu.

Menurut Whisnu, ada sejumlah korban mengalami teror berat. Padahal, nilai pinjamannya tidak terlalu besar dan hanya berkisar ratusan ribu rupiah.

" Beberapa korban yang meminjam uang beberapa ribu saja kemudian diteror dengan foto-foto vulgar, info ke teman-teman, keluarga, bahkan ada yang stres akibat pinjaman yang tidak benar ini," kata dia.

5 dari 6 halaman

Tangkap 5 Pelaku Pinjol Ilegal

Baru-baru ini, tambah Whisnu, Polri menangkap beberapa pelaku yang menjalankan bisnis pinjol dengan nama RP Cepat berlokasi di Jakarta Barat. Ada lima tersangka yang ditangkap yaitu EDP, BT, ACJ, SS, dan MRK.

Selain itu, pihaknya mengantongi dua identitas warga negara asing yang terlibat bisnis tersebut. Keduanya berinisial XW dan GK namun masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

" Kami sampaikan kepada masyarakat bahwa aplikasi RP Cepat tidak ada izinnya, secara legalitas perusahaan ini tidak ada izin," kata Whisnu.

Pihaknya telah memastikan status tersebut setelah berkoordinasi dengan OJK. Penyelidikan langsung digelar begitu didapati RP Cepat tidak mengantongi izin.

6 dari 6 halaman

Suku Bunga Gila

Whisnu kemudian menjelaskan kasus ini terkuak berawal dari laporan salah seorang nasabah RP Cepat yang merasa dirugikan. Nasabah tersebut mengaku meminjam uang di RP Cepat sebesar Rp1,7 juta.

Pengajuan pinjaman tersebut hanya disetujui sebesar Rp500 ribu. Tetapi, uang yang diterima nasabah hanya sebesar Rp295 ribu.

Sementara, jasa pinjol tersebut memberikan batas waktu pengembalian antara 91-100 hari. Baru 10 hari meminjam, nasabah sudah ditagih dengan bunga mencapai 41 persen.

" Pinjol ini sangat meresahkan masyarakat meski korban kerugiannya kecil, namun jumlahnya sangat banyak," kata Wishnu.

Dia mengatakan saat ini baru RP Cepat yang terungkap. Masih banyak masyarakat yang melapor lantaran dirugikan pinjol.

" Sampai hari ini anggota kami masih proses penyelidikan di berbagai daerah, bahkan Kabareskrim mengirim telegram ke seluruh jajaran Polri untuk mengungkap perkara pinjol ilegal," kata dia, dikutip dari Liputan6.com.

Beri Komentar