Facebook Bikin Kafe di Jakarta

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 15 September 2019 13:15
Facebook Bikin Kafe di Jakarta
Apa yang bisa didapat di kafe ini?

Dream - Setiap orang memiliki hak mengatur informasi yang akan mereka bagikan di media sosial. Termasuk fitur untuk berbagi informasi.

“ Masih banyak orang yang belum tahu cara penggunaan dan fungsi pentingnya fitur kendali privasi di akun media sosial mereka,” ujar Noudhy Valdryno, Manajer Kampanye Kebijakan untuk Facebook di Indonesia, di Jakarta, baru-baru ini.

Untuk meningkatkan pemahaman publik tentang pengaturan, kebijakan, dan fitur privasi yang tersedia di Facebook, Instagram dan WhatsApp, Facebook membuka kafe pop up yang berlokasi di area Melawai, Jakarta.

Di kafe tersebut, pengunjung akan diajak untuk mengikuti tes privasi yang akan membantu mereka mengetahui sejauh mana pemahaman tentang fitur dan kendali privasi di Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Pengunjung juga memiliki kesempatan untuk belajar dan meningkatkan pengaturan privasi mereka sembari menikmati sajian dan camilan dari Facebook.

Facebook Cafe ini diharapkan dapat membuat pengguna pengguna mengawasi siapa saja yang melihat informasi dan konten yang mereka bagikan.

Facebook Cafe terbuka untuk semua kalangan, sejak 13 sampai 15 September 2019 di kawasan Melawai terpadu, Jakarta Selatan.

(Laporan: Alfi Salima Puteri)

1 dari 5 halaman

Jelang Pemilu AS 2020, Facebook Perketat Regulasi Iklan Politik

 Ilustrasi

Dream - Facebook mengumumkan akan memperketat regulasi iklan bermuatan politik jelang pemilu Amerika Serikat (AS) 2020. Kabar itu disampaikan Facebook di Newsroom miliknya.

" Hari ini, kami berbagi langkah-langkah tambahan untuk melindungi pemilih dan mempersiapkan pemilihan AS 2020," tulis Facebook, diakses Kamis, 29 Agustus 2019.

Facebook menyebut, penguatan ini dilakukan salah satunya dengan memberikan informasi lebih detail tentang perusahaan pengiklan di AS serta memperbarui beberapa isu yang berseliweran di aplikasi Facebook.

" Pada tahun 2018, kami mulai mengharuskan pengiklan untuk mendapatkan otorisasi sebelum menjalankan iklan tentang masalah sosial, pemilihan umum, atau politik. Kami juga menyimpan iklan-iklan itu di Perpustakaan Iklan sehingga iklan itu tersedia untuk umum selama tujuh tahun," kata Facebook.

Proses otorisasi ini mengharuskan pengiklan di AS memberikan idenfitikasi untuk mengonfirmasi siapa dan keberadaan mereka. Pengiklan juga menempatkan keterangan `dibayar oleh` pada iklan mereka.

 

2 dari 5 halaman

Organisasi Terkonfirmasi

Alasan inilah yang membuat, sejak pertengahan September, pengiklan perlu memberikan informasi mengenai organisasi mereka.

" Jika mereka tidak memberikan informasi ini pada pertengahan Oktober, kami akan menjeda iklan mereka," ujar Facebook.

Facebook menyebut, pengiklan punya lima pilihan informasi, tiga diantaranya menunjukkan apakah organisasi tersebut terdaftar di lembaga pemerintahan AS.

Salah satu dari tiga opsi sumber daya pemerintah yaitu mereka akan diizinkan untuk menggunakan nama organisasi terdaftar dalam disclaimer dan ikon " i" di sudut kanan atas iklan mereka akan bertuliskan " Organisasi yang Terkonfirmasi."

Selain memberikan alamat jalan, nomor telepon, email bisnis, dan situs web bisnis AS yang cocok dengan email itu, mereka harus memberikan salah satu dari yang berikut:

Nomor identifikasi organisasi terdaftar pajak, domain situs web pemerintah yang cocok dengan email yang berakhiran .gov atau .mil, dan Nomor identifikasi Federal Election Commission (FEC).

 

3 dari 5 halaman

Bukan Organisasi Besar

Facebook juga ingin memastikan pengiklan yang mungkin tidak memiliki kredensial tersebut. Misalnya, seperti bisnis kecil atau politisi lokal, dapat menjalankan iklan tentang masalah sosial, pemilihan umum atau politik.

Pengiklan juga dapat memilih salah satu dari dua opsi berikut,

- Kirim nama organisasi dengan memberikan nomor telepon yang dapat diverifikasi, email bisnis, alamat pengiriman surat, dan situs laman bisnis dengan domain yang cocok dengan email tersebut.

- Tidak memberikan informasi organisasi dan hanya mengandalkan nama resmi Halaman Admin pada dokumen identifikasi pribadi mereka. Untuk opsi ini, pengiklan tidak akan dapat menggunakan nama organisasi terdaftar di penafian.

- Pengiklan yang memilih salah satu dari dua opsi ini, ikon " i" akan membaca " Tentang iklan ini" dan bukan " Organisasi yang Dikonfirmasi."

- Ikon " i" membantu orang-orang di Facebook dan Instagram lebih memahami siapa yang mencoba memengaruhi mereka dan mengapa.

4 dari 5 halaman

Unggah Foto Ini, Pengguna Kena Larangan dari Facebook

Dream - Seorang pengguna Facebook, Faradilla Prameswari Laksani mendapat perlakuan tak biasa dari Facebook. Foto yang diunggahnya dianggap melanggar Standar Komunitas.

Unggahan ini dianggap berhubungan dengan ketelanjangan atau aktivitas seksual.

" Tidak ada orang lain yang dapat melihat postingan Anda," tulis keterangan itu.

 Unggahan kucing yang dilarang tayang Facebook (Foto: Faradilla Prameswari Laksani)

Unggahan kucing yang dilarang tayang Facebook (Foto: Faradilla Prameswari Laksani)

Uniknya, unggahan Faradilla tidak berhubungan dengan aktivitas pornografi. Rupanya, foto yang dia unggah hanya foto indukan kucing yang melahirkan anaknya.

Foto itu diambil dari atas kepala kucing. Meski diberi peringatan, unggahan tersebut telah dipulihkan. Faradilla sempat mengunggah permintaan maaf dari Facebook.

" Kami mohon maaf karena telah melakukan kesalahan. Kami meninjau kembali foto Anda dan foto tersebut sudah mematuhi Standar Komunitas kami. Kami menghargai Anda karena sudah meluangkan waktu untuk meminta peninjauan. Masukan Anda membantu kami menjadi lebih baik," tulis Facebook.

5 dari 5 halaman

Bitcoin Dapat Pesaing Berat, Facebook Bikin Uang Digital Libra

Dream - Bitcoin siap-siap kedatangan pesaing baru. Bukan perusahaan kecil, kali ini Bitcion harus siap bersaing dengan Facebook yang baru meluncurkan mata uang terbarunya, Libra.

Uang kripto ini diklaim mampu membeli dan mengirimkan uang kepada orang lain dengan biaya hampir nol.

Dilaporkan Techcrunch, dengan Libra, seorang pengguna, tanpa diketahui identitasnya, dapat membeli atau menguangkan secara online atau di toko-toko yang punya lokasi penukaran.

Rencananya, Facebook akan membangun aplikasi dompet Libra, atau Calibra. Aplikasi ini terintegrasi ke dalam WhatsApp, Messenger, dan aplikasi sendiri.

Hari ini Facebook merilis buku putih yang menjelaskan Libra dan testnet untuk mengetahui kekusutan sistem blockchain-nya, sebelum akhirnya peluncuran publik pada paruh pertama pada 2020.

Facebook tidak akan sepenuhnya mengendalikan Libra. Sejumlah perusahaan besar seperti Visa, Uber, dan Andreessen, turut menginvestikan dana sebesar US$10 juta untuk operasional di bawah Libra Association.

Facebook meluncurkan anak perusahaan yang juga disebut Calibra yang menangani transaksi kripto dan melindungi privasi pengguna. Perlindungan ini diklaim menghindarkan pengguna sebagai target iklan.

" Sukses akan berarti bahwa seseorang yang bekerja di luar negeri memiliki cara cepat dan sederhana untuk mengirim uang ke keluarga di rumah, dan seorang mahasiswa dapat membayar sewa semudah mereka membeli kopi," tulis Facebook dalam dokumentasi Libra.

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik