KPI Ingin Awasi YouTube dan Netflix, Kominfo: Harus Ada Regulasi Dulu

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 12 Agustus 2019 17:48
KPI Ingin Awasi YouTube dan Netflix, Kominfo: Harus Ada Regulasi Dulu
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran tidak disebutkan fungsi KPI juga termasuk mengawasi konten YouTube dan Netflix.

Dream - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menegaskan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membutuhkan regulasi untuk melakukan pengawasan konten yang tayang di YouTube dan Netflix.

" Kalaupun ada niat dari KPI (untuk mengawasi) harus dipastikan bahwa ada regulasi yang mendukung," ujar Plt Kabiro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu dikutip dari , Senin 12 Agustus 2019.

Menurut Ferdinan, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran tidak menyebutkan tugas KPI mengawasi konten YouTube dan Netflix.

" Ini artinya kalaupun KPI diberikan ruang untuk itu, harus di-state atau dinyatakan dalam UU penyiaran. Saat ini sedang dalam proses revisi oleh DPR RI," ucap dia.

Meski belum ada regulasi yang mengatur konten Youtube dan Netflix, Kementerian Kominfo mengimbau para pembuat konten, khususnya Youtuber, untuk memperhatikan norma dan etika di masyarakat. 

Yang paling penting, content creator dilarang membuat konten yang mengandung ujaran kebencian Suku, Agama, dan Ras (SARA).

" Tidak boleh mengandung radikalisme, terorisme, dan seterusnya," kata dia.

(Sumber: )

1 dari 5 halaman

Kenapa Youtube Populer Bagi Anak-anak?

Dream – Masih ingat dengan Youtuber Korea Selatan, Boram, yang bisa membeli rumah mewah senilai ratusan miliar rupiah?

Ya, bocah berusia 6 tahun ini bisa membeli hunian dari hasil keringatnya di Youtube. Saluran Youtube milik Boram termasuk salah satu yang terpopuler di Korea Selatan.

Pertanyaannya, mengapa saluran Youtube sangat populer di kalangan anak-anak?

Dikutip dari Wired, Senin 29 Juli 2019, para peneliti Pew Research Center, menganalisis video yang diposting oleh 43 ribu saluran di Youtube, yang memiliki 250 ribu pelanggan selama minggu pertama 2019.

Dalam seminggu pertama 2019, saluran-saluran ini mengunggah hampir seperempat juta video, dengan waktu durasi total 48 ribu jam.

Saluran video berbahasa Inggris, konten anak-anak, dan konten dengan anak berusia 13 tahun ke bawah merupakan video-video yang paling populer di Youtube.

Dari sini, ada catatan bahwa satu orang yang menonton video selama delapan jam sehari, memerlukan waktu lebih dari 16 tahun untuk menonton semua konten.

Video-video itu mencakup segalanya mulai dari politik hingga videogame. Sebagian besar tidak ditujukan untuk anak-anak. Tetapi konten yag berfitur anak-anak paling populer.

Para peneliti menemukan, hanya 2 persen dari video yang mereka analisis menampilkan seorang anak atau anak-anak yang nampak lebih muda dari 13 tahun.

Namun, konten video ini rata-rata memiliki tiga kali lebih banyak penayangan dibandingkan dengan jenis video lainnya.

“ Kami belum pernah melihat hal seperti ini yang dilakukan sebelumnya,” kata Direktur Tim Riset Data di Pew, Aaron Smith.

2 dari 5 halaman

Alasan Youtube Populer di Kalangan Anak-anak

Smith mengatakan, konten semacam ini akan cukup populer. “ Kami tahu bahwa orangtua membiarkan anak-anak mereka menonton video di Youtube,” kata dia.

Konten anak-anak populer di Youtube karena mengandung sesuatu yang ceria. Misalnya bayi superhero membuat rumah superhero. Atau bayi superhero bermain kartun.

“ Ini menarik hampir 14 juta kali penayangan,” kata Smith.

Dia melanjutkan, hanya 21 persen konten yang beredar di Youtube yang benar-benar menyasar anak-anak. Tapi video ini empat kali lebih populer daripada video “ umum”.

Ada 79 persen video lainnya dituju kepada remaja dan orang dewasa. Video ini juga sering menampilkan anak-anak.

3 dari 5 halaman

Bukan Platform Anak-anak

Youtube angkat bicara tentang hasil riset Pew. Juru bicara Youtube, Ivy Choi, menegaskan, saluran ini tidak ditujukan bagi anak-anak di bawah usia 13 tahun.

“ Kami tidak dapat berbicara dengan metodologi atau hasil Pew. Tetapi umumnya di YouTube, kategori video paling populer cenderung menjadi area seperti komedi, musik, olahraga, dan 'cara melakukannya'. Dan kami selalu jelas bahwa YouTube tidak pernah untuk orang di bawah 13 tahun,” kata Choi.

Menurut Choi, laporan itu hanya memeriksa platform utama Youtube dan API-nya. Laporan ini juga tidak memberikan informasi apakah pandangan ini berasal dari situs lainnya, seperti Youtube Kids.

Choi juga mengatakan bahwa Youtube juga menciptakan saluran untuk anak-anak, yaitu Youtube Kids. 

4 dari 5 halaman

Dari YouTube, Bocah 6 Tahun Beli Rumah Mewah Rp106 M

Dream – Dewasa ini, orang-orang menjadikan YouTuber sebagai sebuah pekerjaan. Membuat konten di platform ini memberikan penghasilan yang menggiurkan.

Malah, ada yang bisa membeli mansion mewah dari banting tulang di YouTube. Seperti yang dilakukan oleh seorang video blogger cilik bernama Boram.

Dikutip dari World of Buzz, Jumat 26 Juli 2019, bocah berusia 6 tahun ini bisa membeli rumah mewah seharga 9 miliar won (Rp106,75 miliar).

Rumah ini dibeli di daerah Cheongdam-dong, Gangnam. Kawasan ini termasuk sebagai salah satu area termahal di Seoul, Korea Selatan.

 

 Vlogger cilik ini membeli rumah senilai ratusan miliar rupiah dari YouTube.

 

Dari sertifikat rumah, diketahui bahwa keluarga Boram membeli properti seluas 258,3 meter persegi pada 3 April 2019.

Menariknya, rumah ini dibeli keluarga Boram setelah putri ciliknya populer di YouTube sejak setahun yang lalu.

5 dari 5 halaman

Kok Bisa Populer?

Boram menjadi bintang YouTube. Dia menyasar penonton anak-anak dengan konten aktivitas, review mainan, dan apa poun yang disukai oleh anak-anak.

Anak ini memegang dua saluran YouTube, yaitu Boram Tube Vlog dengan 17,6 juta pelanggan dan Boram Tube ToysReview dengan 13,6 juta pelanggan.

Kini, channel Boram menjadi salah satu yang terpopuler di Korea Selatan. Penontonnya mencapai 300 juta orabg.

Menurut Korea Herald, dua saluran ini diprediksi menggenjot pendapatan sekitar US$3,1 juta (Rp43,44 miliar) per bulan. 

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen