Serangan Siber Incar Pebisnis Indonesia, Ini Cara Hindari Kejahatan Fintech

Reporter : Dwi Ratih
Jumat, 19 Februari 2021 09:33
Serangan Siber Incar Pebisnis Indonesia, Ini Cara Hindari Kejahatan Fintech
Yuk lebih hati-hati.

Dream - Maraknya penggunaan keuangan digital di Indonesia menjadi sasaran para pelaku kejahatan digital tak hanya lokal tapi juga dunia. Selama pandemi Covid-19, tercatat ribuan serangan siber mulai masyarakat netizeen di Tanah Air.

Ketua Siberkreasi Yosi Mokalu dalam konferensi pers #AmanBersamaGojek di 2021, Kamis 18 Februari 2021 melaporkan jumlah serangan siber pada 2020 mengalami kenaikan signifikan hingga empat kali lipat dari tahun sebelumnya.

Yosi menyarankan para pelaku usaha mengaktifkan double verification atau sistem pengamanan ganda saat menggunakan aplikasi digital mereka. Masyarakat juga dihimbau menghindari penggunaan identitas diri sebagai kata sandi mereka.

Umumnya modus serangan siber dilakukan dengan membujuk atau memanipulasi psikologis para pelaku usaha untuk mengirimkan One-Time Password (OTP) atau data pribadi mereka dengan iming-iming kelancaran dana, pendaftaran, atau kebutuhan operasional lainnya.

Kewaspadaan juga dilakukan Gojek yang yang memiliki dompet digital 

“ Rekayasa digital adalah modus penipuan utama yang sering menyasar ke pelaku usaha oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujar Novi Tandjung, Head of Merchant Platform Business Gojek.

1 dari 4 halaman

Gojek Siap JAGA

Ilustrasi© Shutterstock

Dengan teknologinya, Gojek berusaha membantu para pelaku usaha untuk memberikan mereka keamanan dalam melakukan usaha melalui GoBiz, aplikasi di bawah naungan Gojek yang diperuntukan bagi para pelaku usaha di Indonesia.

Terbaru, Gojek mengeluarkan kampanye JAGA sebagai cara mengingatkan para pelaku usaha dari kemungkinan menjadi sasaran pelaku kejahatan dunia maya. Program ini diterjemahkan sebagai (J)angan transfer uang ke siapa pun, (A)mankan data usaha dan data pribadi, seperti kode OTP, 16 digit nomor kartu ATM/kredit, CVV, kode pin, dan lain-lain, (G)unakan fitur kelola pegawai di GoBiz untuk melindungi data usaha, dan (A)dukan hal yang mencurigakan lewat menu bantuan di halaman lainnya pada aplikasi Gobiz.

(Laporan: Silmi Safriyantini)

2 dari 4 halaman

Aplikasi Ovo Bermasalah, Ini Penyebabnya

Dream - Aplikasi keuangan digital, Ovo bermasalah pada Selasa, 5 November 2019. Aplikasi tersebut sempat tidak dapat digunakan untuk sejumlah transaksi.

" Saat ini aplikasi Ovo sedang mengalami error sebagai akibat dari gangguan jaringan yang mempengaruhi sebagian pengguna Ovo," ujar Head of Public Relations Ovo, Sinta Setyaningsih, dikutip dari Liputan6.com.

Sinta mengatakan masalah yang terjadi saat ini tengah dalam penanganan. Dia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami para pengguna.

" Tim Ovo sedang berupaya untuk mengatasi kendala ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dialami pengguna dan merchant Ovo," kata dia.

Netizen banyak mengeluhkan bermasalahnya Ovo. Hal ini ramai menjadi perbincangan di Twitter.

" Ovo down ya?"  tulis beberapa orang warganet.

Sumber: Liputan6.com/Iskandar

3 dari 4 halaman

PayPal Beli 70 Persen Saham GoPay

Dream – Ada kabar mengejutkan dari Paypal. Platform ini membeli mayoritas saham GoPay.

Tapi tunggu dulu, GoPay ini bukan bagian dari Go-Jek milik Nadiem Makarim dari Indonesia. GoPay ini singkatan dari Guofubao Information Technology Co — platform pembayaran dari Tiongkok.

Dikutip dari Tech Crunch, Selasa 1 Oktober 2019, dengan akuisisi ini, Paypal menjadi platform pembayaran asing pertama yang melayani warga Tiongkok.

GoPay Tiongkok memiliki lisensi transaksi online dan seluler, pembayaran digital e-commerce, perdagangan lintas batas negara, penerbangan dan lainnya.

Paypal akan mengambil alih 70 persen saham GoPay melalui anak usahanya, Yinbaobao Information Technology, seperti yang dikabarkan Guofubao dalam keterangan tertulisnya.

Sayangnya, perusahaan tidak mengabarkan detail pembelian saham lebih lanjut.

4 dari 4 halaman

Pasar `Gurih`

Kabar PayPal mengembangkan sayap di Tiongkok datang saat “ tensi” Amerika Serikat—Tiongkok memanas.

Nantinya, platform ini akan berhadap langsung dengan pemain dompet elektronik Tiongkok, yaitu AliPay dan WeChat Pay.

Dikatakan juga masih ada ruang yang besar untuk tumbuh dan bermanfaat bagi Tiongkok.

Pasar pembayaran di Tiongkok menjanjikan. Berdasarkan riset Forst&Sulivan, pasar ini akan tumbuh jadi US$96,73 triliun (Rp1.372.802 triliun) pada 2023. Pertumbuhannya didorong dari peningkatan transaksi e-commerce.

Dari laporan ini, disebutkan bahwa jumlah pengguna aktif pembayaran mobile melalui ponsel naik dari 562 juta pada 2017 menjadi 956 juta pada 2023. 

Beri Komentar