Data Satelit Ungkap Fakta Mengejutkan Saat Corona Pertama Menyebar di Wuhan

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 11 Juni 2020 11:46
Data Satelit Ungkap Fakta Mengejutkan Saat Corona Pertama Menyebar di Wuhan
Penelitian ini diungkapkan dari hasil riset Harvard Medical School berdasarkan gambar satelit pola perjalanan rumah sakit dan data mesin dari mesin pencarian.

Dream - Studi terbaru menunjukkan bahwa virus corona sudah menyebar di China sejak Agustus 2019. Sebelumnya, virus Corona disebut-sebut mulai mengamuk di Wuhan pada Desember tahun lalu.

Penelitian ini diungkapkan dari hasil riset Harvard Medical School berdasarkan gambar satelit tentang pola perjalanan rumah sakit dan data mesin pencarian.

Dilansir oleh laman CNBC, penelitian tersebut menggunakan citra sateliit resolusi tinggi dari tempat parkir rumah sakit di Wuhan yang dicurigai menjadi tempat pertama kalinya virus tersebut merebak pada akhir 2019.

Selain itu, para peneliti juga memanfaatkan data mesin pencarian untuk pertanyaan-pertanyaan terkait gejala penyakit seperti 'batuk' dan 'diare'.

" Peningkatan lalu lintas rumah sakit dan data pencarian gejala penyakit di Wuhan mendahului awal pandemi SARS-CoV-2 [virus penyebab Covid-19] yang didokumentasikan pada Desember 2019," demikian jelas penelitian tersebut.

 

1 dari 5 halaman

Meski para peneliti belum bisa mengkonfirmasi peningkatan volume tersebut berkaitan langsung dengan virus corona, namun bukti tersebut mendukung penelitian terbaru lainnya yang menunjukkan fenomena tersebut terjadi sebelum terkuaknya identifikasi di pasar sea food Huanan, Wuhan.

" Temuan ini juga menguatkan hipotesis bahwa virus muncul secara alami di China selatan dan berpotensi sudah beredar pada saat cluster Wuhan merebak," lanjut keterangan dalam jurnal penelitian tersebut.

Menurut hasil penelitian tersebut, terlihat adanya peningkatan tajam dalam hal hunian tempat parkir di rumah sakit sejak Agustus 2019.

" Pada bulan Agustus, kami mengidentifikasi peningkatan yang unik dalam pencarian gejala diare yang tidak terlihat pada musim flu sebelumnya, dan tercermin juga dalam data pencarian untuk gejala batuk," tutup para peneliti.

2 dari 5 halaman

Penelitian Universitas Cambridge: Asal Virus Corona Bukan di Wuhan

Dream - Selama ini, kita selalu beranggapan bahwa awal merebaknya wabah virus corona yang berpusat di Wuhan, Provinsi Hubei, China, dimulai pada akhir bulan Desember 2019.

Namun, para peneliti di University of Cambridge meragukan keyakinan bahwa wabah virus corona terjadi mulai akhir Desember 2019 dan berawal dari Wuhan.

Penelitian baru menunjukkan wabah ini mungkin berasal dari wilayah yang lebih ke selatan dari Wuhan dan mulai menular kepada manusia pada awal September 2019.

Meski belum diulas oleh rekan peneliti lainnya, penemuan tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences.

Virus Corona Bermutasi Selama Berbulan-bulan

Menurut penemuan tersebut, virus corona penyebab Covid-19 ini mungkin telah bermutasi menjadi jenis yang efisien dalam menginfeksi manusia berbulan-bulan yang lalu.

Tetapi virus tersebut masih tinggal diam di dalam tubuh kelelawar atau hewan lainnya, atau bahkan manusia selama beberapa bulan, tanpa menular ke manusia lainnya.

" Setelah itu, ia mulai menginfeksi dan menyebar di antara manusia antara 13 September dan 7 Desember, menghasilkan jaringan yang kami sajikan dalam (jurnal) Prosiding National Academy of Sciences (PNAS)," kata Peter Forster, ahli genetika di University of Cambridge.

Infeksi Pertama Kali di China Selatan

Para peneliti menganalisis strain (turunan) virus corona menggunakan jaringan filogenetik - suatu algoritma yang dapat memetakan pergerakan global organisme melalui mutasi gen mereka.

Ketika mencoba untuk menentukan lokasi pasti dari pasien nol - manusia pertama yang terinfeksi virus corona - tanda-tanda awal mendorong peneliti untuk melihat wilayah yang terletak lebih ke selatan dari kota Wuhan, di mana infeksi pertama kali dilaporkan pada bulan Desember.

" Yang kami rekonstruki dalam jaringan filogenetik adalah penyebaran signifikan pertama di antara manusia," kata Forster.

Virus Corona Menyebar Diam-diam

Bersama dengan timnya, Forster menganalisis lebih dari 1.000 urutan genom lengkap dari virus corona.

Dengan menghitung berbagai mutasi virus, mereka semakin dekat dalam mencari tahu kapan manusia pertama terinfeksi oleh strain yang paling mirip dengan virus yang menyebar di antara kelelawar.

Mereka menemukan ratusan mutasi. Ini menunjukkan bahwa virus corona mungkin telah menyebar secara diam-diam pada hewan inang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menulari manusia. Virus corona umumnya mengalami satu mutasi dalam satu bulan.

 

3 dari 5 halaman

Butuh Sampel yang Lebih Banyak

Ada laporan yang belum diverifikasi bahwa virus tersebut berasal dari laboratorium di Wuhan di mana para peneliti melakukan penelitian tentang penyakit pada kelelawar. Tetapi hasil studi yang dilakukan Forster tidak mendukung laporan tersebut.

" Jika saya didesak untuk menjawab, saya akan mengatakan awal penyebaran sebenarnya lebih mungkin di China Selatan daripada di Wuhan," kata Forster.

" Tetapi bukti hanya dapat diperoleh dengan menganalisis lebih banyak kelelawar, hewan inang potensial lainnya, dan sampel jaringan yang diawetkan di rumah sakit di China antara September dan Desember," tambah Forster.

Forster lebih lanjut mengatakan proyek riset seperti yang dilakukannya akan membantu dalam memahami penularan virus corona sehingga pandemi seperti sekarang ini tidak terulang di masa depan.

Jaringan filogenetik umumnya dianggap andal dalam melacak mutasi genetik sebuah mikroorganisme.

Tetapi metode ini dibatasi oleh ukuran sampelnya dan harus mengasumsikan kecepatan mutasi yang mungkin tidak akurat.

4 dari 5 halaman

Mantan Peneliti Ungkap Rahasia Laboratorium Wuhan yang Dituduh Sebarkan Corona

Dream - ;Seorang mantan peneliti di Wuhan Institute of Virology (WIV) meminta fasilitas penelitian itu dan para ilmunya untuk proaktif menjernihkan informasi yang salah tentang asal usul virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Zhao Fei, yang kuliah dan bekerja di WIV selama beberapa tahun hingga akhir 2018, menulis pembelaan yang panjang di ScienceNet pada akhir pekan.

Artikelnya menolak teori bahwa virus penyebab Covid-19 itu diproduksi di institut tersebut atau secara tidak sengaja bocor dari laboratorium WIV.

Tanggung Jawab dan Bahkan Kesalahan Kalian

Zhao menuduh media dan politisi telah mencemarkan reputasi WIV dan peneliti terkenalnya Shi Zhengli, setelah virus Covid-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan akhir tahun lalu.

" Dari sudut pandang pribadi saya, WIV dan Shi harus bangkit untuk menyangkal rumor dan stigma ini satu per satu. Tetapi mereka juga tunduk pada batasan tertentu dalam situasi ini," tulis Zhao.

Zhao percaya bahwa lebih baik bagi WIV dan Shi untuk secara jujur, obyektif, dan rasional menjelaskan tentang situasi mereka. Termasuk pekerjaan, upaya, prestasi, dan tekanan yang dihadapi.

" Juga tanggung jawab dan bahkan kesalahan kalian ... itu akan jauh lebih baik dan lebih meyakinkan daripada sanggahan dan analisis yang saya tulis ini," tambah Zhao.

'Motif Tersembunyi'

Zhao mengatakan juru bicara resmi WIV harus segera merilis informasi dan memberikan izin bagi setiap ilmuwan untuk berbicara tentang pekerjaan mereka.

Selain itu, WIV juga harus segera mengambil tindakan terhadap orang-orang yang menyebar hoax atau berita palsu.

Zhao mempertanyakan 'motif tersembunyi' dari beberapa pihak yang mencurigai laboratorium WIV. Dia membela protokol keamanan yang ada di laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi tersebut.

Dia juga menguraikan langkah-langkah yang telah dilakukan WIV sejak kasus pertama virus corona dilaporkan, termasuk berhasil mengisolasi strain virus Covid-19 dan melakukan penelitian untuk menciptakan vaksin.

Pembelaan Zhao muncul di tengah tekanan yang meningkat untuk upaya penyelidikan independen tentang asal-usul virus SARS-CoV-2.

5 dari 5 halaman

Covid-19 Kemungkinan Besar Menyebar dari Sini

Tetapi para ilmuwan mengatakan virus corona itu kemungkinan besar menyebar dari hewan ke manusia. Itu karena urutan genom-nya sekitar 96 persen identik dengan kelelawar Rhinolophus affinis.

Ada konsensus dalam komunitas ilmiah internasional bahwa kelelawar ini mungkin menyediakan tempat alami bagi virus dan entah bagaimana ditransmisikan ke manusia, mungkin melalui hewan lain.

Meski asal-usul pasti dari SARS-CoV-2 belum ditemukan, penelitian telah menunjukkan bahwa virus tersebut kemungkinan berasal dari hewan.

Ini Buktinya

Sebuah studi yang dipimpin oleh Kristian Andersen, dari Scripps Research Institute di California, menganalisis data genom virus SARS-CoV-2.

Mereka menemukan bukti bahwa virus itu 'bukan dibuat di laboratorium atau sengaja direkayasa'.

Dimitrios Paraskevis, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Nasional dan Kapodistrian di Athena, Yunani, mengatakan belum ada bukti urutan genomik virus corona adalah hasil eksperimen. Sehingga kecil kemungkinan virus tersebut berasal dari laboratorium.

" Berdasarkan temuan yang diterbitkan sebelumnya, kemungkinan kecil bahwa SARS-CoV-2 melompat ke manusia di laboratorium penelitian," katanya.

Beri Komentar