Space X Bawa Printer 3D ke Luar Angkasa

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 26 Juli 2019 15:47
Space X Bawa Printer 3D ke Luar Angkasa
Dibuat di luar angkasa karena sejumlah alasan.

Dream - Perusahaan penerbangan antariksa partikelir, Space X meluncurkan Falcon 9 Kamis, 25 Juli 2019. Di dalam pesawat tersebut terdapat printer 3D dan persediaan uji coba lain.

Perusahaan bio teknologi nScrypt dan Techshot mengatakan, printer 3D itu akan dikontrol oleh ilmuwan dari bumi.

Printer tersebut akan diuji coba untuk membuat jaringan manusia jarak jauh. Printer itu akan membuat sel syaraf, sel otot, dan protein.

Eksperimen ini digunakan di ruangan dengan gravitasi minim untuk membantu bentuk sel yang tercipta.

Dilaporkan CGTN, printer tersebut berukuran seperti kulkas kecil. Benda itu dibawa dalam kapsul Dragon yang mengorbit ke luar angkasa.

Seluruh eksperimen itu akan dioperasikan di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

1 dari 5 halaman

Astronot Suka Makanan Pedas, NASA Jajal Berkebun Cabai di Luar Angkasa

Dream - Astronot badan luar angkasa Amerika Serikat (The National Aeronautics and Space Administration/NASA) tahun ini akan mencoba berkebun di luar angkasa. Astronot dan para peneliti akan menanam cabai Espanola atau Capsicum annuum.

" Kami juga mencari varietas yang tidak tumbuh terlalu tinggi, namun sangat produktif di lingkungan terkendali yang akan kami gunakan di luar angkasa," kata ahli fisiologi tanaman NASA, Ray Wheeler dilaporkan Science Alert.

Ray mengatakan, cabai Espanola dipilih karena para astronot kerap ingin mencicipi makanan hangat yang pedas dan beraroma menggoda.

Cabai ini juga mengandung vitamin C yang sangat tinggi yang diperlukan para astronot saat melakukan diet di luar angkasa.

Meskipun ada ribuan jenis cabai, paprika Espanola dipilih sebagian karena mereka tumbuh di tempat yang tinggi, memiliki periode pertumbuhan yang pendek, dan dapat dengan mudah diserbuki.

 

2 dari 5 halaman

Rusia Uji Lebih Awal

Astronot dan kosmonot sudah merintis teknik berkebun di stasiun ruang angkasa sejak 1982. Ketika itu awak pesawat ruang angkasa Soviet Salyut 7 pertama kali menumbuhkan tanaman model Arabidopsis.

Kosmonot Rusia juga telah memakan produk luar angkasa mereka sendiri sejak 2003. Tetapi baru pada 2015 para astronot Amerika mendapatkan rasa pertama selada luar angkasa mereka.

Beberapa sayuran mulai di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Beberapa sayuran yang tumbuh diantaranya, selada, lobak Swiss, lobak, kol Cina, dan kacang polong.

Kacang polong secara botani merupakan bagian dari buah. Rusia menanamnya selama bertahun-tahun di segmen Rusia ISS.

Tumbuhan memiliki sedikit kesulitan tumbuh dalam gayaberat mikro karena sistem akarnya kompleks dan biasanya menggunakan gravitasi bumi.

Rencana berkebun di luar angkasa ini penting sebagai bagian dari rencana ambisius NASA ke Mars. (Sah)

3 dari 5 halaman

Menakjubkan! NASA Foto Indonesia dari Stasiun Luar Angkasa

Dream - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membagikan foto Stasiun Internasional Luar Angkasa (ISS) saat mengudara di atas Indonesia. Foto tersebut diunggah pada 3 Juli 2019.

" Lingkungan yang damai: Sinar matahari memancar dari Laut Sulawesi di Asia Tenggara saat @space_station terbang di atas Indonesia," tulis NASA.

Ini bukan kali pertama ISS melayang di atas Indonesia. Pada 15 Mei, ISS mempublikasikan penampakan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat (NTB).

ISS tebang di ketinggian rata-rata 400 kilometer di atas Bumi. ISS berkeliling dunia tiap 90 menit dengan kecepatan 28.000 kilometer per jam.

Dalam sehari, ISS menempuh jarak yang diperlukan untuk pergi dari Bumi ke Bulan dan kembali ke Bumi.

ISS dibantu pusat kendali misi di Houston dan Moskow, serta pusat kendali muatan di Huntsville -- di samping dukungan dari Jepang, Kanada, dan Eropa. Selain NASA, ada beberapa badan luar angkasa yang terlibat di dalam ISS, di antaranya Roscosmos (Rusia), JAXA (Jepang), ESA (Eropa), dan CSA (Kanada) serta 15 badan luar angkasa lainnya.

4 dari 5 halaman

NASA Cari Tanda Kehidupan di Titan Pakai `Capung`

Dream - Badan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space Administration/NASA) mengumumkan misi terbarunya pada Kamis, 27 Juni 2019. Menggunakan kendaraan terbang bernama Dragonfly, atau Capung, NASA ingin mengeksplorasi `bulan` Saturnus, Titan.

Dilaporkan CNet, Titan merupakan satelit yang dipenuhi es. Di sistem satelit itu terdapat danau metana besar dan pulau yang dapat menghilang secara misterius. Titan juga disebut sebagai bulan terbesar kedua di tata surya.

NASA rela mencari tahu satelit itu karena kondisi Titan menyerupai kondisi bumi paling awal. Harapannya, Titan dapat menjadi koloni manusia di masa depan.

" Dragonfly akan mengunjungi dunia yang dipenuhi berbagai senyawa organik yang merupakan unsur pembangun kehidupan dan dapat mengajarkan kita tentang asal usul kehidupan itu sendiri," kata Thomas Zurbuchen dari NASA.

Dragonfly menjalankan misi awal selama 2,7 tahun. " Dragonfly menandai pertama kalinya NASA menerbangkan kendaraan multirotor untuk ilmu pengetahuan di planet lain; Dragonfly memiliki delapan rotor dan terbang seperti drone besar," kata NASA.

Insinyur NASA sedang mempersiapkan Dragonfly untuk meneroka wilayah seluas 175 kilometer di Titan.

5 dari 5 halaman

Muncul Awan Misterius di Mars, Ilmuwan Keheranan

Dream - Mars masih menjadi onjek menarik sekaligus penuh teka-teki bagi sejumlah ilmuwan. Baru-baru ini, robot pendaratan Mars milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) InSight dan penjelajah Curiositu mengirimkan pemandangan awan tipis.

Tetapi, awan tersebut bukan hujan yang terjadi di Mars. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Victoria Hartwick, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Colorado Boulder, awan misterius itu terbentuk di atmosfer tengah Mars, sekitar 30 kilometer di atas tanah.

" Awan tidak hanya terbentuk secara mandiri," kata Hartwick, dilaporkan CNet, Selasa, 18 Juni 2019.

" Awan itu membutuhkan sesuatu yang bisa mereka padukan."

Hartwick menduga, rahasia kemunculan awan tersebut berasal dari " asap meteorik" . Debu es yang terbentuk ketika batuan ruang angkasa terbang ke atmosfer planet.

Beberapa ton puing luar angkasa biasanya menabrak Mars setiap hari, kata Hartwick. Saat meteor meledak, debu beterbangan.

Di Bumi, partikel debu muncul sebagai biji  uap air yang mengembun di sekitar untuk membentuk awan. Tindakan serupa bisa terjadi di Mars.

Para peneliti menjalankan simulasi komputer atmosfer Mars. Awan muncul dalam simulasi hanya ketika tim memasukkan meteor dalam perhitungan.

Tim menerbitkan temuannya padai Senin di jurnal Nature Geoscience.

Meneliti awan Mars dapat memberi tahu para ilmuwan lebih banyak mengenai interaksi atmosfer dengan iklimnya. Serta, memberi petunjuk tentang masa lalunya yang lebih hangat dan basah.(Sah)

Beri Komentar
Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-