Baca Data FlightRadar, Kapten Vincent Beber 4 Menit Mencekam Sriwijaya Air SJ182

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 12 Januari 2021 07:45
Baca Data FlightRadar, Kapten Vincent Beber 4 Menit Mencekam Sriwijaya Air SJ182
Analisa tersebut diungkap pilot dan youtuber, Kapten Vincent yang menegaskan data dari Flightradar belum tentu akurat namun bisa menjadi petunjuk sementara.

Dream - Memasuki hari ketiga sejak musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta - Pontianak, banyak pihak mulai menebak penyebab peristiwa nahas tersebut. Data yang selama ini sudah diketahui publik adalah rekaman penerbangan pesawat yang ditangkap situs flightradar24. 

Situs Flightradar24 sendiri adalah layanan pelacakan penerbangan pesawat komersial secara real time yang menunjukkan informasi penerbangan pesawat terbang waktu nyata pada peta.

Penayangan meliputi jalur penerbangan, tempat asal dan tujuan penerbangan, nomor penerbangan, jenis pesawat terbang, posisi, ketinggian, arah dan kecepatan.

Rekaman ini juga dilengkapi dengan data historis penerbangan yang dapat dikelompokkan berdasarkan maskapai penerbangan, jenis pesawat, atau bandara. 

Salah satu yang mempelajari data penerbangan tersebut adalah pilot sekaligus Youtuber yang sempat viral, Captain Vincent Raditya, pilot sekaligus YouTube. Menggunakan data Flightradar24, Vincent menegaskan analisanya dibuat bukan untuk mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat.

" Banyak orang meminta, penasaran, data (flightradar24) ini artinya apa? jadi kita akan membahas pure data," ujar Kapten Vincent.     

1 dari 7 halaman

Penjelasan Waktu

Dalam unggahan YouTubenya, Kapten Vincent juga menegaskan data yang diitunjukan dalam situs tersebut bisa saja saja dan akurasinya masih bisa dipertanyakan. 

Data pertama yang dianalisa Kapten Vincent adalah jam penerbangan pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Di awal video rekaman terdapat angka pukul 6.37 AM UTC.

" Waktu di sini adalah waktu UTC atau universal time coordinated. Artinya jam yang ada di pesawat kita itu menggunakan jam UTC. Sehingga jam di Jakarta harus dikalkulasi sendiri," ujar Vincent.

Merujuk pada ketentuan perbedaan waktu 7 jam, artinya data flightradar24 menunjukan pesawat sudah berada di Bandara untuk melakukan penerbangan pukul 13.37 WIB. 



 

2 dari 7 halaman

Ada Kesalahan di Sensor Flight Radar

Pada waktu tersebut, Vincent melihat pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sudah melakukan push back. Dalam waktu dua menit, Vincent menduga pesawat sudah mulai start engine setelah menjalani taxi-way. Sekitar pukul 13.40 WIB, pesawat sudah mulai taxi atau berjalan di darat dari atau ke runway. 

Namun di menit ini, Kapten Vincent menemukan kejanggalan karena pesawat melakukan taxi ke arah sebelah kiri atau menuju apron. Dia curiga data tersebut kemungkinan tidak akurat dengan posisi pesawat yang sebenarnya. 

" Makanya saya bilang flightradar ini bisa agak tidak akurat. Lalu ada blip dia loncat kesana, ini seperti kesalahan sensor," jelasnya.

Saat melihat data menit-menit berikutnya, Kapten Vincent juga sempat bingung melihat pergerakan pesawat yang melakukan RTA atau kembali ke apron. 

Akibat mengalami delay, data flightradar menunjukkan pesawat baru take off pukul 14.35 sesusai jadwal.

3 dari 7 halaman

Pesawat Oleng 3 Derajat

Selama proses takeoff, Kapten Vincent melihat tidak ada pergerakan yang ganjil dari pesawat Sriwijaya SJ-182. Semua proses dan waktu yang dihabiskan rata-rata normal seperti pesawat yang akan terbang lainnya. 

Dari data tersebut, rute yang digunakan oleh SJ 182 adalah ABASA, yakni pesawat harus menuju NBIL dan harus terbang sampai ke ketinggian 8000. Kondisi pesawat tampak normal dengan round speed yang sudah terbaca mencapai 268 knots.

" Di sini tidak ada indikasi apapun bahwa pesawat ini ada masalah. Altitude dan speednya masih normal semua," tegas Vincent.

Keanehan baru mulai terdeteksi saat pesawat terbang telah meninggalkan terminal Bandara Soetta.

4 dari 7 halaman

Pesawat Tiba-Tiba Keluar Jalur dan Menukik

Namun di waktu 14.39, Vincent menemukan pesawat oleng sekitar 3 derajat dari jalur yang ditempuh. Seharusnya pesawat tersebut berada di 40 derajat namun menjadi 43 derajat. Meski demikian Vincent masih menduga hal ini wajar dan bisa disebabkan pesawat terkena turbulence.

Yang mengejutkan Kapten Vincent, kurang dari satu menit atau pukul 14.40, pesawat mendadak belok ke kiri atau keluar dari jalurnya lagi sebesar 16 derajat. Namun dari data yang diperlihatkan, kecepatan maupun ketinggian pesawat masih cukup normal kendati keluar dari jalur.

" Ini sesuatu hal yang sudah cukup mencurigakan walaupun pesawat bisa jadi terkena turbulence dan bisa kembali," ujarnya.

Masih di waktu yang sama, pesawat juga mencatat membelok dari jalur yang seharusnya hingga posisinya berubah 23 derajat.

" Kurang dari 1 menit, pesawat ini off track 40 derajat," kata Vincent.

Data FlightRadar24© YouTube Captain Vincent

Kemudian flightradar menunjukkan pesawat yang tiba-tiba menghadap ke kiri di posisi 339 derajat. Tak hanya itu saja, pesawat juga mengalami penurunan ketinggian (dive down) sampai ke 8.950 feet sedangkan ground speed-nya turun jadi 224.

" Ini ada kemungkinan indikator air speed dia di bawah 200 knot, kalau kita membaca dengan kondisi seperti ini ya," jelas Vincent. 

5 dari 7 halaman

Sulit Recover

Kondisi ini dijelaskan oleh Vincent sangat beresiko mengalami stall. Dugaan ini juga muncul karena kecepatan pesawat jatuh kembali menjadi 192 knot dan ketinggiannya turun lagi menjadi 8.125 feet.

" Ini indikasi keras pesawat ini rterkana  full stall, akan pulih sekali di-recover dengan ketinggian segini," jelasnya.  

 

Masih pada menit yang sama, kecepatan pesawat dari data Flightradar24  turun lagi menjadi 115 knot dan ketinggiannya jadi 5.400 feet.

Hingga di akhir rekaman, angka terakhir pesawat di flightradar terus turun ke ketinggian 250 feet dengan kecepatan meningkat menjadi 358 knot.

 

6 dari 7 halaman

Hanya Membacakan Data, Tidak Menyimpulkan

Kapten Vincent menekankan bahwa analisanya hanya diperoleh dari membaca data flightradartersebut. Ia juga menyebut bahwa data dari flightradar24 belum tentu akurat namun bisa menjadi petunjuk sementara.

Vincent menjelaskan, untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat perlu analisis lebih lanjut lewat CDR maupun FDR.

7 dari 7 halaman

Masih Dalam Pencarian

Hingga kini, sejumlah tim terus menyisir area jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dan melakukan pencarian.

Dilansir dari merdeka.com, ada sekitar 53 kapal, 13 alat udara, serta 12 unit ambulans yang dikerahkan. Sementara pada pukul 09.00 WIB pada Senin 11 Januari 2021 ini, tim DVI telah menerima 16 kantong jenazah, 3 kantong properti body, serta 40 sampel DNA dari keluarga korban.

Beri Komentar