Penampakan Awan Aneh Muncul di Langit Irak, Pertanda Apa?

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 19 Juni 2020 18:03
Penampakan Awan Aneh Muncul di Langit Irak, Pertanda Apa?
Bentuk awan seperti gumpalan kapas yang bermunculan dalam jumlah banyak di langit sore Kota Kurdistan, Irak.

Dream - Fakta kita jarang melirik awan memang benar adanya. Kecuali ketika awan menuntut perhatian kita untuk melihat ke arah mereka.

Baru-baru ini seorang netizen Twitter dengan akun Omed (OmedMuhammad666) mengunggah foto penampakan awan yang sangat langka muncul di Irak.

Secara detail Omed menjelaskan bentuk awan seperti gumpalan kapas yang bermunculan dalam jumlah banyak di langit sore Kota Kurdis, Irak.

1 dari 7 halaman

 Awan Mammulus© World of Buzz

Melansir dari World of Buzz, awan yang bergerombol dan berbentuk seperti kapas itu disebut Mammatus clouds. Awan jenis ini tergolong sebagai awan langka yang jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan menurut penelitian, kemunculan aawan ini hanya berlangsung dalam waktu singkat sekitar 10-15 menit.

Menurut pengamatan ilmuwan, awan ini merupakan hasil perkembangan dari awan cumulonimbus, meski dapat juga ditemukan dalam lapisan altostratus ataupun cirrus.

Adapun kemunculan awan ini dipercayai oleh para ilmuwan sebagai tanda akan munculnya badai atau cuaca yang buruk.

2 dari 7 halaman

Undang Komentar Netizen

" Hari ini di Amedi," tulis Omed dalam unggahannya.

Sontak saja, berselang dua hari, unggahan foto awan langka itu telah disukai lebih dari 6.400 Netizen dan juga sudah dibagikan kembali sebanyak 26 ribu kali.

Sementara itu, netizen Twitter secara otomatis langsung menanggapi fenomena langka kemunculan awan Mammatus Clouds ini.

" Wow, Seandainya aku bisa menyentuh awan tersebut," tutur salah seorang netizen.

 

Sumber: World Of Buzz

3 dari 7 halaman

Komet dan Benda Langit Terkait Bencana? Ahli Falak NU Bicara

Dream - Dalam literatur falakiyah klasik, komet disebut sebagai najm dhu dhu’aba atau kawkab dhu dhu’aba. Untuk memudahkan pengucapan, boleh disebut dhu’aib atau dhanab.

Meski sedikit berbeda tulisan dan pengucapannya, semua istilah itu memiliki arti yang sama. Yaitu bintang yang berambut atau bintang yang berekor.

Namun ada pendapat yang mengatakan, benda langit ini secara simbolik disebut najm tsaqib dan ini tertulis dalam Alquran, khususnya Surat ath–Thaariq ayat 3.

Dalam Surat ath–Thaariq ayat 1-2, Allah bersumpah dengan langit dan bintang yang datang di malam hari.

Kemudian di ayat 3, Allah menyebut bintang itu cahayanya sangat terang seakan-akan menembus kegelapan malam.

Bintang tersebut diinterpretasikan sebagai bintang yang bentuknya mirip mata tombak atau jarum, salah satu ciri khas penampakan komet.

 

4 dari 7 halaman

Benda Langit Dianggap Pembawa Petaka

Sayangnya, banyak yang mengaitkan benda langit seperti komet dengan malapetaka buruk yang bisa menghancurkan Bumi dan isinya.

Misalnya kabar baru-baru ini yang mengatakan akan ada benda langit menabrak Bumi pada malam Jumat, 15 Ramadhan 1441 Hijriyah. Seolah-olah kiamat bakal terjadi.

Namun kabar yang sempat viral itu ternyata hanya hoax sehingga warga Muslim dianjurkan tetap fokus pada ibadah di bulan Ramadhan.

 

 

5 dari 7 halaman

Penyebab Benda Langit Dianggap Pembawa Petaka

Umat manusia sebenarnya sudah lama mengenal komet dalam sejarah peradabannya. Sayangnya, selama lebih dari 2.000 tahun terakhir, komet dan benda langit lainnya sering dikaitkan dengan malapetaka buruk.

Banyak ramalan-ramalan tentang penampakan komet dan meteor yang berpotensi menghancurkan Bumi dan seluruh isinya.

Tentang banyaknya ramalan-ramalan ini, pengurus Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), Ma'rufin Sudibyo, mengungkapkan penyebabnya.

Menurut ahli falak NU ini, biang keladi terbentuknya pemahaman ini adalah filsuf Yunani, Aristoteles. Ajarannya kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi.

 

 

6 dari 7 halaman

Komet Bukan Pembawa Bencana

Padahal, kata Ma'rufin, catatan-catatan pengamatan komet dalam literatur falak klasik tidak memiliki ramalan-ramalan tersebut.

" Catatan-catatan pengamatan komet dalam literatur falak klasik yang membentang selama 8,5 abad, tepatnya dari tahun 57 H hingga 915 H, tidak menunjukkan kecenderungan tersebut," kata Ma'rufin.

Seperti yang diungkapkan oleh Ma'rufin, kemunculan komet yang dikaitkan dengan bencana atau malapetaka berawal dari Aristoteles.

7 dari 7 halaman

Semuanya Adalah Urusan Allah SWT

Aristoteles mengaitkan komet Kreutz yang dilihatnya pada tahun 372 Sebelum Masehi. Hanya beberapa hari kemudian terjadi gempa besar Achaea yang menghancurkan kota Helice dan Buris.

Sejak itu Aristoteles memandang kemunculan komet sebagai tanda akan datangnya sebuah bencana atau malapetaka. Pemahaman yang salah ini terus bertahan hingga kini.

Namun, sebagai orang yang beriman, sebaiknya kita menyerahkan segala urusan yang berkaitan dengan maut dan bencana kepada Allah SWT.

Hanya Allah SWT yang tahu kapan dan bagaimana manusia itu akan meninggal dunia. Allah SWT juga yang tahu kapan kiamat itu akan tiba.

Sumber: NU.or.id

Beri Komentar