Fenomena 'Kodokushi', Menyedihkan Tapi Jadi Tren di Jepang

Reporter : Puri Yuanita
Jumat, 15 Desember 2017 17:15
Fenomena 'Kodokushi', Menyedihkan Tapi Jadi Tren di Jepang
Tidak ada angka resmi untuk jumlah orang yang mengalami Kodokushi, namun kebanyakan ahli memperkirakannya berjumlah 30.000 per tahun.

Dream - Bau busuk tiba-tiba menyeruak, memenuhi ruangan ketika seorang petugas kebersihan bernama Hidetmitsu Ohshima masuk ke sebuah apartemen kecil di Tokyo, dimana ada jasad orang meninggal yang telah terbaring selama 3 minggu.

Pria tersebut diyakini berusia 50-an. Ia meninggal sendirian di tengah kota yang populasinya puluhan juta, tanpa ada orang yang memperhatikannya. Ia adalah korban dari " Kodokushi" atau 'sekarat sendirian' - fenomena sosial yang belakangan banyak terjadi dan seolah jadi tren di Jepang.

Melengkapi tubuhnya dengan setelan pakaian pelindung putih lengkap dengan sarung tangan karet, Ohshima kemudian membersihkan kasur dan menyemprotkan cairan khusus untuk mematikan belatung dan serangga hitam yang menggeliat di tempat tergeletaknya jasad.

" Ugh, ini serius," katanya. " Anda harus memakai pakaian pelindung untuk melindungi diri Anda dari serangga yang mungkin membawa penyakit."

Kodokushi adalah masalah yang sedang berkembang di Jepang, dimana 27,7 persen penduduknya berusia di atas 65 tahun dan banyak orang menyerah untuk mencari pasangan di usia paruh baya sehingga memilih untuk hidup sendiri.

Para ahli mengatakan kombinasi faktor budaya, sosial, dan demografi Jepang yang unik telah menambah masalah.

Tidak ada angka resmi untuk jumlah orang yang mengalami Kodokushi, namun kebanyakan ahli memperkirakannya berjumlah 30.000 per tahun.

 

 

1 dari 1 halaman

Jumlah Perkawinan di Jepang Terus Menurun

Jumlah Perkawinan di Jepang Terus Menurun © Dream

Yoshinori Ishimi, yang mengelola layanan Anshin Net, yakin bahwa angka sebenarnya adalah dua atau tiga kali lipatnya.

Jepang modern telah mengalami perubahan budaya dan ekonomi yang meluas dalam beberapa dekade terakhir, namun para demografer mengatakan jaring pengaman sosial negara tersebut telah gagal mengimbangi - dengan adanya beban dalam keluarga untuk merawat orangtua.

" Di Jepang, keluarga telah lama menjadi fondasi kuat dukungan sosial dari semua jenis," kata Katsuhiko Fujimori, pakar kesejahteraan terkenal.

" Tapi sekarang keadaan berubah seiring dengan bangkitnya orang lajang dan ukuran keluarga menjadi lebih kecil," tambah Fujimori.

Tingkat perkawinan di Jepang menurun, kata para ahli. Banyak pria khawatir pekerjaan mereka terganggu jika mulai berkeluarga. Di sisi lain, banyak wanita memasuki dunia kerja dan merasa tidak lagi membutuhkan suami untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Satu dari empat pria Jepang berusia 50 tahun tidak pernah menikah. Pada tahun 2030, angka tersebut diperkirakan naik menjadi satu dari tiga.

(Sumber: straitstimes.com)

 

Beri Komentar