Kunjungan ke Maroko Antar Si Musik Korea Peluk Islam

Reporter : Amrikh Palupi
Selasa, 19 Mei 2020 11:11
Kunjungan ke Maroko Antar Si Musik Korea Peluk Islam
Simak kisah Mino, musisi Korea yang mualaf usai mengunjungi Maroko.

Dream - Kissah menggetarkan datang dari musisi Korea bernama Mino. Kedatangannya ke Maroko dalam rangka musik mengubah hidupnya.

Ia jatuh cinta dengan budaya dan agama Islam. Kecintaannya terhdap Islam membuat Mino menjadi mualaf usai berkunjung ke Maroko.

Dilansir dari laman Morocco World News, Mino awalnya berprofesi sebagai musisi. Pada 2006, ia memutuskan untuk traveling demi mengenal jenis-jenis musik lainnya.

Saat itu, Mino pergi ke Maroko karena penasaran dengan musik Arab dan alat musik tradisional mereka. Tanpa disangka, dirinya justru tertarik mempelajari agama Islam. Lewat unggahan Instagramnya di akun @bohkitchen, Mino mengisahkan bagaimana teman-teman barunya di Maroko mengajari jalan hidup Islam yang sederhana.

Mino© Mino

Foto : @bohkitchen

Merasa terpesona, Mino pun berakhir menjadi mualaf dalam kunjungannya saat itu. Namun, Mino masih kembali ke Korea dan menjalani Ramadan pertamanya sebagai minoritas.

Tak lama kemudian, Mino pun bertemu perempuan yang menjadi calon istrinya dan juga ikut menjadi mualaf. Keduanya menikah, sementara Mino yang dulunya berprofesi sebagai musisi beralih membuka restoran halal di Korea yang menyajikan masakan Maroko.

Namun, perjalanan Mino dan istrinya tidak berhenti sampai di sana. Karena terlanjur menyukai suasana di Maroko, keduanya pun memutuskan untuk pindah ke sana.

" Ada beberapa alasan mengapa aku meninggalkan Korea Selatan dan hidup di Maroko," ucap Mino lewat kanal Youtube miliknya.

" Pertama... aku menjadi Muslim di Maroko, jadi aku merasa ini seperti rumah keduaku. Yang kedua karena makanan. Banyak hal menarik tentang makanan di sana sehingga membuatku yakin untuk membuka restoran," sambungnya.

Seperti di Korea, Mino pun kembali aktif memasak aneka macam makanan halal khas Maroko. Kemampuannya bahkan sukses dipuji warga lokal. Ia juga membuat video memasak dan hal-hal unik serta menarik seputar Islam dan Maroko.

 

1 dari 5 halaman

Tinggal Di Maroko

Mino sendiri kini tinggal di sebuah desa di dekat Chefchaouen di Maroko bersama istrinya. Tak hanya tinggal dekat dengan alam, Mino pun mengaku senang dengan pengalaman Ramadan-nya selama di sana.

" Tetanggaku mengundangku untuk buka puasa atau sahur karena mereka tahu aku tidak punya keluarga di sini. Mereka ingin aku merasakan kehangatan keluarga saat Ramadan," ujarnya.

Sayangnya, karena kebijakan lockdown di Maroko aktivitas kumpul-kumpul itu tak bisa dijalaninya. Namun, Mino tetap bersyukur karena masih bisa menikmati alam sekitar.

" Alhamdulillah, kami tinggal di pedesaan sehingga bisa berjalan di sekitar sungai dan memanjat gunung dekat rumah kami," tambahnya.

Selain itu, Mino pun mengatakan bahwa Ramadan tahun ini akan digunakannya untuk belajar mendalami Islam bersama sang istri." Kami belajar soal Islam secara online. Tentu saja, kami juga masih membuat video memasak untuk para pengikut kami," tutupnya.

Sumber : liputan6.com

2 dari 5 halaman

Mengunjungi Masjid Pertama di Jepang, Berusia 80 Tahun

Dream - Sebagai salah satu negara tujuan travel populer, Jepang menyajikan nuansa menarik lewat kebudayaan khasnya. Negara yang akrab dengan bunga sakura ini memiliki banyak destinasi wisata favorit, seperti tokyo disneyland, museum doraemon dan lain sebagainya.

Meskipun Jepang bukan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, namun ternyata terdapat sebuah bangun masjid tua berusia 80 tahun. Dilansir dari matcha-jp.com, masjid pertama di Jepang tersebut berada di kota Kobe.

Kobe adalah sebuah kota pelabuhan dengan perpaduan bermacam-macam budaya dan juga sebagai daerah perdagangan internasional terkenal di Jepang. Menurut sejarah, Kobe Muslim Mosque merupakan masjid pertama di Jepang yang dibangun pada tahun 1935 lho. 

3 dari 5 halaman

Masjid Tertua di Jepang

Masjid Kobe dibangun melalui donasi yang telah dikumpulkan dari umat muslim setempat. Mereka berasal dari berbagai negara, seperti Turki, India, dan Tatar (nama suatu bangsa yang berada di negara bekas jajahan Uni Soviet).

Masjid ini berdiri kokoh dari serangan udara saat Perang Pasifik dan gempa bumi dahsyat yang melanda kota Osaka dan Kobe pada tahun 1995. 

Seperti masjid pada umumnya, masjid kobe mengadakan ibadah sebanyak 5 kali sehari. Pada saat ibadah, biasanya terdapat 10-20 orang jamaah. Saat hari Jum’at jamaah masjid ini bertambah menjadi 150-200 orang. Para jamaah berasal dari seluruh area Kansai.

4 dari 5 halaman

Interior Ruangan Masjid Kobe

Sampai sekarang pun, Kobe Muslim Mosque masih tetap berdiri kokok di Kitano, Chuo-ku, Kobe. Masjid ini memiliki menara dengan balkon di sebelah kanan atas masjid atau biasa disebut Minaret (menara masjid). Selain berfungsi untuk adzan, menara ini juga menghiasi dekorasi luar masjid. Pada bagian kiri atas juga terlihat bagian yang disebut Dome (kubah masjid). 

Ketika masuk ke dalam ruang ibadah, akan tampak lampu gantung (chandelier) yang mewah dan hamparan karpet. Kemudian juga terlihat kaca patri sederhana yang dipadukan dengan warna kuning. 

Bagi para rombongan pengunjung yang ingin ikut ibadah di masjid ini. disarankan untuk menghubungi melalui telepon sebelumnya agar dipersiapkan karpet bersih yang akan digunakan untuk beribadah. Masjid ini juga digunakan untuk pernikahan umat muslim yang tinggal di Jepang.

5 dari 5 halaman

Terdapat Perpustakaan

Di dalam masjid terdapat sebuah perpustakaan kecil yang dipenuhi dengan buku-buku berbahasa Arab yang tersusun rapi. Di dalam koleksi buku tersebut juga terdapat buku-buku tentang agama Islam dalam bahasa Jepang.

Pengunjung non-muslim diperbolehkan untuk berkunjung ke dalam masjid. Tidak masalah jika yang berkunjung hanya ada 2-3 orang datang tanpa melakukan reservasi sebelumnya. Setelah masuk dari pintu gerbang yang berada di sebelah kiri belakang gedung, silakan sampaikan maksud dan tujuan kunjungan Anda kepada petugas di meja resepsionis.

Jika kamu berniat berkunjung, Sahabat Dream juga dapat meminta penjelasan dalam bahasa Jepang. Kunjungan pada hari Jum’at ditiadakan mulai dari pagi hari hingga pukul 13.30 siang. Untuk konfirmasi mengenai jadwal kunjungannya, sebaiknya kamu bisa melakukan reservasi waktu kunjungan melalui situs resmi atau telepon.

Pada situs resmi masjid, terdapat aturan agar tidak memakai pakaian terbuka yang memperlihatkan aurat seperti celana pendek dan rok mini. Untuk para wanita, meskipun tidak diminta memakai kerudung (untuk menutupi rambut), ada baiknya untuk tetap membawa kerudung.

Beri Komentar