Mengulik Cerita Masjid Agung di Demak

Reporter : Dwi Ratih
Jumat, 27 Mei 2022 09:12
Mengulik Cerita Masjid Agung di Demak
Kesultanan Demak bangkit menjadi kerajaan Islam paling terkemuka di Jawa dan pusat penyebaran Islam di Jawa.

Dream - Terletak di antara Semarang, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Kudus, Demak terkenal dengan tempat lahirnya Islam di seluruh Pulau Jawa.

Pendirian Kesultanan Demak secara tradisional dikaitkan dengan Raden Patah (1475-1518), seorang bangsawan Jawa yang terkait dengan raja Majapahit dan pernah berkuasa di Jawa Timur.

Demak berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya dan mengalahkan Daha pada tahun 1527 karena lebih diterima secara luas sebagai penerus sah Majapahit. Alasan penerimaan ini karena Raden Patah dipercaya sebagai keturunan langsung Kertabhumi yang selamat dari serbuan Girindrawardana di Trowulan, ibu kota Majapahit, pada tahun 1478.

Dengan dukungan penuh Wali Songo atau Sembilan Rasul Islam, Kesultanan Demak bangkit menjadi kerajaan Islam paling terkemuka di Jawa dan pusat penyebaran Islam di Jawa.

Lambang masa keemasan Kesultanan Demak dan awal penyebaran Islam di Jawa masih berdiri hingga saat ini, yaitu Masjid Agung Demak.

1 dari 2 halaman

Masjid Agung Demak

Dibangun pada tahun 1478, Masjid Agung Demak diyakini sebagai masjid pertama di Jawa dan salah satu yang tertua di Indonesia.

Dibangun secara kolektif oleh Wali Songo dan Raden Patah sebagai penguasa pertama Kesultanan Demak, masjid ini memiliki arti penting karena tidak hanya sebagai tempat untuk berdoa tetapi pada saat itu juga merupakan pusat pemerintahan sultan dan tempat para wali (Rasul) biasa bertemu untuk membicarakan masalah.

Meski Masjid Agung Demak telah mengalami sejumlah renovasi, namun sebagian besar bangunan ini tetap dalam bentuk aslinya yang mengedepankan konsep klasik tradisional Jawa.

Tidak seperti masjid di Timur Tengah, masjid ini dibangun dari kayu tanpa kubah, yang hanya muncul di masjid-masjid Indonesia pada abad ke-19.

Atapnya yang berjenjang menunjukkan banyak kemiripan dengan struktur religi kayu dari peradaban Hindu-Budha di Jawa dan Bali.

2 dari 2 halaman

4 Soko Guru

Pintu masuk utama Masjid Agung Demak terdiri dari dua pintu yang diukir dengan motif tumbuhan, vas, mahkota dan kepala binatang dengan mulut bertaring terbuka lebar.

Konon, gambar tersebut menggambarkan manifestasi petir yang ditangkap Ki Ageng Selo, sehingga diberi nama “ Lawang Bledheg” atau “ pintu guntur”.

Bagian bersejarah dan legendaris dari masjid ini adalah empat tiang kayu utama besar yang menopang atap kayu masjid disebut soko guru.

Dengan masing-masing tiang dipahat dari pohon tunggal dengan tinggi mencapai 16 meter, keempat tiang utama itu ditempatkan sesuai dengan empat mata angin dan didirikan anggota Wali Songo.

Tiang Barat Laut oleh Sunan Bonang, Barat Daya oleh Sunan Gunung Jati, Tenggara oleh Sunan Ampel, dan Tiang Soko Tatal yang dibangun dari potongan-potongan kayu dan didirikan di timur laut oleh Sunan Kalijaga.

Kini, empat soko guru asli ditempatkan di museum di kompleks masjid dan diganti dengan replika pada tahun 1983.

Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu kurang lebih 2 kilometer dari Masjid merupakan peninggalan lain dari era Islam Jawa awal yang sering dikunjungi para pengunjung dan peziarah.

Setiap tahun pada upacara ritual “ Grebeg Besar” (yang jatuh pada 10 Dzulhijah dalam Kalender Islam) ribuan pengunjung dan peziarah berduyun-duyun ke Demak untuk mengikuti acara tersebut.

Sumber: Indonesia.Travel

Beri Komentar