Geger 'Dokter Kematian', Bunuh 50 Orang dan Lempar Mayat Korban ke Kolam Buaya

Reporter : Sugiono
Kamis, 6 Agustus 2020 13:46
Geger 'Dokter Kematian', Bunuh 50 Orang dan Lempar Mayat Korban ke Kolam Buaya
Dia mengakui telah melakukan transplantasi 125 ginjal secara ilegal.

Dream - Kepolisian Delhi, India, menangkap Devender Sharma, seorang pembunuh berantai yang kemudian dikenal sebagai 'Dokter Kematian'.

Digelari demikian karena dia memiliki kualifikasi pendidikan sebagai penerima gelar BAMS (Sarjana Pengobatan dan Bedah Ayurveda).

Dihukum karena terlibat dalam beberapa kasus pembunuhan dan penculikan, Sharma sempat bebas bersyarat pada Januari tahun ini saat menjalani hukuman seumur hidup di Penjara Pusat di Jaipur.

Namun Sharma kembali ditangkap oleh tim Anti Narkoba Kepolisian Delhi pada akhir Juni lalu. Dari penangkapan inilah terungkap sepak terjang Sharma dalam berbagai kasus kejahatan hingga digelari Dokter Kematian.

1 dari 5 halaman

Digelari Dokter Kematian

Berasal dari Purreni di Aligarh, Sharma menjadi terkenal setelah penyelidik mengungkapkan bahwa dia membunuh pengemudi taksi sebelum memberikan potongan tubuh mereka ke buaya di Kanal Hazara di Kasganj, Uttar Pradesh.

Dengan berbagai kasus pembunuhan di Delhi, Haryana, Uttar Pradesh dan Rajasthan, Sharma menghabiskan hidupnya selama 16 tahun dari hukuman seumur hidup yang dijalaninya di balik jeruji besi.

Sebelumnya, Sharma yang berusia 62 tahun juga ditangkap pada dua kesempatan berbeda karena menjalankan bisnis agen gas LPG palsu di Uttar Pradesh.

Dia juga ditahan karena terlibat dalam kasus cangkok ginjal ilegal antar negara bagian. Polisi menyebutkan Sharma telah mencangkok lebih dari 125 ginjal antara tahun 1994 dan 2004 dengan bantuan perantara dan dokter lain.

2 dari 5 halaman

Buka Agen Gas LPG Palsu

Setelah lulus dari BAMS di Siwan, Bihar, pada tahun 1984, Sharma membuka klinik dengan nama 'Rumah Sakit dan Diagnostik Janta' di Bandiqui, Jaipur selama 11 tahun.

Pada tahun 1994 atau 12 tahun setelah pernikahan pertamanya, Sharma menginvestasikan 11 lakh rupee (Rp214,2 juta) untuk membuka usaha agen gas LPG.

Karena usahanya itu bangkrut dan tutup, dia mendirikan agen gas LPG palsu dengan nama 'Bharat Petroleum' di desa Chhara Aligarh pada tahun 1995.

Selama masa ini, Sharma bekerja sama dengan sekelompok bajing loncat yang berhasil merampok supir truk yang membawa tabung LPG. Mereka mencuri muatannya dan menjual truk dalam bentuk suku cadang di Meerut.

Setelah terlibat perampokan tabung LPG selama satu setengah tahun, Sharma ditangkap. Usai menjalani hukuman, dia dibebaskan dengan jaminan. Sharma kemudian melanjutkan usaha agen gas palsunya untuk kedua kalinya pada tahun 2001.

3 dari 5 halaman

Usaha Cangkok Ginjal Ilegal

Namun, keterlibatan dalam transplantasi ginjal ilegal ternyata sudah dimulainya pada tahun 1994.

Dia ditangkap untuk pertama kalinya sehubungan dengan kasus itu di Gurugram pada tahun 2004. Dia mengakui telah melakukan transplantasi 125 ginjal secara ilegal.

Perbuatannya itu dilakukan Sharma antara tahun 1994 dan 2004 dengan biaya 5 sampai 7 lakhs rupee (Rp97 juta sampai Rp136 juta) per kasus.

4 dari 5 halaman

Membunuh 50 Sopir Taksi Secara Keji

Setelah agen gas LPG palsunya ditutup, Sharma pergi ke Jaipur dan membuka kliniknya hingga 2003.

Pada saat inilah dia berkenalan dengan sekelompok penjahat yang biasa membunuh sopir taksi dan membuang mayat mereka di Kanal Hazara, yang penuh dengan buaya.

Dari menjual mobil taksi dalam bentuk suku cadang, mereka meraup keuntungan antara 20.000 rupee hingga 25.000 rupee (Rp3,8 juta hingga Rp4,8 juta) per mobil.

Sharma dan komplotannya diduga telah melakukan 50 pembunuhan terhadap para sopir taksi di Jaipur.

5 dari 5 halaman

Tidak Diakui oleh Anak dan Istri

Menjalani hukuman seumur hidup di Penjara Pusat di Jaipur, Sharma dibebaskan dengan pembebasan bersyarat 20 hari pada Januari tahun ini. Tetapi dia tidak kembali ke tahanan polisi setelah waktu yang ditentukan.

Dia dilaporkan kembali ke desa asalnya di Aligarh sebelum pindah ke Delhi pada bulan Maret. Sharma tinggal selama beberapa waktu di rumah seorang kenalan di Mohan Garden.

Sharma kemudian menikah dengan seorang janda dan pindah ke Baprola. Di sana, dia berusaha menipu orang-orang sambil mengaku sebagai pedagang properti pada saat penangkapannya.

Istri dan anak Sharma secara terbuka tidak mengakui dia pada tahun 2004 setelah kejahatannya pertama kali terungkap.

Sumber: India Today

Beri Komentar