Aktor Film Dewasa Jepang Terseret 2 Hoaks Sidang Pilpres di MK

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 24 Juni 2019 13:00
Aktor Film Dewasa Jepang Terseret 2 Hoaks Sidang Pilpres di MK
Shigeo Tokuda disebut sebagai profesor dan ahli kungfu.

Dream - Sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) tinggal menunggu hasil. Selama sidang bergulir, muncul sejumlah hoaks yang menyeret aktor film dewasa Jepang, Shigeo Tukoda.

Dikutip dari laman turnbackhoax, Shigeo Tukoda `dilibatkan` dalam dua hoaks. Pertama disebut sebagai ahli kungfu.

Pada foto yang diunggah akun Facebook, Faridha Tus Sa'adah, foto Shigeo Tukoda yang terlihat bersama dua wanita disandingkan dengan pengacara Tim Kampanye Nasional (TKN), I Wayan Sudirta.

Foto itu diberi keterangan yang menyebut seolah-olah ahli kungfu. " Gile loe Ndro. Tukang kungfu, diajak ke MK oleh cukong 01," ujar akun tersebut.

 Kabar palsu yang beredar di Facebook(turnbackhoax.id)

Kabar palsu yang beredar di Facebook (turnbackhoax.id)

1 dari 5 halaman

Jadi Profesor

 Kabar palsu yang beredar di Facebook(turnbackhoax.id)

Kabar palsu yang beredar di Facebook (turnbackhoax.id)

Sementara itu, hoaks ke dua mengenai analisis Profesor Tokuda. Dalam foto tersebut, Shigeo yang memakai jas membawa kertas bertulis huruf kanji.

Menurut laman turnbackhoax, tulisan itu dalam latin berbunyi: Prabowo wa Dikku o motte imasen. Artinya, Prabowo tidak punya penis, bukan `Prabowo Harimau Perkasa yang Belum bangkit` seperti ditulis akun Facebook Reza Ananta.

Adapun, foto Shigeo yang beredar tampaknya dibeli dari Getty Image.

Kabar bohong itu ditulis Reza Ananta di grup Prabowo Subianto Presiden RI 2019-2024.

2 dari 5 halaman

Viral Kabar Ahok Ketua Tim Pembangunan Ibu Kota Baru, Moeldoko: Super Hoaks

Dream - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko membantah kabar mengenai penunjukan mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang akan menjadi Ketua Tim Percepatan Pembangunan Ibu Kota Baru.

" Hoaks, super hoaks," kata Moeldoko, dikutip dari  Rabu, 12 Juni 2019.

Berita posisi baru Ahok yang akan memimpin pembangunan ibu kota  baru Indonesia itu muncul dalam pesan berantai di platform perpesanan, WhatsApp.

Untuk meyakinkan masyarakat, si pembuat informasi menyebutkan jika Ahok akan dilantik menjadi usai sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) yang tengah ditangani Mahkamah Konstitusi.

Tak hanya itu, pesan berantai juga mengatasnamakan pengacara senior dan Dubes Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis.

3 dari 5 halaman

Ini Pesan Berantainya

Berikut isi pesan berantai tersebut,

" Pengacara Todung Mulia Lubis skrg jd Dubes utk Norwegia
Kabar berhembus dr Istana Negara bhw Basuki Tjahaya Purnama akan diangkat sbg Ketua Tim Percepatan Pembangunan Ibu Kota Baru NKRI, pelantikan akan dilakukan akhir July setelah sengketa pilpres usai & MK menetapkan pemenang...Sejujurnya saya bnr2 gembira mendengar info ini kr sjk merebak informasi mengenai pemindahan Ibu Kota saya berulang x mengatakan hanya Ahok yg pas mnjd pemimpinnya dlm pelaksanaan gagasan tsb...Bravo BTP, saya selalu mendukung & bangga terhadapmu, jasa2mu bagi Indonesia khususnya Jakarta adalah bukti nyata yg tk terbantahkan."

4 dari 5 halaman

Menkominfo Klaim Pembatasan Medsos Efektif Tahan Hoaks

Dream - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, menyebut pembatasan penggunaan fitur di media sosial dan instant messenger efektif untuk menahan arus hoaks.

" Efektif, mengapa karena kalau kita menerima, katakan lah, pesan ada tulisan teks, ada gambar, ada video, mana yang paling cepat menyentuh emosi kita, video kan. Video tanpa teks dilahap aja," ujar Rudi di Kemenkopolhukam, Jakarta, Kamis 23 Mei 2019.

Dia mengatakan, saat ini literasi penggunaan media sosial di Indonesia masih minim. Sehingga apabila ada informasi yang belum diketahui keberadaannya, asal mudah terpancing dan menyebarkannya.

" Kadang-kadang karena tingkat literasi kita yang harus dititkatkan, apa saja yang ada terus dilahap," ucap dia.

Saat ini, pemerintah tengah membatasi penggunaan fitur video dan gambar yang ada di Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp dan YouTube.

5 dari 5 halaman

Merasakan Dampaknya

Rudiantara mengaku belum mengetahui sampai kapan pembatasan ini akan dicabut.

" Tunggu kondusif, yang bisa menyatakan suasana kondusif atau tidak tentu dari pihak keamanan," kata dia.

Setelah pihak keamanan dinyatakan kondusif, Rudi berjanji akan mencabut kebijakan pembatasan ini.

" Kalau sudah kondusif kita akan buka akan fungsikan kembali fitur-fitur, karena saya sendiripun merasakan dampak yang saya buat sendiri," ucap dia.

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik