Penampakan 'Malaikat Maut' Gegerkan Pemakaman Ini

Reporter : Sandy Mahaputra
Jumat, 12 September 2014 09:01
Penampakan 'Malaikat Maut' Gegerkan Pemakaman Ini
Sosok itu mengenakan pakaian putih dan jubah hitam, dengan wajah yang tertutupi kain.

Dream - Sosok misterius mirip Malaikat Maut atau Grim Reaper terlihat di pemakaman Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat. Warga menyebutnya sebagai " malaikat maut."

Berdasarkan laporan saluran televisi KRQE yang dikutip Huffingtonpost, sang Grim Reaper kerap membawa seikat bunga dan berdoa di pinggir pemakaman.

Penampakan pertama terjadi di Pemakaman San Jose del El Rosario sebulan lalu. Sosok itu mengenakan pakaian putih dan jubah hitam, dengan wajah yang tertutupi kain.

Namun setelah diselidiki, sosok misterius itu rupanya manusia biasa. Seorang pria yang mengaku bernama Pengembara Cahaya atau Light Wanderer.

" Masyarakat tidak perlu takut kepada saya. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali bagi mereka yang sengaja mencari bahaya, rasa sakit dan kehancuran," kata si pria yang bersedia diwawancara pihak televisi.

1 dari 5 halaman

Misteri Wanita `Hantu Gaza` Terungkap

Dream - Wanita misterius berbusana dan berkerudung hitam, yang sudah menyelesaikan perjalanannya keliling Amerika Serikat beberapa waktu lalu, masih menarik banyak pengguna media sosial. Banyak yang menduga dia terkait dengan konflik yang meningkat di Gaza.

Menanggapi hashtag #womaninblack, satu pengguna Twitter menulis di akun pribadinya, " Orang-orang berbicara tentang#WomanInBlack misterius .. Apakah itu ada hubungannya dengan#Gaza?"

Pengguna lain dengan akun @dogmaticfan merespons " apa itu Hamas?" Sementara pengguna lain menggambarkan dirinya sebagai " Hantu Jalur Gaza" .

Satu pengguna bahkan bertanya: " Apakah benar bahwa#WomanInBlack berjalan untuk umat Islam yang dibunuh di seluruh dunia? #USA #Gaza #GazaUnderAttack #SupportGaza #BoycottIsrael."

Sementara itu, beberapa pengguna media lain berspekulasi bahwa wanita berpakaian serba hitam mungkin seorang muslim.

Pengguna Twitter bernama @Othmanbay menggambarkan dirinya sebagai " perempuan #Muslim mengenakan abaya hitam," sementara Rich Gillis, pengguna Facebook mempertanyakan apakah dia seorang Muslim yang diberi pakaian dan kerudung hitam.

Meskipun tampil anonim, wanita berbusana serba hitam yang mengakhiri perjalanannya pekan lalu ketika ia tiba di Winchester, Virginia berhasil menarik penggemar di seluruh dunia.

Sebuah halaman Facebook bernama " Where is the woman in black?" diluncurkan bulan lalu dan memiliki lebih dari 77.000 pengikut.

Wanita yang mengenakan jubah dan kerudung hitam menjadi fenomena media sosial beberapa minggu lalu ketika dia mulai terlihat di seluruh Amerika Serikat.

Selama perjalanannya, banyak pengguna media sosial terus mendokumentasikan penampakan dirinya di berbagai bagian Amerika Serikat

Menurut harian Australia Sydney Morning Herald, wanita itu adalah seorang janda dan ibu dari dua anak. Dia adalah seorang wanita Kristen yang saleh dan veteran militer AS. 

2 dari 5 halaman

Penampakan Alien Berjalan di Bulan

Dream - Sebuah fenomena misterius terjadi di Bulan. Salah seorang pengguna YouTube yakin telah melihat penampakan alien sedang jalan-jalan di permukaan Bulan.

Dengan menggunakan Google Moon, pengguna yang tak disebutkan namanya itu mengaku melihat sebuah figur di bulan sedang berjalan. Dan apabila Google Moon di-zoom maka akan terlihat bayangannya juga. Dia kemudian mengunggah video hasil penemuannya itu di YouTube.

Namun, penjelasan ilmiah dari penemuan itu dikemukakan oleh Daily Mail. Disebutkan, fenomena itu dinamakan Pareidolia, yakni sebuah fenomena psikologis di mana otak manusia dapat melihat suatu wajah atau obyek khusus lainnya dalam berbagai stimuli. 

3 dari 5 halaman

Misteri `Batu Berjalan` di Lembah Kematian Terkuak

Dream - Hampir sebabad batu-batu yang berada di Death Valey atau Lembah Kematian menjadi misteri ilmu pengetahuan. Bebatuan besar yang rata-rata beratnya sekitar 320 kilogram didapati berpindah tempat. Seolah ada kekuatan magis yang memindah dari satu titik ke titik yang lain. Batu-batu ini seperti punya kaki.

Hanya terdapat bekas goresan pada lumpur yang sudah kering saja, sebagai petunjuk adanya pergeseran batu. Sementara bagaimana dan apa penyebab batu-batu itu berpindah tempat, menjadi misteri dalam jangka waktu sangat lama. Pengamatan demi pengamatan yang dilakukan para ilmuwan hanya mendapati padang debu dan tanah retak saja.

Namun, kali ini para ilmuwan tak bingung lagi. Pertanyaan seputar fenomena aneh itu sudah terpecahkan. Bisa dijelaskan secara ilmiah pula. Sehingga, tak ada anasir magis yang tak bisa dicerna akal manusia dalam proses pergeseran batu-batu yang kerap disebut 'sailing stones' atau 'batu-batu berlayar' tersebut.

Menurut laman Daily Mail, misteri itu diungkap oleh ilmuwan dari San Diego. Para ilmuwan tersebut mengklaim telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana batu-batu itu pindah dari satu titik ke titik lain pada Lembah Kematian yang berada di wilayah Amerika Serikat itu.T

ak mudah memang bagi para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography, San Diego, untuk mendapat jawaban itu. Mereka bahkan tak pernah berharap untuk melihat pergerakan batu-batu itu. Sebab, selama puluhan tahun melakukan pengamatan, hanya mendapati batu-batu itu duduk terdiam di atas tanah gersang itu.

Hingga pada suatu saat mereka memutuskan untuk memonitor bebatuan itu dengan memasang GPS pada sejumlah batu serta alat pengintai stasiun cuaca yang memiliki resolusi tinggi yang bisa mengukur riak air untuk interval satu detik saja. Alat-alat itu dipasang pada 15 batu di sana.

Penelitian ini dilakukan pada musim dingin 2011 silam. Tetunya dengan izin petugas taman tersebut. Kepala penelitian, Ralph Lorenz, menyebut eksperimen itu merupakan penelitian paling membosankan yang pernah dia lakukan. Karena harus menunggu pergerakan batu-batu yang tidak berkaki.

Tapi pada Desember 2013, Richard Norris, penulis penelitian, serta sepupu Norris, Jim Norris, datang ke Lembah Kematian. Kala itu mereka menemukan danau, yang juga disebut Playa, tertutup air dengan ketinggian sekitar tujuh sentimeter. Tak lama setelah itu, mereka melihat sebuah keajaiban, batu-batu di hadapan mereka bergerak.

" Ilmu pengetahuan kadang-kadang memiliki unsur-unsur keberuntungan," kata Norris. " Kami memperkirakan menunggu lima hingga sepuluh tahun tanpa ada apapun yang bergerak, namun hanya dalam waktu dua tahun proyek ini berjalan, kami hanya kebetulan saja berada di sana pada waktu yang tepat untuk melihat sendiri hal itu terjadi."

Dari pengamatan mereka menunjukkan bahwa batu-batu yang bergerak itu memerlukan kombinasi peristiwa yang langka. Pertama, Playa terisi air, yang harus memiliki ketinggian yang cukup untuk mengambangkan es selama malam-malam di musim dingin, tapi juga cukup dangkal untuk mengangkat batu.

Saat malam tiba, temperatur di wilayah itu menjadi turun. Kolam yang berisi air itu kemudian membeku. Lembaran-lembaran es pun terbentuk, menyerupai kaca-kaca jendela, yang cukup tipis untuk bergerak bebas, tapi juga harus agak tebal untuk mempertahankan kekuatannya.

Saat hari mulai cerah, es mulai mencair dan kemudian pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang mengambang, dengan angin yang berhembus tipis saja di atas kolam luas itu, ditambah licinnya es yang mulai mencair, batu-batu yang berada di atas kolam terdorong. Meninggalkan jejak di lumpur lunak yang berada di bawah permukaan.

" Pada 21 Desember 2013, es pecah sekitar tengah hari, dengan terdengar suara retakan yang datang dari seluruh permukaan yang membeku. Saya bilang kepada Jim, ini dia," kata Richard Norris.

Fenomena ini telah membalikkan teori-teori yang sebelumnya banyak bermunculan, seperti kekuatan badai, setan debu, alga licin, atau lembaran es yang tebal, yang mempengaruhi pergerakan batu itu.

Sebaliknya, batu-batu itu bergerak di bawah angin spoi-spoi, yang berhembus 3 hingga 6 meter perdetik dan didorong dengan es yang tebalnya hanya 3 hingga 5 milimeter saja. Ukuran yang sangat mustahil untuk mengangkat batu-batu besar. Namun, es tipis itu telah mengurangi gesekan dengan permukaan tanah.

Pemurut pengamatan, batu-batu itu bergerak lamban, hanya sekitar 2 hingga 6 meter per menit. Sebuah pergerakan yang nyaris tak bisa dilihat dari kejauhan. " Ada kemungkinan wisatawan benar-benar melihat ini terjadi tanpa disadari," kata Jim Norris.

Batu-batu itu bergerak ke tempat lain antara beberapa detik sampai16 menit. Dalam salah satu kesempatan, para peneliti mengamati batu yang berada pada bidang seluas tiga kali lapangan bola. Batu itu bergerak terus menerus hingga jarak sekitar 60 meter, sebelum akhirnya berhenti.

Para peneliti yakin bebatuan itu telah berkali-kali bergerak sebelum akhirnya mencapai tempat terakhir. Mereka menduga pergerakan terakhir sebelumnya terjadi pada 2006. " Sehingga batu dapat bergerakhanya seperjuta waktu saja," kata Profesor Lorenz.

" Ada juga bukti bahwa frekuensi gerakan batu, yang membutuhkan malam yang dingin untuk membentuk es, kemungkinan telah menurun sejak tahun 1970 karena perubahan iklim," tambah Lorenz.

Lantas, dengan temuan itu, apakah misteri batu bergerak di Lembah Kematian telah terungkap? " Kami mendokumentasikan lima peristiwa pergerakan batu dalam dua setengah bulan di kolam itu dan beberapa diantaranya melibatkan ratusan batu," ujar Norris.

" Jadi kami telah melihat bahwa meskipun di Death Valey, yang terkenal panas, es mengambang merupakan kekuatan besar dalam pergerakan batu," tambah Norris. Namun para ilmuwan itu belum pernah melihat batu-batu besar bergerak dengan mekanisme seperti yang ditemui di Lembah Kematian ini.

4 dari 5 halaman

Beragam `Keajaiban` Kabah

Dream - Masyarakat dunia sudah banyak mengetahui beragam keajaiban yang terdapat dalam Kabah. Hasil penelitian NASA (Lembaga Antariksa AS), ternyata Kabah merupakan bangunan yang menjadi pusat dunia. Tetapi di balik keajaiban itu semua, ada beberapa keajaiban yang belum pernah diketahui banyak orang.

Dalam buku sejarah Kabah, kisah rumah suci yang tak lapuk dimakan zaman dijelaskan, saat muslim menyesaki Masjidil Haram hanya lewat satu pintu saja, mereka bisa masuk tanpa terdesak-desak.

" Ternyata mereka semua dapat masuk ke Kabah tanpa merasa sempit," tulis buku itu seperti dirangkum Merdeka.com yang dikutipDream.co.id, Kamis 10 Juli 2014.

Selain itu, keajaiban lain terlihat saat Masjidil Haram tak pernah sepi oleh muslim yang hendak melakukan ibadah thawaf baik siang dan malam. " Tidak pernah satu orang pun melihat Masjidil Haram dalam keadaan kosong tanpa ada seorang pun yang melakukan thawaf" .

Sementara keajaiban yang paling menakjubkan terakhir adalah ketika terdapat ribuan burung merpati di halaman Mekah. Ribuan merpati itu tidak pernah hinggap dan terbang melintas di atas Kabah.

Dalam buku ini disebutkan, para burung itu terlihat terbang di atas Masjidil Haram, namun ketika melewati Kabah kawanan burung itu berbelok arah menghindari Kabah.

" Anda dapat melihat mereka terbang di atas Masjidil Haram dan ketika akan melewati Kabah mereka pasti berbelok" . 

5 dari 5 halaman

Terungkap, Misteri Cara Membangun Piramida Mesir

Dream - Bangunan Piramida di Mesir masih jadi 'magnet' bagi para peneliti seantero dunia. Mereka berusaha memecahkan teka-teki cara masyarakat Mesir kuno membuat bangunan itu.

Kali ini giliran peneliti dari University of Amsterdam, Belanda. Menurut mereka orang Mesir kuno mengandalkan trik pintar, pasir basah. Mereka menempatkan benda berat (batu dan patung besar) pada sebuah kereta luncur di pasir gurun, yang sebelumnya telah dibasahi dengan air.

Melansir Mashable dan Daily Mail, saat pasir gurun kondisinya lembab, pasir akan menjadi lebih kaku jika dibandingkan saat kering. Kelembaban yang tepat dapat menghasilkan pasir yang lebih padat dan rata.

Menurut salah satu peneliti, dengan perpaduan air yang tepat kereta dapat meluncur lebih mudah dan cepat. " Itu karena pasir tidak akan menumpuk di depan kereta luncur, sebagaimana yang terjadi saat pasir dalam kondisi kering," kata dia.

Teori peneliti ini ternyata diperkuat dengan lukisan pada dinding makam salah satu Firaun, Djehutihotep yang menggambarkan trik mengangkut patung dan blok batu besar. Lukisan itu persis seperti percobaan yang dilakukan peneliti.

Hasil penelitian yang telah diterbitkan di Physical Review Letters ini bisa menjadi inspirasi baru bagi para ahli, agar dapat diterapkan pada transportasi di masa kini. Sebagai upaya penghematan konsumsi bahan bakar dari minyak bumi yang kian menipis.

Beri Komentar