Keraton Agung Sejagat Bikin Heboh Purworejo

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 13 Januari 2020 14:41
Keraton Agung Sejagat Bikin Heboh Purworejo
Begini reaksi warga sekitar.

Dream - Warga di Desa Pogung, Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo dihebohkan dengan kemunculan keraton. Namanya, Keraton Agung Sejagat atau World Empire.

Keraton ini menunjukkan eksistensinya dengan menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya sebagai upacara penyambutan maharaja yang kembali di Tanah Jawa.

Dilaporkan Purworejo24, pemimpin Keraton Agung Sejagat, Kanjeng Sinuwun Totok Santosa Hadiningrat menggelar kirab budaya yang berlangsung sejak 10 hingga 12 Januari 2020 di Ndalem Poh Agung.

Kirab dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan maharaja yang kembali setelah perjanjian 500 tahun.

" Wilujengan Keraton Agung Sejagat adalah menyambut kedatangan Sri Maharatu Jawa kembali ke tanah Jawa setelah perjanjian 500 tahun. Terhitung sejak hilangnya kemaharajaan nusantara yaitu imperium Majapahit pada tahun 1518 sampai tahun 2018," kata Totok.

 

1 dari 7 halaman

Penguasa Terakhir Imperium Majapahit?

Ditemani sosok yang diklaim sebagai ratu, Dyah Gitarja, Totok mengatakan, perjanjian 500 tahun itu digelar Dyah Ranawijaya.

Sosok itu diklaim sebagai penguasa terakhir imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat di Malaka pada 1518.

Menurut Totok, sudah saatnya kekuasaan agung yaitu bangsa Jawa membawa zaman yang penuh kesengsaraan dan perbudakan, ke zaman penuh kebahagiaan dan kemuliaan. Totok mengaku memiliki trah Wangsa Sanjaya.

" Kami akan membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan global yang dijalankan oleh sistem jahat yang disebut Bank Central," kata dia.

 

2 dari 7 halaman

Keraton Sejagat untuk Perbaikan?

Dia mengatakan, keberadaan Keraton Agung Sejagat akan memperbaiki kemerosotan sistem dunia yang meliputi kedaulatan, sistem bernegara dan sistem pemerintahan.

" Pola pikir manusia dalam bidang, ideologi, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan militer yang akan kita benahi," ucap dia.

Warga Terganggu

Meski berdiri, warga setempat membantah jejak keraton di area tempat tinggalnya.

" Tidak ada keraton. Dari dulu adanya keraton jin di belakang sana, kami merasa sangat terganggu, karena kegiatan mereka itu tengah malam nyanyi-nyanyi sambil tepuk tangan. Jadi suaranya membuat warga terganggu, sudah saya ingatkan tiga kali itu," ucap Jumeri, warga setempat.

3 dari 7 halaman

Turis Rusak Meja Sultan HB VIII Keraton Yogyakarta

Dream - Meja marmer peninggalan Sultan Hamengku Buwono VIII yang tersimpan di Museum Keraton Yogyakarta mengalami kerusakan. Kabar itu diunggah putri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hayu di Twitter.

" Katanya tulisan dilarang pegang, dilarang foto itu mengurangi keindahan museum/pameran. Tapi untuk menghadapi jenis orang butuh konten, tapi ndak bisa baca gini gimana?"  kicau GKR Hayu di Twitter, Senin, 16 Desember 2019.

Putri keempat Sultan HB X ini juga turut mengunggah sebuah video. Di video itu terlihat area pajangan meja milik Sultan HB VIII rusak.

Marmer meja tersebut jatuh ke lantai. Sementara itu, kaki meja berwarna emas terlihat patah.

4 dari 7 halaman

Sudah Meminta Maaf

" Ada yang mau duduk di pelenggahan dari HB VIII dan selfie, sukses nyamplak (menyenggol) meja marmer," kata dia.

GKR Hayu mengatakan, pengunjung yang merusak meja milik Keraton Yogyakarta itu sudah meminta maaf dan mau mengganti kerusakan.

" Orangnya sudah menyatakan akan mengganti kerugian tapi intinya kan bukan itu barang-barang di @kratonjogja tidak semua gampang diganti," ujar dia.

GKR Hayu meminta masyarakat tak mencari-cari pelaku perusakan. " Netizen dan media mohon bisa membantu awarness tata cara mengunjungi museum," ucap dia.

5 dari 7 halaman

Keraton Kasepuhan Cirebon Gelar Pencucian Piring Wali Songo

Dream - Umat Islam kini tengah berada di bulan Rabi'ul Awal 1441 Hijriah. Bagi umat Islam, Rabi'ul Awal memiliki kedudukan istimewa karena di bulan ini Rasulullah Muhammad SAW lahir.

Jelang hari lahirnya Rasulullah yaitu pada 12 Rabi'ul Awal, Keraton Cirebon, khususnya Kasepuhan, selalu menggelar prosesi adat. Beberapa di antaranya yaitu pencucian sejumlah pusaka.

Seperti yang digelar Keraton Kasepuhan Cirebon hari ini, Senin, 4 November 2019 bertepatan dengan 7 Rabi'ul Awal 1441. Para pembesar keraton bersama para abdi menjalani prosesi Siraman Panjang.

Seperti diunggah akun Instagram @aboutcirebonid, prosesi ini dilaksanakan dengan mencuci sembilan piring keramik peninggalan Wali Songo. Prosesi dipimpin langsung oleh Sultan Sepuh XIV Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat.

Piring-piring berukuran besar itu diklaim telah berusia sekitar 700 tahun. Diyakini, dulunya sembilan piring tersebut pernah digunakan Wali Songo ketika bermusyawarah.

6 dari 7 halaman

Jalannya Prosesi

Dalam video yang diunggah di akun tersebut, prosesi dijalankan dengan para abdi dalem berbaris di hadapan Sultan Sepuh. Masing-masing abdi membawa satu buah piring yang dibalut dengan kain putih.

Selanjutnya, pusaka-pusaka tersebut dibawa ke Bangsal Pungkuran, Keputren Keraton Kasepuhan. Di sana sudah tersedia kolam besar untuk mencuci piring-piring tersebut.

Sebelum prosesi Siraman Panjang dilaksanakan, terlebih dulu dibuka dengan zikir bersama. Setelah itu, setiap pusaka dicuci satu per satu dengan cara dimasukkan ke dalam kolam.

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam