Heboh Warga Pati Jalani Tapa Pendem, Dikubur Hidup-hidup

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 21 September 2019 18:38
Heboh Warga Pati Jalani Tapa Pendem, Dikubur Hidup-hidup
Mbah Pani sudah melaksanakan ritual ini sebanyak 10 kali.

Dream - Mbah Supani, warga Desa Bendar RT 3 RW 1 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah membuat heboh. Dia menjalani ritual tapa pendem atau bertapa dengan cara dikubur hidup-hidup di dalam tanah.

Mbah Supani menjalankan ritual tersebut setelah sembuh dari sakit stroke. Dia dikubur seperti jenazah selama lima hari pada lubang berukuran panjang 2 meter, lebar 1,5 meter dan kedalaman sekitar 3 meter yang sudah disiapkan di dalam rumah.

Dalam liang yang dibuat tersedia peti untuk bertampa. Di dalam peti ada bantal dari tanah serta lubang untuk bernapas.

Anak angkat Mbah Pani, Suyono, mengatakan tapa pendem adalah ritual yang selalu dijalani pria itu setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Proses bertapa ini sudah dijalani Mbah Pani sebanyak 10 kali.

 

1 dari 4 halaman

Prosesi Bertapa Sebelumnya

Pada sembilan pengalaman sebelumnya, Mbah Pani dikubur selama tiga hari. Menurut Suyono, tapa kali ini merupakan ritual terakhir yang dijalani Mbah Pani.

" Karena ini yang terakhir, nanti tidak cuma tiga hari, tapi lima hari. Mbah Pani sendiri, informasi masuk liang lahat Senin 16 September 2019 usai Maghrib," ucap Suyono, dikutip dari .

Suyono mengatakan sejak pertama hingga terakhir, prosesi tapa pendem Mbah Pani tidak berubah. Tubuh Mbah Pani selalu dibalut dengan kain kafan.

 

2 dari 4 halaman

Tapa Kesembilan pada 2001

Menurut Suyono, tapa pendem kesembilan dilakukan Mbah Pani pada 2001. Sebelumnya, ritual tersebut dijalani Mbah Pani setiap tahunnya di Desa Ketip.

" Beberapa waktu setelah ritual ke-9, beliau sempat sakit stroke. Jadi ritual penutup baru bisa dilaksanakan hari ini," kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Prosesi Mirip Pemakaman, Tapi Tak Diazani

Sebelum masuk ke lubang kubur, Mbah Pani diperlakukan laiknya jenazah. Disiapkan juga alat pemulasaraan lengkap, termasuk bunga-bunga.

" Tapi tidak diazani, karena menurut pesan dari Pak Pani, kalau azan itu ritual orang meninggal dunia," ucap Suyono.

 

4 dari 4 halaman

Tertutup Untuk Umum

Saat prosesi ritual dimulai, hanya keluarga dan tokoh masyarakat yang dibolehkan masuk rumah. Pintu rumah kemudian dikunci dan tetangga tidak dibolehkan masuk.

" Hanya keluarga saja yang boleh masuk. Sebab ritual ini prosesi sakral," terang Suyono.

Sumber: /Danny Adriadhi Utama

Beri Komentar
Pengakuan Mencengangkan Aulia Kesuma, Dibalik Rencana Pembunuhan Suami dan Anak Tirinya