Dikritik, Hukuman Penjara bagi Muslim Tak Salat Jumat

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 23 Oktober 2014 14:45
Dikritik, Hukuman Penjara bagi Muslim Tak Salat Jumat
Aturan itu dianggap terlalu berlebihan untuk diterapkan pada masalah keyakinan individu. Karena menghalangi kebebasan setiap pria Muslim untuk melaksanakan salat Jumat di masjid lain atau bepergian.

Dream - Meski banyak mendapat kritik, pemerintah Negara Bagian Kelantan, Malaysia, tetap mengusulkan aturan yang berisi penerapan hukuman dan denda kepada setiap pria Muslim yang meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut-turut. Pemerintah setempat meminta kaum Muslim menghormati ritual yang diajarkan dalam Islam.

" Banyak partai yang sekarang mempertanyakan ritual Muslim," kata Menteri Besar Kelantan, Ahmad Yakob, dikutip Dream dari laman On Islam, Kamis 23 Oktober 2014. Dia menambahkan, semua pihak seharusnya menghormati keputusan pemerintah Kelantan yang ingin menerapkan aturan Dewan Agama Islam dan Adat Malaysia itu.

Berdasarkan Pasal 104 aturan yang ditetapkan tahun 194 tersebut, setiap pria yang meninggalkan salat Jumat tiga kali secara berturut-turut akan dipenjara selama satu tahun atau diwajibkan membayar denda sebesar RM 1.000. Aturan ini akan diterapkan kepada setiap pria Muslim yang sudah berusia 10 tahun.

Rencana penerapan aturan ini langsung dikritik oleh kelompok aktivis yang tergabung dalam Lawyers for Liberty (LFL). Aturan itu dianggap terlalu berlebihan untuk diterapkan pada masalah keyakinan individu. Karena menghalangi kebebasan setiap pria Muslim untuk melaksanakan salat Jumat di masjid lain atau bepergian ke luar Kelantan untuk alasan tertentu.

Namun, segala tudingan itu dibantah oleh Ahmad Yakob. Menurut dia, penerapan aturan ini tidak bertujuan untuk mendenda atau memasukkan seseorang ke dalam penjara. Aturan ini ditetapkan untuk menjamin setiap Muslim menjalankan ibadah mereka dengan lebih baik. [Baca juga: Malaysia Penjarakan Muslim yang Tak Salat Jumat]

Ahmad menambahkan, kalangan non-Muslim lebih baik tak ikut-ikutan mengkritik ritual kaum Muslim. Dia meminta semua pihak menghargai semua ajaran agama. " Saya pikir ini tidak perlu diangkat karena kami tidak pernah mengkritisi praktik ibadah agama lain," ujar Ahmad.

Beri Komentar