Ngeri! Jenazah Covid-19 di Brooklyn Dimasukan ke Truk Non-Pendingin

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 4 Juni 2020 08:12
Ngeri! Jenazah Covid-19 di Brooklyn Dimasukan ke Truk Non-Pendingin
Mayat-mayat yang akan dikremasi ditumpuk di kursi.

Dream - Pandemi virus corona yang menyerang kota New York, membuat banyak penglola pemakaman kewalahan menangani jenazah. Demikian halnya yang terjadi terjadi di salah satu tempat pemakaman umum di Flatbush, Brooklyn, New York.

Salah seorang pekerja pemakaman di sana merasa trauma dengan cara pihak pengelola mengubur dan mengkremasi jenazah yang terkena virus corona. Dia akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Sebelum mengundurkan diri, dia sempat merekam dan memotret jenazah dan peti mati yang ditumpuk di kursi dengan plastik oranye.

" Mereka tidak berpikir corona itu nyata. Lihatlah tubuh-tubuh ini. Corona benar-benar nyata. Lihat semua mayat ini. Ini nyata, ini adalah pandemi," kata dia.

Pegawai yang tetap ingin jadi anonim tersebut mengaku bekerja di pemakaman hanya tiga hari pada bulan April. Dia setidaknya telah menangani 400 lebih jenazah.

 

1 dari 3 halaman

Tak Punya Alat Memadai

Pegawai itu juga mengatakan pemakaman tersebut tidak memiliki alat yang lengkap untuk menangani jenazah yang terpapar virus corona. Rumah duka juga tidak memperlakukan jenazah dengan baik, hanya menumpuk satu sama lain tanpa label nama untuk mengidentifikasi orang yang meninggal.

Pegawai itu juga bercerita pegawai lainnya tidak diberikan peralatan yang memadai untuk melindungi diri mereka dari penularan virus. Pengelola pemakaman tersebut juga memperkerjakan orang tanpa adanya kualifikasi yang jelas.

Menurut pegawai anonim tersebut, untuk bekerja di rumah duka diperlukan gelar dan pengalaman di bidang Mortuary Science setidaknya dua tahun.

" Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka akan membayar saya langsung dimuka. Saya menerima US$150 (Rp2,2 juta) tiap minggunya," jelas pegawai anonim tersebut.

 

2 dari 3 halaman

Minta Hazmat, Malah Dipecat

" Mereka bertanya kepada saya apakah saya tahu cara memulas mayat, merias wajah dan apakah saya bisa melakukan otopsi," kata dia.

Selain itu, dia dan para pegawai baru lainnya tidak mendapat pelatihan apapun.

" Alih-alih merekrut pekerja berlisensi, mereka merekrut orang-orang yang tidak memenuhi syarat," terang dia.

Dia mengaku khawatir tertular virus dari rekan kerjanya dan jenazah yang mereka tangani. Jenazah dan peti mati harus ditumpuk di kursi dengan kantong mayat berwarna oranye khusus untuk korban positif corona.

Sumber anonim tersebut mengatakan dia meminta atasannya memberikan baju hazmat dan peralatan lainnya untuk menangani jenazah Covid-19. Alih-alih diberikan, dia malah mendapat telepon dari atasannya dan diberhentikan.

 

3 dari 3 halaman

Buruknya Layanan Pemakaman

Sumber itu juga menggambarkan insiden yang membuat dirinya trauma, bagaimana pihak pengelola rumah duka menumpuk mayat-mayat yang akan dikremasi secara sembarangan di bagian belakang truk yang tidak memiliki pendingin.

" Mayat-mayat yang akan dikremasi ditumpuk di atas satu sama lain di kursi. Kami harus memasukkan 40 mayat ke dalam truk," pungkasnya.

" Kami diberitahu bahwa kami tidak perlu memasukkannya ke dalam kotak. Biasanya tubuh yang akan dikremasi dimasukkan ke dalam sebuah kotak dengan nama orang di dalam kotak - bukan hanya tubuh yang ditumpuk satu sama lain tanpa tag nama," ucap dia.

Pegawai itu jelas sangat tertekan dan trauma dengan pekerjaan tersebut.

Sumber: Daily Star

Beri Komentar