Binatang Baru Diduga Penyebar Virus Corona, 99% Identik

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 10 Februari 2020 16:12
Binatang Baru Diduga Penyebar Virus Corona, 99% Identik
Diduga tubuh hewan ini menjadi inang perantara virus.

Dream - Para ilmuwan menemukan binatang baru, selain kelelawar, diduga sebagai penyebar virus corona, 2019-nCoV. Sama-sama diolah menjadi sup, kali ini peneliti menduga virus yang telah menewaskan 910 orang meninggal itu bisa disebarkan lewat binatang trenggiling. 

Temuan ini menambah daftar baru hewan-hewan yang diduga menjadi pemicu awal munculnya virus corona. Selain kelelawar dan trenggiling, ular juga pernah disebut menjadi pembawa virus 2019-nCoV.

Dugaan itu muncul setelah para peneliti di South China Agricultural University melakukan serangkaian penelitian terhadap sup trenggiling.

 Sop Trenggiling© Khidr Al-Zahrani

Sup trenggiling (mothership.sg)

Dilaporkan Xinhua Net, rantai genom corona yang diambil dari trenggiling identik 99 persen dengan virus yang menjangkiti manusia.

Hasil penelitian itu membuat para ahli membuat hipotesis jika trenggiling merupakan inang perantara virus tersebut.

Rektor South China Agricultural University, Liu Yahong, menyebutkan penelitian yang dijalankan tim telah menganalisis lebih dari seribu sampel metagenom hewan liar. Hasilnya, mereka mendapat temuan trenggiling kemungkinan besar adalah inang perantara.

 

1 dari 5 halaman

Hewan Langka tapi Jadi Bahan Konsumsi

Tidak banyak yang tahu, trenggiling merupakan hewan liar yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Padahal, hewan ini telah ditetapkan sebagai satwa langka hampir punah.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, lebih dari satu juga trenggiling ditangkap dari hutan Asia dan Afrika untuk dijual di pasar China dan Vietnam. Sisik trenggiling kerap dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional.

 Trenggiling© world of buzz

Trenggiling (The Star)

Daging trenggiling dijual di pasar gelap. Biasanya daging hewan tersebut digunakan untuk membuat sup.

Meski masih berupa dugaan, Liu menyatakan temuan ini berperan penting dalam mendukung pencegahan dan pengendalian epidemi. Selain itu, memberikan referensi ilmiah yang dapat digunakan pemerintah untuk mengambil kebijakan terkait hewan liar.

Sumber: World of Buzz

2 dari 5 halaman

Suhu Indonesia Tak Cocok untuk Perkembangan Virus Corona

Dream - Ketua Umum Pokja Infeksi Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan, mengatakan, ada kemungkinan suhu di Indonesia memengaruhi perkembangan virus corona Wuhan (2019-nCoV).

" Virus ini berkembang biak pada suhu yang dingin dengan kelembapan yang rendah. Kalau Indonesia dingin atau enggak? Indonesia enggak, ya. Kelembapannya rendah atau tinggi, tinggi ya, 80 persenlah. Ini bukan tempat yang baik untuk virus berkembang biak," kata Erlina, dikutip dari Liputan6.com, Senin 10 Februari 2020.

Menurut Erlina, virus corona tidak dapat aktif seandainya terkena sinar ultraviolet dari matahari. Meski demikian, bukan berarti Indonesia benar-benar terlepas dari ancaman virus. Erlina berharap masyarakat tetap melakukan pencegahan penularan penyakit. Salah satunya rutin mencuci tangan dan menggunakan masker.

Ketua Umum PP PDPI, Agus Dwi Susanto, mengatakan, virus corona merupakan salah saju jenis virus yang menjadi penyebab SARS. " Kalau dari data SARS, virus corona SARS itu bisa bertahan sekitar dua hari. Tapi, kalai di pemanasan, biasanya cepat mati," ujar Agus.

Sumber: Liputa6.com/Giovani Dio Prasasti

3 dari 5 halaman

Beri Peringatan Virus Corona, Dokter Dituduh Sebar Hoax

Dream - Pada 30 Desember 2019, Li Wenliang membuat heboh grup alumni kampus kedokterannya di aplikasi perpesanan WeChat yang populer di China.

Dia menulis tujuh pasien dari pasar seafood lokal telah didiagnosis dengan penyakit mirip SARS dan dikarantina di rumah sakit tempatnya bekerja.

Li menjelaskan bahwa, menurut sebuah tes yang telah dilihatnya, penyakit itu disebabkan virus corona - virus yang masih satu keluarga dari sindrom pernafasan akut parah (SARS).

Kenangan buruk tentang SARS mungkin masih menghantui warga China sejak wabah itu membunuh ratusan orang pada 2013. Pada awalnya kasus wabah SARS ditutup-tutupi oleh pemerintah China.

Demikian juga dengan kasus virus corona baru yang juga disebut virus 2019-nCoV, yang sekarang dinyatakan sebagai darurat kesehatan global oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

4 dari 5 halaman

Pesan Virus Corona yang Viral

Kepada teman-temannya, Li hanya menulis pesan pendek tentang virus corona baru yang dilihatnya, " Aku hanya mengingatkan rekan-rekan di kampus untuk berhati-hati."

Dokter berusia 34 tahun yang bekerja di Kota Wuhan itu mengirim pesan tentang jenis virus corona baru secara pribadi.

Tapi hanya dalam beberapa jam, tangkapan layar dari pesan yang tanpa mengaburkan nama akunnya itu menjadi viral.

" Ketika saya melihat pesan itu viral, saya sadar bahwa itu di luar kendali saya dan saya mungkin akan dihukum," kata Li.

Dugaan Li ternyata benar. Segera setelah tangkapan layar pesannya viral, Li dituduh menyebarkan hoaks oleh polisi Wuhan.

Dia adalah salah satu dari beberapa dokter yang menjadi target polisi. Mereka ditangkap karena berusaha mengungkap virus mematikan di minggu-minggu awal wabah menyebar.

5 dari 5 halaman

Pemerintah Beri Peringatan dan Ancaman

Sementara itu, pada hari yang sama saat Li mengirim pesan kepada teman-temannya, sebuah pemberitahuan darurat dikeluarkan oleh Komisi Kesehatan Kota Wuhan.

Pemberitahuan itu mengatakan bahwa pasien dari pasar seafood Huanan mengalami 'pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya'.

Dalam pemberitahuan itu juga disebutkan larangan dan ancaman bagi mereka yang menyebarkan informasi tentang virus corona baru tanpa izin.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup