Penyakit Aneh, Alergi Barang Elektronik

Reporter : Eko Huda S
Minggu, 19 Oktober 2014 10:00
Penyakit Aneh, Alergi Barang Elektronik
Penyakit langka yang diderita Lloyd itu disebut electromagnetic hypersensitivity. Kelainan ini membuat Lloyd lumpuh. Dia merasa sakit jika dekat dengan perangkat elektronik.

Dream - Pria asal Wales, Peter Lloyd, mengalami penyakit aneh. Pria berusia 42 tahun yang tingal di Cardiff itu alergi terhadap barang-barang elektronik.

Dikutip Dream dari laman Wales Online, Jumat 17 Oktober 2014, penyakit langka yang diderita Lloyd itu disebut electromagnetic hypersensitivity. Kelainan ini membuat Lloyd lumpuh.

Karena kelainan itu, Lloyd tak bisa menonton televisi, mendengarkan musik dari CD,  dan bahkan tak bisa menggunakan telepon serta mengakses internet. Para tamu yang mengunjunginya pun harus meninggalkan telepon di depan rumah.

Lloyd juga tak bisa dibawa berjalan-jalan ke luar rumah. Sebab, dia akan merasa kesakitan jika melewati zona Wifi. Dia juga merasa kesakitan jika harus dekat dengan mobil atau berpapasan dengan orang yang membawa telepon seluler.

Lloyd juga tak kuat jika difoto dengan kamera elektronik. Apalagi dengan jarak yang dekat. Sehingga, untuk mengambil gambarnya, harus menggunakan kamera sekali pakai, yang tidak menimbulkan rasa sakit pada Lloyd.

 Penyakit Aneh, Alergi Barang Elektronik© wales online

Lloyd. Sumber: Wales Online

Kini dia hanya bisa mendekam di bagian dapur rumah, yang terletak di pinggiran Kota Cardiff. Ketika pindah dari rumah yang terletak di St Fagans ke rumah di Cardiff ini pada 2009, dia harus didorong sampai malam-malam untuk mengurangi kontak dengan sumber listrik.

Kini, pondok yang ditinggali itu bebas perangkat elektronik. Dindingnya terbuat dari kayu. Tak ada perabot listrik. Penerangan hanya menggunakan lilin. Di pondok itu pula dia menghabiskan harinya dengan membaca 100 buku dalam setahun.

“ Saya pertama kali mulai mengalami ini ketika saya masih berusia pertengahan dua puluhan. Saya berkunang-kunang setelah melihat layar komputer, dan tidak mampu untuk berpikir jernih. Saya mengalami kesulitan dalam berbicara,” kata Lloyd.

Kondisi yang supersensitif terhadap medan listrik maupun magnet ini diketahui sejak 1994. Pada 2005, Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) menyimpulkan bahwa kondisi ini tak jelas penyebabnya. Belum ada dasar ilmiah untuk menghubungkan penyebab dan gejalanya. Sampai saat ini belum ada obat penyakit ini.

(Ism)

Beri Komentar
5 Kiat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Biar Nggak Gampang Sakit Bersama Tolak Angin