Ditolak Kerja Karena Buta, Tunanetra Ini Kini Seorang Bos

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 8 Maret 2018 08:15
Ditolak Kerja Karena Buta, Tunanetra Ini Kini Seorang Bos
"Setiap kali saya ikut perekrutan di kampus, saya selalu masuk di antara peserta terbaik."

Dream - Berulang kali ditolak perusahaan karena keterbatasannya, seorang pria penderita tunanetra memberi jawaban telak. Penolakan itu dibalasnya dengan cara yang elegan dan membuat orang takkan berani lagi meremehkannya.

Pria itu bernama Prateek Agarwal. Seorang tunaneta dari Jaipur, India. Berulang kali Prateek Agarwal menjadi kandidat pelamar yang diperhitungkan di setiap program perekrutan pegawai yang digelar kampusnya.  

" Setiap kali saya ikut perekrutan di kampus, saya selalu masuk di antara peserta terbaik. Saya mencetak nilai bagus dalam tes bakat, penalaran, diskusi kelompok dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut," ujarnya. 

Namun semua berakhir saat bertemu dengan tim SDM dari perusahaan perekrutnya. Mereka memang terinspirasi dengan bakal dan kemampuan Pratek. Namun jawaban menyakitkan justru selalu berujung di akhir wawancara. 

" Pada akhirnya, mereka bilang  tidak bisa mempekerjakan seorang tunanetra," kenang Prateek.

Tak sekali dua kali pengalaman pahit itu dialaminya. Kejadian yang lambat laun membuat kepercayaan dan keyakinannya untuk sementara waktu menjauh darinya.

 

" Saya menangis dan bertanya pada diri sendiri apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan pekerjaan," ujarnya.

Prateek sempat mencoba keberuntungan dengan menjadi penyanyi seperti yang disarankan teman-teman kelasnya. Padahal mereka memberi saran tersebut hanya untuk bercanda.

Baginya, menjadi seorang wiraswastawan bukan pilihan hidupnya. Tapi dia terpaksa harus menjalaninya sejak mengenyam pendidikan hingga lulus kuliah jurusan ilmu komputer dari Universitas NIIT di Neemrana.

1 dari 2 halaman

Mendirikan Perusahaan Perangkat Lunak Sendiri

Dream - Dunia visual begitu kuat dan cara dunia dibentuk ke arah itu membuat Prateek mengalami kesulitan mencari pekerjaan jika dia hanya mengandalkan suara.

Tapi Prateek tidak mudah menyerah. Dia memutuskan untuk mendaftarkan perusahaan rekayasa perangkat lunaknya Daedal Technovations di tahun terakhir kuliahnya.

Di awal usahanya, Prateek jarang mendapat klien. Dia menyusuri setiap toko untuk menanyakan apakah mereka butuh perangkat lunak. Kebetulan saat itu bisnis lokal mulai ke arah digital seperti pencatatan faktur, stok dan manajemen SDM.

" Terkadang, saya memanggil mereka dan membuat presentasi mengenai perangkat lunak saya," kata Prateek.

Lagi-lagi Prateek harus mengelus dada. Klien yang datang malah merendahkannya. Mereka tak yakin jika Prateek adalah orang yang dihubungi saat berbicara di telepon. " Sama seperti sebelumnya, mereka tidak mau proyek mereka dikerjakan oleh seorang tunanetra," tambahnya.

Tapi tak seluruhnya gagal. Ada juga klien yang tetap bersedia memberinya proyek.

Hingga akhirnya Prateek mulai berpikir tentang peluang bisnis di dunia maya. Dia berpikir bisnisnya takkan mampu berkembang jika hanya menggantungkan pada pasar lokal. Dan keputusannya tepat. 

Perusahaannya mulai berkembang dan membuahkan hasil. Saat ini lebih dari 95 persen klien Prateek tersebar secara online di banyak negara di dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jerman, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan lain-lain.

Berbagai layanan dikembangkan oleh Prateek selama bertahun-tahun, seperti aplikasi perangkat lunak untuk segmen B2B, pemasaran digital, media sosial, pemasaran mesin pencarian, konsultasi proyek dan keamanan jaringan.

" Kami juga menyediakan pelatihan online untuk beberapa teknologi yang kompleks. Saat ini, kami sedang mengerjakan teknologi seperti rantai blok, kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin, robotika dan cryptocurrency," tambah Prateek.

2 dari 2 halaman

Ditempa Kemauan dan Semangat Tinggi

Dream - Cerita tentang kepercayaan diri, keberanian dan sikap tak mudah menyerah yang diperlihatkan Prateek sejak masih sekolah seolah menantang dominasi orang normal terhadap seorang tunanetra di dunia visual.

" Ketika usia masuk sekolah, orang tua saya mendaftar di beberapa sekolah tapi tidak ada yang menerima saya. Untungnya, St Michael's School di Jaipur bersedia menerima saya," kata Prateek.

Agar bisa membantu Prateek mengerjakan tugas sekolah, ibunya belajar huruf Braille.

Biasanya, orang tua akan terlalu melindungi anak mereka yang tunanetra atau sama sekali mengabaikannya. Tapi dia dibesarkan sama seperti saudara-saudaranya.

" Saya bermain dengan saudara kandung dan sepupu saya seperti anak normal lainnya," kata Prateek.

Ketika Prateek berada di Kelas VII, dia mulai tertarik dengan komputer. Dia mempelajari beberapa hal tentang komputer dengan menggunakan perangkat lunak pembaca layar JAWS.

Tapi itu tidak cukup karena ia ingin menjadi seorang insinyur perangkat lunak.

" Saya pergi ke beberapa institusi dan semua orang menertawakan dan menolak saya. Mereka mengatakan bagaimana seorang tunanetra bisa bekerja di depan komputer," kenangnya.

Prateek menyesalkan perilaku sosial terhadap seorang tunanetra dan kurangnya pemahaman dalam mengajarkan orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Kini pria tunanetra ini telah sukses membangun bisnis TI sejak tahun 2010 silam.Karyawan mencapai lebih dari 40 orang. Gelar sebagai wiraswastawan TI tunanetra pertama di India kini juga disandangnya.

(Sumber: indiatimes.com)



Beri Komentar