Setelah Ditelan Bumi, Kini Muncul Uang Berserakan di Dalam Tanah Petobo Palu

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Minggu, 9 Juni 2019 14:41
Setelah Ditelan Bumi, Kini Muncul Uang Berserakan di Dalam Tanah Petobo Palu
Video itu direkam oleh warga Masamba, Sulawesi Selatan

Dream - Wilayah Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, menjadi perbincangan setelah terjadi gempa disertai likuifaksi dan tsunami pada 28 September 2018.

Akibat gempa bumi, daerah Petobo hancur dan hilang ditelan bumi. Kawasan itu kini tinggal cerita, ratusan rumah dan segala isinya hilang dalam hitungan detik, masuk ke dalam tanah.

Kini, Petobo menjadi perbincangan kembali setelah sebuah video merekam adanya temuan uang pecahan Rp100 ribu, Rp50 ribu dan Rp10 ribu berserakam.

Dikutip dari laman Pojoksatu.id, video itu diketahui direkam oleh seorang pria berasal dari Masamba, Sulawesi Selatan.

Dari video itu terlihat, ada beberapa uang yang sudah rusak tapi ada juga yang masih utuh. Warganet menduga, uang itu milik korban yang ada di Petobo.

Seperti diketahui, wilayah Petobo dan Balaroa hilang ditelan bumi karena adanya fenoma likuifaksi.

(Sumber: Pojoksatu.id)

1 dari 2 halaman

Mengais Sisa Harta Terakhir di Petobo dan Balaroa

Dream - Gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah seolah tak cukup memberikan duka bagi warga Palu. Setelah bencana hebat, warga Petobo dan Donggala mengalami fenomena likuifaksi. Fenomena itu terjadi karena tanah kehilangan kekuatannya.

Diduga, ada ribuan rumah yang amblas ditelan lumpur di dua wilayah itu. Satu bulan pasca musibah terjadi, wilayah tersebut luluh lantak.

Di tengah keheningan siang bolong, terdengar teriakan Tamsir Sikopo membuat orang-orang yang sedang mencari harta sisa di Balaroa mendekat.

" Hei cepat-cepat, ada bantuan. Cepat itu bantuan dari TNI bawa," kata Tamsir, Sabtu 27 Oktober 2018.

Terlihat, ia memikul satu paket sembako dengan isi beras dan mie instan dan biskuit. Tamsir mengaku, tiga jenis makanan itu diberikan untuk satu keluarga di pengungsian.

Setiap hari, pria berusia 60 tahun itu tak kenal lelah mencari barang berharga di sekitar rumahnya yang kini telah bergesekan dari posisi awalnya berdiri.

Hari demi hari usahanya membuahkan hasil. Ijazah dan surat-surat penting berhasil ditemukan. Raut wajahnya nampak tersenyum saat menceritakan hal itu.

" Tiap hari ke sini, ambil surat-surat, ijazah. Sebelum ada rencana perataan (dari pemerintah)," ucap dia.

Selain warga asli Balaroa, nampak juga para pemulung yang mengambil besi, seng dari sisa bangunan yang telah hancur.

Selain itu, ada Hamid warga Petobo yang tengah sibuk mengambil spare part mobilnya yang kondisinya sudah ringsek. Apa saja ia ambil asalkan memiliki nilai untuk dijual, mulai dari ban hingga setir mobil.

" Lumayan lah, dari pada diambil sama orang," ujar Hamid.

Kemudian ada juga warga yang membawa mobil bak terbuka mengangkut kayu-kayu bekas rumah yang hancur. Serupa di Balaroa, para pemulung juga banyak terlihat sambil memungut barang-barang yang bisa dijual.

[crosslink_1]

2 dari 2 halaman

Malam Hari di Petobo Bikin Bergidik

Dream - Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah menjadi salah satu kawasan terdampak bencana terparah. Ribuan warga tewas tertelan lumpur akibat likuifaksi yang terjadi beberapa jam usai gempa dahsyat pada Jumat 28 September 2018.

Belum ada angka pasti terkait jumlah korban tewas lantaran sulitnya proses evakuasi. Tetapi, warga memperkirakan ada sekitar 6.000-7.000 orang meninggal terendam lumpur.

Situasi di Petobo saat ini begitu mencekam, terutama di malam baru. Salah satu warga, Salih, 42 tahun, mengisahkan bagaimana mengerikannya berada di Petobo.

" Setiap malam terdengar suara anjing yang menggonggong panjang dan lama, belum lagi banyak burung hantu, memang menyeramkan," kata Salih, dikutip dari Pojoksatu, Senin 15 Oktober 2018.

Menurut pria yang lebih akrab disapa Chalik itu, banyak orang berdatangan ke Petobo usai terjadinya likuifaksi. Mereka ingin menyaksikan sendiri bagaimana parahnya kondisi Petobo atau mencari keluarga mereka yang hilang.

 

Beri Komentar
Wasiat Terakhir Ustaz Arifin Ilham