3 Anak Difabel Ciptakan Karya Seni Merchandise

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Selasa, 14 Mei 2019 13:00
3 Anak Difabel Ciptakan Karya Seni Merchandise
Mereka mahir mendesain dengan memakai software komputer.

Dream - Menyandang status sebagai difabel tak sepatutnya menciutkan nyali seorang anak dalam berkarya. Dengan niat mengasah keterampilan, anak difabel juga mampu menciptakan karya seni luar biasa.

Seperti yang dilakukan oleh tiga sahabat dari Bandung, Hendra Gunawan, Fatur Ridho, dan Claudia Panca. Mereka meluncurkan merchandise eksklusif spesial seri anniversary Starbucks yang ke-17.

Berbekal kemampuan memakai software komputer, mereka mendesain koleksi tumbler dan tote bag yang sangat menarik.

 Starbucks

" Untuk membuat karya ini, pertama-tama digambar. Terus discan atau difoto. Kemudian di-trace dengan aplikasi Adobe Illustrator," papar Hendra di acara Starbucks 17th Anniversary, Jakarta, Senin 13 Mei 2019.

 Difabel

Ketiga desainer grafis dari komunitas The Special ID itu menciptakan koleksi yang berbeda sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Seperti Hendra dan Fatur yang berangkat dari rasa cinta mereka terhadap klub sepak bola dan hobi traveling. Lalu, ada Claudia yang terinspirasi dari kucing jalanan.

 Difabel

" Lihat kucing di belakang rumah aku lihatin, dari situ kepikiran untuk gambar. Ada kucing yang lagi menyusui, ada yang ngantuk, main, makan, ada pula yang lagi berantem. Padahal sebenarnya aku enggak punya kucing di rumah," ujar Claudia.

1 dari 1 halaman

Mahir Menggunakan Software Desain

Kepiawaian mereka dalam mengoperasikan komputer juga diakui oleh sang pelatih. Meski berkebutuhan khusus, ketiga desainer ternyata sangat mahir memainkan software.

" Dari awal kita ada tes bakat, kelihatan potensi mereka di otak kanan. Diasah dengan interaksi komputer pun sangat cepat karena mereka generasi muda milenial. Mengenai software, kelebihan mereka adalah lebih fokus dan cepat memahami," tutur Firli Herdiana, Founder The Special ID.

 Difabel

Komunitas yang digawangi oleh Art Theraphy Center Widyatama itu berfokus pada pelatihan anak berkebutuhan khusus di bidang seni rupa dan musik.

" Di kalangan anak-anak ini, ternyata minat terbesarnya ada di kesenian. Mereka cenderung memakai otak kanan. Kami pun berpikir bahwa harus ada lembaga resmi yang mengakomodir minat mereka untuk jadi creativepreneur," ujar Anne Nurfarina, Director of Art Therapy Center Widyatama.

Dengan adanya wadah bisnis dan berkarya, Anne berharap anak-anak berkebutuhan khusus tak lagi dipandang sebelah mata. Bersama-sama, mereka melawan stigma anak difabel yang selalu bergantung kepada orang lain.

 Difabel

" Kita fasilitasi mereka, style-nya tidak kita ganggu gugat. Mereka harus hidup selayaknya manusia pada umumnya, mendapat income dan terbiasa membangun kemandirian secara finansial," imbuh dia.

Beri Komentar
Tips Jitu Menyeimbangkan Karier dan Pendidikan Ala Tiffani Afifa