8 Fakta Pangdam Jaya Dudung Abdurachman yang Berani Ancam Bubarkan FPI

Reporter : Reni Novita Sari
Jumat, 20 November 2020 18:45
8 Fakta Pangdam Jaya Dudung Abdurachman yang Berani Ancam Bubarkan FPI
Inilah sosok Pangdam Jaya yang trending di twitter karena aksinya ancam bubarkan FPI hingga copot baliho Habib Rizieq

Dream - Nama Pangdam Jaya, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Dudung Abdurachman, mendadak jadi perbincangan setelah dengan lantang mengatakan memerintahkan penurunan baliho Habib Rizieq Shihab dan meminta FPI dibubarkan bila perlu.

Dudung mengaku geram karena baliho Habib Rizieq dipasang sembarangan di seantero Jakarta. Dia membenarkan video viral yang memperlihatkan pasukan berseragam loreng sedang menurunkan baliho Habib Rizieq.

Dia menagaskan mereka adalah anggota TNI. Dudung yang memerintahkan penurunan baliho itu. Menurut dia, semula baliho-baliho Habib Rizieq dicopot oleh Satpol PP. Namun dipasang kembali. Karena itulah dia memerintahkan anak buahnya untuk mencopot baliho-baliho Habib Rizieq.

Menurut Dudung, baliho yang terpasang itu menyalahi aturan. Tak hanya itu, Dudung juga menegaskan pemerintah bisa saja membubarkan FPI jika diperlukan.

" Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq itu perintah saya," tegas Dudung, dikutip dari Merdeka.com.

Pernyataan itu membuat tagar #PangdamJaya langsung menduduki puncak trending topik media sosial Twitter. Sejumlah warganet ada yang mendukung dan ada yang menyesalkan sikap Pangdam Jaya terkait pencopotan baliho tersebut.

Lantas siapa sebenarnya sosok Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman itu?

1 dari 8 halaman

1. Menjabat Panglima Kodam Jaya

Pangdam Jaya Dudung Abdurachman© Foto : Wikipedia

Dudung Abdurachman merupakan seorang perwira tinggi TNI-AD kelahiran Bandung, Jawa Barat, 16 November 1965. Sejak 27 Juli 2020, Dudung mengemban amanat sebagai Panglima Daerah Komando Militer Jaya/Jayakarta (Pangdam Jaya), setelah sebelumnya dijabat oleh Mayjen TNI Eko Margiyono.

2 dari 8 halaman

2. Telah Menikah

Pangdam Jaya Dudung Abdurachman© Foto : kodamjaya-tniad.mil.id

Dudung memiliki istri bernama Rahma Dudung Abdurachman. Saat ini Rahma dikukuhkan menjadi Ibu Raksakarini Sri Sena Jaya, menggantikan Ny. Atiek Eko Margiyono. Gelar Ibu Raksakarini Sri Sena Jaya adalah suatu kehormatan dan penghargaan di lingkungan TNI AD. Ini juga merupakan kebanggaan tersendiri bagi Ny. Rahma selaku Ketua Persit Kartika Chandra Kirana PD Jaya yang baru.

3 dari 8 halaman

3. Lulusan Akmil

Pangdam Jaya Dudung Abdurachman© Foto : Liputan6

Mayjen TNI Dudung Abdurachman merupakan Lulusan Akmil tahun 1988 dari kecabangan infanteri. Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Gubernur Akmil.

4 dari 8 halaman

4. Putra Seorang PNS

Pangdam Jaya Dudung Abdurachman© Foto : Liputan6

Ia merupakan putra pasangan Bapak Nasuha dan Ibu Nasyati PNS di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi. Ia Menyelesaikan sekolah dari SD sampai SMA di Kota Bandung (1972-1985). Lulus SMA tahun 1985 kemudian mendaftar Akabri Darat. Dia melaksanakan pendidikan Akmil sampai 1988 dengan menyandang pangkat Letnan Dua. 

5 dari 8 halaman

5. Ayah Meninggal Saat Dudung Kelas 2 SMP

Pangdam Jaya Dudung Abdurachman© Foto : kodamjaya-tniad.mil.id

Tak semulus yang orang bayangkan, perjalanan Mayjen TNI Dudung hingga akhirnya menjadi seorang perwira dimulai dari nol. Pada tahun 1981 ketika dia kelas 2 SMP, ayahnya yang bekerja sebagai PNS di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi meninggal dunia.

6 dari 8 halaman

6. Sempat Menjadi Loper Koran

Untuk membantu perekonomian keluarga, akhirnya dia mencari nafkah sebagai loper koran. Pekerjaan itu dilakukan sebelum berangkat sekolah. Saat itu Ia duduk di bangku SMA Negeri 9 Bandung.

Tak hanya itu, berbagai pekerjaan pernah dilakukannya untuk membantu ibundanya. Menjual kue tampah di perempatan Jalan Belitung di sekitar Kodam III/Siliwangi juga pernah dilakukan.

7 dari 8 halaman

7. Sangat Menghormati Ibunya

Pangdam Jaya Dudung Abdurachman© Foto : merdeka.com

Bagi Dudung, ibu merupakan sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam kehidupannya. Sejak Dudung remaja ia melihat ibunya menjadi tulang punggung utama menafkahi delapan orang anak-anaknya.

8 dari 8 halaman

8. Cita-Cita Menjadi Tentara

Sejak kecil dia sudah membulatkan tekad ingin menjadi tentara. Profesi itu selalu memanggil karena dia hidup dan tinggal di barak. Profesi itu didambakan sebagai upaya meringankan beban ibunya untuk membiayai pendidikan delapan saudara kandungnya. 

Dalam usia belia, dia sadar hidup itu juga berisi kerja keras, tekad dan upaya yang tanggap untuk mengejar mimpi. Kepedihan hidupnya di masa kecil dan kepatuhan serta cintanya kepada kedua orang tua, justru menjadi pendorong semangatnya sampai ke titik tertinggi.

Beri Komentar