Abu Jahal, Musuh yang Mengakui Kebenaran Rasulullah SAW

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 25 Februari 2019 20:02
Abu Jahal, Musuh yang Mengakui Kebenaran Rasulullah SAW
Abu Jahal tidak menyangkal kejujuran dan ajaran Rasulullah SAW.

Dream - Di masa-masa awal berdakwah, Rasulullah Muhammad SAW dimusuhi dan ditentang banyak orang. Bahkan para petinggi suku Quraisy sangat membenci Rasulullah SAW.

Di antara sekian pemimpin Quraisy, ada satu nama yang paling membenci Rasulullah. Dia adalah Amr bin Hisyam, atau lebih dikenal dengan Abu Jahal.

Abu Jahal dikenal memiliki karakter yang kejam dan bengis. Dia tidak segan membunuh lawan-lawannya.

Karena begitu benci pada Islam, Abu Jahal melakukan segala cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW. Ancaman demi ancaman kerap dia berikan kepada Rasulullah agar tidak lagi menyebarkan Islam.

Rasulullah SAW juga pernah dilarang sholat oleh Abu Jahal. Tapi, Rasulullah SAW tidak gentar menghadapi intimidasi Abu Jahal.

Selain itu, Abu Jahal adalah aktor terjadinya Perang Badar. Dialah yang menghasut Suku Quraisy untuk bertempur dan memusnahkan Rasulullah dan umat Islam kala itu.

 

 

1 dari 2 halaman

Abu Jahal Takjub pada Alquran

Dikutip dari NU Online, dalam buku Para Penentang Muhammad SAW tulisan Misran dan Armansyah, di masa-masa awal turunnya wahyu Alquran, Abu Jahal kerap menyelinap ke rumah Rasulullah SAW. Dia ingin mendengarkan bacaan Alquran dari mulut Rasulullah SAW.

Ada keajaiban yang dia rasakan ketika Rasulullah SAW membacakan wahyu setiap kali turun. Sayangnya, Abu Jahal tidak pernah mau memeluk Islam.

Abu Jahal sendiri pernah membuat pengakuan akan kejujuran Rasulullah SAW. Dia sebenarnya tidak menyangsikan wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW.

Dalam buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam karya Raghib Al Sirjani, Abu Jahal pernah ditanya keponakannya, Miswar bin Makhramah mengenai sosok Rasulullah SAW. Dia mengatakan Muhammad adalah orang yang sangat jujur, tidak pernah berdusta, sehingga dijuluki Al Amin.

 

2 dari 2 halaman

Alasan Abu Jahal Tak Mau Peluk Islam

Miswar lantas bertanya lagi mengapa pamannya itu tidak mau mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

" Wahai anak saudariku, kami dan Bani Hasyim saling memperebutkan kehormatan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberikan minum, kami pun memberikan minum. Mereka membayar orang untuk bekerja, kami pun sama," kata Abu Jahal.

" Sehingga ketika kami duduk di atas kendaraan kami (karena bermusuhan), kami seperti dua ekor kuda taruhan, maka mereka (Bani Hasyim) berkata, 'Di antara kami ada seorang nabi'. Maka kapan kah kami mendapatkan hal tersebut?" lanjut Abu Jahal.

Pertanyaan senada juga dilontarkan oleh Al Akhnas bin Syuraiq kepada Abu Jahal tepat di hari terjadinya Perang Badar. Abu Jahal pun menjawab Muhammad adalah seorang yang jujur dan tidak pernah berbohong.

" Akan tetapi, jika Bani Qushay sudah memegang bendera, menjaga Kakbah, memberi minum orang haji, dan memiliki kenabian, maka apa lagi yang tersisa untuk Quraisy lainnya?" kata Abu Jahal.

Kebencian dan permusuhan Abu Jahal pada dasarnya bukanlah karena menolak ajaran baru yang disampaikan Rasulullah SAW. Namun lebih karena ketaklidan atau fanatisme golongan.

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting