Perlukah Menggelar Walimah Usai Khitanan Anak?

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 13 November 2019 20:01
Perlukah Menggelar Walimah Usai Khitanan Anak?
Walimah khitan mungkin sudah jadi tradisi masyarakat.

Dream - Khitan termasuk salah satu kewajiban dalam syariat Islam. Kewajiban ini berlaku bagi pria ketika memasuki masa akil baligh.

Wajib khitan bisa gugur jika dilaksanakan sebelum dewasa. Seperti ketika bayi baru lahir atau anak belum mimpi basah.

Di masyarakat Indonesia, terdapat kebiasaan untuk menggelar walimah atau pesta ketika anak dikhitan. Pemilik rumah akan mengundang tetangga untuk sekadar makan-makan merayakan momen dikhitannya anaknya.

Tidak jarang, walimah yang digelar cukup meriah. Ada pula yang sampai menggelarnya lebih dari semalam.

Dilihat dari syariat, sebenarnya apakah perlu menggelar walimah khitan?

 

1 dari 5 halaman

Termasuk Sunah

Dikutip dari Bincang Syariah, ternyata ulama tidak satu pendapat mengenai hukum walimah khitan. Ada yang menganggap walimah khitan merupakan fardlu kifayah karena proses khitan harus disaksikan orang lain.

Sementara sebagian ulama memandang walimah khitan sebatas sunah. Sehingga, lebih baik digelar namun tidak diharuskan.

Penjelasan ini terdapat dalam kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyah.

" Sebagian ulama Syafiiyah ada yang berpendapat bahwa walimah khitan adalah fardhu kifayah karena bertujuan untuk menampakkan kepada orang lain. Itu bisa dilakukan dengan mengundang sebagian orang saja. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa walimah khitan adalah sunah."

Syeikh An Nawawi Al Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menekankan kesunahan melaksanakan walimah khitan. Tujuannya untuk memberitahukan khalayak tentang telah khitannya seorang anak.

Sehingga, dapat kita ketahui walimah khitan sangat dianjurkan untuk digelar. Ini agar disaksikan banyak orang.

Sumber: Bincang Syariah

2 dari 5 halaman

Istri Ambil Uang di Dompet Suami Tanpa Izin, Bolehkah?

Dream - Setiap suami punya kewajiban untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Mencukupi semua kebutuhan istri mulai dari makan, kebutuhan rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Dapat dikatakan, hak istri merupakan kewajiban bagi suami. Jika tidak dipenuhi, suami telah melanggar hak istri.

Banyak yang memahami nafkah terbagi menjadi dua yaitu lahir dan batin. Nafkah lahir yaitu berupa segala kebutuhan fisik istri mulai dari makanan, kosmetik, rumah tangga dan lain-lain.

Umumnya, nafkah lahir diberikan secara rutin tiap bulan dalam bentuk uang. Jika ada pendapatan tambahan lalu diberikan suami pada istrinya, itu juga termasuk nafkah.

Tetapi, tidak sedikit cerita istri kesusahan memenuhi kebutuhannya. Penyebabnya, sang suami ternyata pelit dan hanya mau memberi sebagian uang untuk kebutuhan sebulan.

Padahal, suami punya pendapatan lebih. Bahkan di dompet terkadang tersimpan sejumlah uang.

Jika demikian, apakah istri dibolehkan mengambil uang dalam dompet suami tanpa izin?

3 dari 5 halaman

Mejangan Rasulullah

Dikutip dari Bincang Muslimah, hal semacam itu ternyata juga pernah terjadi di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Hindun, istri dari Abu Sufyan, pernah mengadu kepada Rasulullah mengenai suaminya yang begitu pelit.

Suatu hari, Hindun butuh uang untuk mencukupi kebutuhannya. Dia pun akhirnya mengambil uang yang disimpan di saku baju Abu Sufyan tanpa sepengetahuan suaminya.

Kisah ini terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah RA.

Dari Aisyah RA, ia berkata, " Hindun binti 'Utbah, istri Abu Sufyan menemui Rasulullah SAW seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan seorang laki-laki yang pelit (kikir), ia tidak memberikan nafkah kepadaku yang mencukupi (kebutuhanku) dan anakku kecuali (dari) apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah aku berdosa karena hal itu?' Rasulullah SAW menjawab, 'Ambillah dari hartanya dengan ma'ruf’ (semestinya) apa yang cukup buatmu dan anakmu'."

 

4 dari 5 halaman

Selama Untuk Kebutuhan Pokok dan Mendesak

Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari membolehkan istri mengambil uang suaminya tanpa izin lebih dulu. Tetapi, selama uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Yang dimaksud kebutuhan sehari-hari sifatnya pokok dan mendesak untuk dipenuhi. Contohnya makan, biaya kesehatan dan lain sebagainya.

Selain itu, kekikiran yang disebutkan dalam hadis di atas merupakan sifat suami. Bukan dalam rangka untuk menabung melainkan memang suami tidak mau memberikan uang lebih banyak kepada istrinya.

Hadis di atas memang membolehkan istri mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya. Tetapi, hadis ini tidak bisa dipakai dasar jika kebutuhan dasar terpenuhi sementara istri merasa perlu mencukupi kebutuhan tersier yang sifatnya tidak mendesak.

Sumber: Bincang Muslimah.

5 dari 5 halaman

Dianjurkan Berbaring Miring ke Kanan Usai Sholat Qabliyah Subuh

Dream - Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunah qabliyah jelang Sholat Subuh. Jumlah rakaatnya juga tidak banyak, cukup 2 rakaat.

Meski begitu, kita ketahui sholat sunah ini mengandung keutamaan. Salah satunya meraih kebaikan yang nilainya melebihi dunia akhirat.

Biasanya, orang akan banyak menghabiskan waktu usai sholat sunah qabliyah dengan memperbanyak zikir. Ada juga yang mengisinya dengan membaca Alquran hingga waktu subuh tiba.

Ternyata, ada amalan yang juga dianjurkan di sela menunggu waktu Subuh tiba. Amalan tersebut yaitu tidur miring ke kanan.

Dikutip dari Bincang Syariah, amalan ini mungkin sulit dilakukan dewasa ini. Apalagi ketika kita melaksanakan sholat Subuh berjemaah di masjid.

Tetapi, amalan tidur ke kanan usai sholat sunah qabliyah dan sebelum sholat Subuh ternyata adalah sunah. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW sendiri yang menganjurkannya.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone