Aroma Babi Panggang Tercium, Haramkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 13 Januari 2020 20:01
Aroma Babi Panggang Tercium, Haramkah?
Daging babi memang najis, aromanya?

Dream - Sudah jadi pemahaman bersama bagi umat Islam, daging babi adalah makanan haram. Larangan mengonsumsinya juga sangat banyak, mulai di dalam Al-Qur'an, Hadis Nabi Muhammad SAW, hingga pandangan para ulama.

Tetapi, masyarakat Indonesia tidak semuanya Muslim. Ada sebagian dari mereka yang tidak memeluk Islam.

Di beberapa daerah, komunitas non-Muslim juga membuka usaha makanan non-halal. Salah satu menu yang kerap mereka tawarkan adalah babi panggang.

Kita mungkin pernah berjalan di dekat restoran yang menawarkan menu babi panggang. Baik sengaja maupun tidak, kita mencium aroma makanan haram tersebut.

Lantas, apakah ini haram dan membuat pakaian kita jadi najis?

Dikutip dari Konsultasi Syariah, daging babi dan anjing merupakan benda najis. Sehingga haram hukumnya bagi seorang Muslim untuk memakannya.

 

1 dari 4 halaman

Aroma Babi Panggang Tercium

Tetapi, hukum aroma atas makanan najis ternyata berbeda. Ulama menyatakan bau atau asap yang membawa aroma dari makanan haram tidaklah najis.

Hal ini dibahas Syeikhul Islam dalam Al Fatawa Al Kubro.

" Menurut pendapat yang lebih kuat, asap atau uap hasil perubahan fisika dari benda najis, maka statusnya adalah suci. Karena ini adalah gabungan unsur gas, api dan zat cair, dan di sana tidak ada sifat najis."

Jika aroma itu menempel pada pakaian juga tidak membuatnya menjadi najis. Artinya, pakaian yang terkena asap makanan haram tetap bisa digunakan untuk sholat.

Dalam Al Mausu'ah Al Fiqhiyah juga dibahas mengenai masalah ini. Tetapi, aroma tersebut disamakan dengan bau cairan kotoran di kamar kecil.

" Uap dari kamar kecil atau lainnya, seperti gas yang baunya tidak sedap yang menguap dari benda najis, apabila mengenai pakaian, tidak menyebabkan najis, menurut pendapat yang shahih dalam mazhab Hanafiyah. Diturunkan dari status kentut yang keluar dari manusia. Gas kentut ini tidak najis, baik celana orang yang kentut itu basah atau kering."

Sumber: Konsultasi Syariah

2 dari 4 halaman

Autopsi Jenazah dalam Tinjauan Syariat

Dream - Kematian istri komedian Entis Sutisna atau Sule, Lina Jubaedah, menyedot perhatian publik. Kasus ini mengejutkan karena terjadi secara tiba-tiba.

Keluarga Sule merasa ada kejanggalan pada kematian Lina. Anak sulung Sule, Rizky Febian, melaporkan kecurigaan keluarga atas kematian sang ibu kepada polisi.

Dalam laporannya, Rizky meminta kepolisian untuk menjalankan autopsi terhadap jenazah Lina yang telah dimakamkan. Kepolisian menindaklanjuti laporan tersebut dan membuka kembali makam Lina.

Autopsi merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui penyebab kematian seseorang. Metode ini dijalankan dengan cara membedah mayat.

Lantas, bagaimana status praktik autopsi dalam tinjauan syariat?

 

3 dari 4 halaman

Sebab Dibolehkannya Penundaan Pemakaman

Dikutip dari NU Online, ulama membahas masalah ini dalam bab menunda pemakaman atau menggali kembali kuburan. Autopsi menjadi salah satu sebab tertundanya jenazah dimakamkan serta penggalian kuburan.

Penundaan pemakaman pada dasarnya tidak dibolehkan. Tetapi, larangan ini dikecualikan jika terdapat beberapa sebab yaitu untuk menyucikan jenazah berpenyakit menular, untuk dilakukan autopsi demi penegakan hukum atau keterangan lainnya, untuk menunggu kedatangan wali jenazah, atau menunggu berkumpulnya 40 orang jemaah sholat jenazah.

Hal ini dijelaskan oleh Syeikh Muhammad Khatib As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj ila Ma'rifah Al Fazh Al Minhaj.

" (Dan tidak tunda) pelaksanaan sholat jenazah (karena memperbanyak orang yang menyolatinya) berdasarkan hadis sahih, 'Bersegeralah kalian dengan urusan jenazah.' Dan boleh menanti walinya sebentar selama tidak dikhawatirkan perubahan kondisinya. Peringatan. Ungkapan al-Nawawi tersebut meliputi dua kasus. Pertama, ketika sebelum sholat jenazah telah hadir beberapa orang, maka yang belum hadir tidak perlu ditunggu. Meskipun demikian, al-Zarkasi dan ulama selainnya berpendapat: “ Bila mereka belum mencapai 40 orang, maka ditunggu sebentar agar mencapai jumlah tersebut. Sebab, jumlah jamaah 40 orang ini dianjurkan dalam menyolati jenazah. Dalam kitab Shahih Muslim, terdapat riwayat dari Ibn Abbas, bahwa sungguh beliau menunda shalat jenazah karena menanti jumlah jamaah 40 orang. Disebutkan hikmahnya adalah tiada berkumpul 40 orang jamaah melainkan salah seorangnya adalah wali Allah. Dan hukum 100 orang sama dengan 40 orang, seperti kesimpulan yang diambil dari hadis tadi."

 

4 dari 4 halaman

Soal Autopsi

Sedangkan terkait pembedahan jenazah, Syeikh Wahbah Az Zuhayli menerangkannya dalam Al Fiqhul Islami wa Adillatuh. Dalam kitab tersebut, Syeikh Az Zuhayli menjelaskan mazhab Syafi'i dan Maliki membolehkan pembedahan tubuh mayit dengan beberapa alasan.

Sebab dibolehkannya praktik tersebut yaitu keadaan darurat, untuk kepentingan pendidikan kedokteran, untuk mengetahui sebab kematian, menetapkan pidana (hukuman) atas tersangka pembunuhan.

Juga dibolehkan jika autopsi merupakan jalan satu-satunya untuk mengungkap kasus kejahatan berdasarkan dalil wajibnya penegakan hukum. Sehingga, tidak ada pihak yang terzalimi serta pelaku tidak bisa berkelit dari kejahatan yang sudah dilakukannya.

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
Roger Danuarta Ogah Lihat Cut Meyriska Tampil Modis