Ketentuan Ucap Masya Allah dan Subhanallah, Jangan Terbalik

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 9 Mei 2019 10:01
Ketentuan Ucap Masya Allah dan Subhanallah, Jangan Terbalik
Dua kalimat di atas termasuk kalimat toyyibah.

Dream - 'Masya Allah' dan 'Subhanallah', dua kata itu termasuk dalam golongan kalimat tayyibah. Kedudukannya setara dengan lafal takbir, tahmid, dan tahlil.

Belakangan, muncul perdebatan di masyarakat mengenai penggunaan dua kata itu. Ada yang menyalahkan orang lain lantaran menggunakan 'Subhanallah' untuk hal-hal yang mengandung ketakjuban.

Disebutkan yang benar harus menggunakan 'Masya Allah'. Sementara 'Subhanallah' dipakai untuk hal-hal mengandung agak kurang baik.

Sebenarnya, bagaimana ketentuan penggunaan dua kata tersebut secara tepat?

Dikutip dari NU Online, manusia kerap berhadapan dengan peristiwa yang membuat takjub. Entah itu keindahan, peristiwa luar biasa, kabar baik, mencengangkan, bahkan yang tampak di luar nalar.

Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat mengajarkan kalimat toyyibah ketika mengalami hal di atas. Kalimat tersebut termasuk ke dalam zikir.

 

1 dari 1 halaman

Yang Tepat Seperti Apa?

Imam An Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar menjelaskan Rasulullah memakai kalimat tasbih 'Subhanallah' ketika melihat perilaku yang tidak semestinya.

" Sebuah hadis diriwayatkan kepada kami di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW berpapasan dengannya saat masih junub di sebuah jalan di Madinah. Abu Hurairah lalu pergi diam-diam meninggalkan Rasulullah kemudian mandi bersuci. Rasulullah SAW sendiri mencari ke mana sahabatnya menghilang. 'Kamu tadi ke mana Abu Hurairah?' tanya Rasulullah SAW setelah Abu Hurairah datang. 'Saat tadi kita bertemu, aku masih junub ya Rasul. Aku enggan duduk bersamamu sebelum aku mandi,' jawab Abu Hurairah. 'Subhanallah, orang beriman itu tidak najis,' sambut Rasulullah SAW."

Adakah ketentuan penggunaan kalimat tertentu ketika takjub? Muhammad bin Alan As Shiddiqi dalam kitab Al Futuhatur Rabbaniyyah alal Adzkarin Nawawiyyah memberikan penjelasan demikian, mengutip riwayat ketika Umar bin Khattab bertanya apakah Rasulullah menceraikan istri-istrinya.

" Bab takjub yang diekpresikan dengan lafal tasbih, tahlil, dan lafal serupa keduanya antara lain seperti lafal takbir, la hawla wa la quwwata illa billâh (hawqalah). Imam Bukhari mendahului bab takbir dan tasbih ketika takjub oleh sesuatu. Ia meriwayatkan hadis dalam Ta'liqat-nya dari Ibnu Abi Tsaur, dari Ibnu Abbas, dari Sayyidina Umar RA. 'Aku bertanya, 'Apakah benar engkau ceraikan istri-istrimu?' Rasulullah SAW menjawab, 'Tidak.' 'Allâhu akbar,' kujawab."

Dua pendapat di atas menyatakan tidak ada ketentuan yang mengatur penggunaan kalimat toyyibah untuk mengekspresikan ketakjuban.

Semua kalimat toyyibah baik tasbih, tahmid, tahlil, dan kalimat lainnya dapat digunakan.

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar