Bahagia Menjadi Mualaf Setelah 20 Tahun Beda Keyakinan dengan Keluarga

Reporter : Reni Novita Sari
Senin, 4 Mei 2020 15:01
Bahagia Menjadi Mualaf Setelah 20 Tahun Beda Keyakinan dengan Keluarga
Ramadhan tahun ini, Mary ikut menjalankan ibadah puasa sebagai seorang muslim

Dream- Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi sebagian mualaf yang menjalani Ramadhan pertamanya.

Sebelum adanya pandemi covid-19, tentunya Ramadhan merupakan momen yang sangat dinanti-nantikan mereka.

Banyak hal yang ingin mereka rasakan langsung di bulan suci, salah satunya kehangatan Muslim saat menjalani puasa bersama-sama.

Ramadhan adalah waktu berjamaah, tetapi tidak tahun ini. Masjid-masjid ditutup untuk shalat tarawih setiap malam, tidak ada kemungkinan berbuka puasa bersama keluarga besar dan teman-teman, bahkan shalat Idul Fitri berskala besar kemungkinan besar akan ditiadakan. Banyak mualaf yang pastinya akan berjuang lebih pada Ramadhan ini.

Namun, bagi sebagian kecil mualaf, pandemi virus corona tidak akan mengubah pengalaman Ramadhan mereka. Tak terkecuali kisah seorang Mualaf asal Queens, New York, AS, yang menyampaikan pengalaman pertamanya menjalani aktivitas di bulan suci Ramadhan pada tahun ini.

Mary Catherine Ford, dalam artikelnya yang diterbitkan Washington Post, mengungkapkan bahwa Ia memulai Ramadhan pertamanya usai memeluk Islam, di tengah penyebaran virus corona.

1 dari 7 halaman

Di antara Suami dan Anak yang Muslim

Selama 20 tahun sebelumnya, Mary menganut Katolik dan mendukung suami dan anak-anaknya yang beragama Islam sambil mempertahankan Katoliknya. Selama bertahun-tahun itulah, ia selalu merasa sendiri selama Ramadhan.

Sedangkan pada Ramadhan kali ini, ia telah memeluk Islam ketika begitu banyak Muslim yang berduka karena kehilangan kebersamaannya di bulan Ramadhan.

Mary mengatakan, ini adalah Ramadhan pertama bagi dirinya dan dia mengisi rumahnya dengan kehidupan baru.

Ia menyadari, di belahan dunia, masjid-masjid ditutup, pertemuan komunitas dilarang dan situs-situs suci Makkah dan Madinah ditutup. Hampir 2 miliar Muslim di dunia merayakan Ramadhan secara terpisah untuk pertama kalinya.

Sebagai pemeluk baru Islam, tahun ini Mary berpuasa, sholat, dan merayakan Ramadhan dengan keluarga Muslimnya.

2 dari 7 halaman

Suasana Ramadhan di Pusat Wabah Virus Corona

Dia tinggal di Queens, lima lingkungan terbesar di Kota New York yang menjadi pusat wabah virus corona (Covid-19).

Mary mengatakan bahwa banyak Muslim merasa sedih selama bulan Ramadhan tahun ini, karena telah kehilangan suasana ibadah yang biasa dijalani.

“ Lingkungan tempat tinggal saya pada Maret lalu berubah dalam semalam, dari daerah yang bising dan semarak menjadi tempat di mana bagian depan toko yang gelap dan sunyi,” ujarnya.

Dia menunjukkan bahwa infeksi Covid-19 di Queens telah meningkat menjadi 51 ribu kala itu. Jalan-jalan kosong, isolasi dan ketakutan membayangi kehidupan di Queens.

3 dari 7 halaman

Kehidupan Tidak Berjalan Dengan Normal

Namun Mary mengakui, dalam kondisi ini kenormalan adalah hal yang mustahil. Suaminya tidak bekerja, dua anaknya yang berusia remaja harus menjalani pembelajaran jarak jauh.

“ Aku terus-menerus mencari sudut yang tenang untuk menulis, kenormalan adalah suatu kemustahilan,” ujarnya.

4 dari 7 halaman

Bersatu Sebagai Keluarga Muslim

Terlepas dari semua penderitaan ini, dan setelah masuk Islam, Mary sangat bahagia akan keputusannya. Ia kini bisa bergabung dengan suami dan dua anaknya di ruang tamu untuk shalat lima kali sehari.

Mary mengatakan bahwa ibadah sholat telah membuat dirinya dan keluarganya merasa teduh dan damai. Ketika dia bersujud, rasa cemas keluar dari kepalanya dan digantikan oleh kedamaian.

" Lima kali sehari saya bergabung dengan suamiku dan dua anak lelaki kami di ruang tamu. Saat sholat, ketika aku berlutut dan mengistirahatkan kepalaku di atas sajadah, kecemasan hilang dariku dan terganti dengan kedamaian," kata dia.

Selama bertahun-tahun dia merasa bahagia menikah dengan Muslim yang taat dan membesarkan anak-anak mereka dalam agama selain agamanya. Dia masuk Islam baru tahun lalu.

5 dari 7 halaman

Mary Merasakan Islam Dalam Dirinya Setelah Mendengar Adzan

Perasaan untuk pindah agama ke Islam mulai datang pada tahun lalu, ketika ia mengunjungi kampung halaman suami di Afrika Utara musim panas lalu. Seruan adzan di waktu matahari terbit membangunkannya dari tidur seperti biasa.

Mary bangun dan menyadari bahwa kata-kata dari panggilan untuk shalat bukan hanya untuk orang lain, dan tetapi juga untuk dirinya.

" Tetapi saat itu, aku menyadari kumandang adzan tidak hanya untuk orang lain. Islam bukan lagi sesuatu yang berada di luar diriku tetapi ada di dalam," tutur dia.

 

6 dari 7 halaman

Imannya Tumbuh Kala Dunia Dilanda Kemalangan

Saat ini, musim semi telah tiba di New York. Muncul ketakutan yang nyata di luar rumah meski bunga bakung dan tulip telah berbunga di kebun kecil di seberang jalan. Virus corona membuat musim semi seolah berubah menjadi kegelapan.

" Sebaliknya, kutemukan musim semi di dalam apartemen ini. Imanku telah menjadi seperti benih di Ramadhan ini, terus tumbuh ketika bergabung dengan Muslim lainnya," ucapnya.

Mary menuturkan, korban meninggal di daerahnya akibat Covid-19 telah bertambah menjadi yang tertinggi di dunia.

7 dari 7 halaman

Mary Bahagia Menjalani Ramadhan Pertamanya dengan Keluarga

Setiap hari pada Ramadhan ini, Mary dan keluarganya berpuasa, dan saat matahari terbenam, mereka berkumpul untuk berdoa dan berbuka puasa bersama.

" Sama seperti keluarga Muslim yang lain di seluruh dunia. Meja kami diatur dengan mangkuk-mangkuk harira Aljazair yang mengepul, diikuti hidangan liburan favorit anak laki-laki kami, kentang tumbuk, domba panggang yang diolesi madu, semua dihiasi potongan-potongan dari daun bawang dan daun seledri yang tumbuh di jendela kami," tuturnya.

Mary pun mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam sabdanya, " Jika akhir zaman datang dan ada bibit di tanganmu, maka teruslah menanam."

Kini Mary telah menemukan kenyamanan. " Insya Allah, melalui Ramadhan pertamaku dan pandemi ini," ucapnya.

Beri Komentar