Bahaya, Ini Hukum Pelakor dalam Islam

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 23 Februari 2021 10:40
Bahaya, Ini Hukum Pelakor dalam Islam
Rasulullah secara tegas melarang upaya merusak keharmonisan rumah tangga.

Dream - Pelakor atau perebut laki orang kini tengah menjadi istilah marak di masyarakat. Berbagai macam kasus perselingkuhan terus menerus jadi konsumsi publik.

Belum lama kabar seorang artis kena isu pelakor, muncul lagi artis lain dengan masalah yang sama. Bahkan ada yang sampai tangkap tangan.

Perselingkuhan bukan semata masalah yang terjadi pada artis. Pejabat hingga masyarakat biasa juga cukup banyak yang terlibat perselingkuhan.

Rumah tangga yang sudah dibangun susah payah rusak sekejap akibat orang ketiga. Semua karena hasrat ingin punya pasangan dinilai sempurna.

Dalam Islam, rumah tangga diatur sedemikian rupa khususnya soal etika. Keharmonisan rumah tangga menjadi sesuatu yang penting dalam Islam.

 

1 dari 3 halaman

Bukan Termasuk Pengikut Rasulullah

Upaya merusak keharmonisan rumah tangga bahkan mendapat ancaman yang sangat keras.

Rasulullah Muhammad SAW dalam sabdanya diriwayatkan Imam Abu Dawud berasal dari Abu Hurairah RA secara tegas menyatakan, orang yang berusaha mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain bukanlah bagian dari umatnya.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Bukan bagian dari kami, orang yang menipu seorang perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya."

Hadis ini tidak hanya ditujukan bagi para pria melainkan juga wanita yang menjadi pihak ketiga. Abu Abdirrahman Abadi dalam kitabnya Aunul Ma'bud ala Sunan Abu Dawud memberikan penjelasan gamblang mengenai maksud hadis di atas.

" (Bukan bagian dari) pengikut (kami, orang yang menipu) melakukan tipu daya dan merusak kepercayaan (seorang perempuan atas suaminya) misalnya menyebut keburukan seseorang lelaki di hadapan istrinya atau menyebut kelebihan lelaki lain di hadapan istri seseorang (atau seorang budak atas tuannya) dengan cara apa saja yang merusak hubungan keduanya. Semakna dengan ini adalah upaya yang dilakukan untuk merusak hubungan seorang laki-laki terhadap istrinya atau merusak hubungan seorang budak perempuan terhadap tuannya. Al-Mundziri mengatakan, hadis ini juga diriwayatkan An-Nasai."

Keterangan di atas sangat jelas, menyatakan pihak ketiga dalam rumah tangga tidak dianggap pengikut Rasulullah dan umat Islam.

Dapat dikatakan, upaya merusak hubungan rumah tangga tidak disyariatkan karena bertentangan dengan tujuan pernikahan itu sendiri.

 

2 dari 3 halaman

Larangan Seorang Wanita Meminta Pria Menceraikan Istrinya

Selain itu, ada larangan sangat tegas disampaikan Rasulullah SAW kepada wanita yang meminta seorang pria menceraikan istrinya, dengan maksud menguasai hak sang istri. Larangan itu tertuang dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi juga dari Abu Hurairah RA.

Menguak Manfaat Berhubungan Intim Saat Hamil© MEN

Dari Abu Hurairah yang sampai kepada Rasulullah SAW, dia bersabda, " Janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudaranya untuk membalik (agar tumpah isi) nampannya."

Dalam memaknai hadis ini, ulama berbeda pandangan dengan status wanita yang meminta pria menceraikan istrinya. Imam An Nawawi berpandangan yang dimaksud dengan wanita tersebut yaitu pihak ketiga yang ingin merebut suami wanita lain.

Sementara, Ibnu Abdil Bar punya pandangan lain. Menurut dia, wanita tersebut merupakan salah satu istri dalam hubungan poligami.

 

3 dari 3 halaman

Cakupan Makna Hadis

Tawarkan Paket Pernikahan Siri & Anak, Ini Fakta Kasus Aisha Weddings© MEN

Perbedaan pandangan ini secara jelas digambarkan Muhammad Abdurrahman Al Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami'it Tirmidzi.

" Imam An-Nawawi berkata bahwa makna hadits ini adalah larangan bagi seorang perempuan (pihak ketiga) untuk meminta seorang lelaki menceraikan istrinya agar lelaki itu menalak istrinya dan menikahi perempuan pihak ketiga ini. Ibnu Abdil Bar memaknai kata ‘saudaranya’ sebagai istri madu suaminya. Menurutnya, ini bagian dari fiqih di mana seorang perempuan tidak boleh meminta suaminya untuk menceraikan istri selain dirinya agar hanya ia seorang diri yang menjadi istri suaminya. Kata Al-Hafiz, makna ini mungkin lahir dari riwayat dengan redaksi, ‘Janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudaranya.’ Sedangkan riwayat yang memakai redaksi syarat, yaitu dengan ungkapan ‘Seorang perempuan tidak sepatutnya mensyaratkan perceraian saudaranya untuk membalik tumpah isi nampannya,’ jelas bahwa perempuan di sini adalah perempuan yang menjadi pihak ketiga. Pengertian ini diperkuat dengan redaksi, ‘agar ia (pihak ketiga) dapat menikah’, yaitu menikah dengan dengan suami saudaranya itu tanpa mensyaratkan lelaki tersebut menceraikan istri-istri sebelum dirinya."

Apapun itu, Islam mengharamkan upaya wanita merebut suami orang lain dengan maksud menguasai hak istri sah baik dengan atau tanpa syarat perceraian. Dalam hal ini, upaya menjadikan dirinya sebagai istri atas suami wanita lain dengan tujuan menguasai harta atau lainnya.

Sumber: NU Online.

Beri Komentar