Belajar Memaafkan Dari Kisah Nabi Yusuf

Reporter : Ulyaeni Maulida
Jumat, 22 Mei 2020 03:01
Belajar Memaafkan Dari Kisah Nabi Yusuf
Memaafkan harus dibarengi dengan sikap dan perbuatan yang tulus.

Dream Memberikan maaf atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan oleh orang lain, tak semudah yang dibayangkan. Ada rasa ketidakrelaan yang terkadang masih menyelimuti diri. Terasa begitu berat memaafkan dengan penuh ketulusan.

Seharusnya, memaafkan tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Ketika kata maaf diucapkan di bibir, maka hati juga harus ikut memaafkan.

Tidak dikatakan pemaaf, jika masih mengungkit kesalahan yang pernah diperbuat. Harus ada keridhoan didalam hati untuk memberikan maaf.

Dalam Alqran sudah banyak kisah para Nabi yang begitu ikhlas memberikan maaf. Salah satunya kisah Nabi Yusuf. Dari kisah Nabi Yusuf, kita dapat mengambil hikmah tentang memaafkan secara utuh. Bukan hanya sekedar ucapan, namun juga dibarengi dengan sikap yang tulus.

1 dari 3 halaman

Kisah Nabi Yusuf

Kisah Nabi Yusuf sudah diceritakan dalam Alquran. Beliau adalah seorang Nabi yang dizalimi oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. Mereka dengan sengaja ingin menyingkirkan Nabi Yusuf karena mereka merasa tidak diperlakukan adil oleh orang tuanya.

Suatu hari Nabi Yusuf diajak bergembala oleh para saudaranya. Namun ditengah perjalanan, mereka tiba-tiba mendorong Nabi Yusuf di sebuah sumur. Tak ada satu oun dari mereka yang peduli dengan teriakan Nabi Yusuf. Dan akhirnya mereka meninggalkan Nabi Yusuf begitu saja.

Namun atas izin Allah SWT, Nabi Yusuf pun berhasil selamat. Namun penderitaan beliau tak berhenti disana. Beliau kembali diberikan cobaan yang tak ringan. Salah satunya adalah ketika beliau difitnah atas tuduhan buruk yang sama sekali tidak pernah beliau lakukan. Dan akhirnya beliau dimasukkan kedalam penjara.

Dan kembali atas izin Allah SWT, Nabi Yusuf berhasil bebas dari penjara. Bahkan beliau diangkat menjadi salah satu petinggi Mesir kala itu. Dengan posisinya yang begitu besar, Nabi Yusuf pun banyak membuat kebijakan publik.

2 dari 3 halaman

Kemuliaan Nabi Yusuf

Disinilah kemuliaan hati Nabi Yusuf ditunjukkan. Ketika saudara-saudaranya yang dulu pernah menzaliminya datang ke Mesir, beliau tak segan menerima mereka secara langsung.

Saudara-saudaranya yang awalnya tak mengenali Nabi Yusuf pun terkejut. Saat mengetahui bahwa Nabi Yusuf masih hidup. Dan akhirnya mereka meminta maaf dan mengakui segala kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Semestinya, dengan segala kekuasaan yang dimiliki oleh Nabi Yusuf, beliau bisa saja memberi hukuman pada saudara-saudaranya. Namun, dengan segala kelapangan hati, beliau memberikan maaf kepada mereka.

“ Tak ada celaan bagi kalian di hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.” (QS. Yusuf: 92)

3 dari 3 halaman

Pesan Nabi Yusuf

 Maaf© Shutterstock

Dari ayat Alquran diatas, ada dua hikmah yang dapat diambil

Pertama, Nabi Yusuf ingin menegaskan bahwa beliau telah memaafkan segala kesalahan yang telah dilakukan oleh saudara-saudaranya. Bahkan tak ada rasa dendam sedikitpun dihati beliau.

Kedua, Nabi Yusuf menginginkan agar dosa mereka diampuni oleh Allah SWT. Agar kelak diakhirrat mereka tidak lagi terjerat oleh dosa-dosa yang pernah mereka lakukan.

Bahkan tak hanya memberi maaf, Nabi Yusuf juga mengajak seluruh saudaranya agar pindah ke Mesir dengan membawa anak-istri mereka. Disinilah makna memaafkan yang sesungguhnya. Kelapangan hati beliau begitu besar.

Karena memberi maaf bukan hanya sekedar ucapan belaka. Namun harus dibarengi dengan perbuatan yang nyata.

Ini pula yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW, ketika beliau dan kaum muslimin menaklukan Kota Makkah. Ketika beliau memegang kedua tiang pintu ka’bah beliau menyeru dan bertanya kepada kaum Quraisy, “ Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan pada kalian, wahai kaum Quraisy?”

Mereka menjawab, “ Engkau akan lakukan kebaikan kepada kami. Engkau saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia. Dan engkau telah mampu melakukan itu.”

Rasulullah menimpali, “ Pada hari ini akan aku katakan apa yang dikatakan oleh saudaraku Yusuf, di hari ini tak ada kecaman bagi kalian.”

Betapa mulia sikap Rasulullah SAW. Beliau memberikan pelajaran bagi umatnya, untuk selalu memberi maaf kepada sesama. Tanpa menyimpan dendam didalam hati.

(Sumber: islam.nu.or.id)

Beri Komentar