Belum Bayar Utang Puasa tapi Sudah Ramadan Lagi, Hukumnya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 7 Mei 2019 20:01
Belum Bayar Utang Puasa tapi Sudah Ramadan Lagi, Hukumnya?
Terdapat larangan untuk menunda-nunda qadha puasa.

Dream - Puasa Ramadan merupakan kewajiban setiap Muslim. Ibadah ini tidak boleh ditinggalkan, kecuali karena uzur tertentu.

Uzur yang dibolehkan menurut syariat di antaranya sakit, haid, nifas, dan bepergian. Ketika mengalami hal ini, puasa Ramadan boleh tidak dikerjakan.

Mereka yang meninggalkan puasa terkena kewajiban untuk meng-qadha atau mengganti di bulan selain Ramadan. Jumlah qadha yang dikerjakan sebanyak puasa yang ditinggalkan.

Tetapi, bagaimana jika belum sempat mengnggantinya namun sudah masuk Ramadan berikutnya?

Dikutip dari NU Online, para ulama sepakat qadha puasa dapat dilakukan kapan saja. Sangat dianjurkan untuk secepatnya mengerjakan qadha.

Sebisa mungkin, qadha dijalankan sesegera mungkin. Sebab terdapat pemahaman di kalangan ulama mengenai adanya keharaman menunda-nunda qadha.

Terdapat konsekuensi yang harus ditanggung seorang Muslim apabila menunda-nunda pelaksanaan qadha puasa. Selain berpuasa pengganti, dia juga terkena kewajiban membayar fidyah sebagai denda.

1 dari 2 halaman

Kena Wajib Fidyah Selain Qadha

Hal ini dijelaskan Syeikh An Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Kasyifatus Saja ala Safinatun Naja.

" (Kedua (yang wajib qadha dan fidyah) adalah ketiadaan puasa dengan menunda qadha) puasa Ramadan (padahal memiliki kesempatan hingga Ramadan berikutnya tiba) didasarkan pada hadis, 'Siapa saja mengalami Ramadan, lalu tidak berpuasa karena sakit, kemudian sehat kembali dan belum mengqadhanya hingga Ramadan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan puasa Ramadan yang sedang dijalaninya, setelah itu mengqadha utang puasanya dan memberikan makan kepada seorang miskin satu hari yang ditinggalkan sebagai kaffarah,' (HR Ad Daruquthni dan Al Baihaqi.)

Di luar kategori 'memiliki kesempatan' adalah orang yang senantiasa bersafari (seperti pelaut), orang sakit hingga Ramadan berikutnya tiba, orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha. Tetapi kalau ia hidup membaur dengan ulama karena samarnya masalah itu tanpa fidyah, maka ketidaktahuannya atas keharaman penundaan qadha bukan termasuk uzur. Alasan seperti ini tak bisa diterima, sama halnya dengan orang yang mengetahui keharaman berdehem (saat sholat), tetapi tidak tahu batal sholat karenanya. Asal tahu, beban fidyah itu terus muncul seiring pergantian tahun dan tetap menjadi tanggungan orang yang berutang (sebelum dilunasi)."

 

2 dari 2 halaman

Satu Mud Tiap Puasa yang Ditinggalkan

Keterangan Syeikh An Nawawi menjelaskan sebab penundaan qadha yaitu sakit, lupa, atau memang disengaja. Apabila alasan disengaja menunda-nunda qadha, maka orang yang bersangkutan wajib menjalankan puasa qadha sekaligus membayar fidyah besarnya 1 mud untuk sehari puasa yang ditinggalkan.

Ukuran satu mud setara dengan 543 gram bahan makanan pokok menurut Mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Sedangkan Mazhab Hanafi menyamakan satu mud dengan 815,39 gram bahan pangan pokok.

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair