Asal Mula Bulan Syawal Dijadikan Waktu Terbaik untuk Menikah

Reporter : Reni Novita Sari
Rabu, 3 Juni 2020 13:36
Asal Mula Bulan Syawal Dijadikan Waktu Terbaik untuk Menikah
Konon bulan Syawal adalah 'bulan baik' bagi siapa saja pasangan yang ingin menikah. Benarkah demikian?

Dream - Kita tentu telah mengetahui atau mendengar anjuran menjalankan ibadah puasa sunnah enam hari di bulan syawal. Selain berpuasa, ada juga amalan sunah lain yang lekat dengan bulan Syawal ini. Namun, ibadah ini dikerjakan bagi mereka yang sudah mampu secara fisik dan mental yakni menikah.

Banyak masyarakat beranggapan jika Syawal adalah bulan baik bagi siapa saja pasangan yang ingin menikah. Benarkah demikian?

Menikah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam, yang sejalan dengan fithrah manusia yang lurus. Menikah juga memiliki hikmah dan tujuan yang luhur demi kemaslahatan kehidupan manusia.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda,

Nikah itu termasuk sunnahku. Barangsiapa yang enggan mengamalkan sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku. Menikahlah kalian, karena sesungguhnya aku akan bangga dengan kalian di hadapan umat-umat lain. Dan barangsiapa yang memiliki kemampuan maka menikahlah, dan barangsiapa yang belum mampu maka bepuasalah, karena puasa itu perisai (pemutus syahwat jima’) baginya.” (HR.  Ibnu Majah)

Allah Subhnahu Wa Ta’ala menceritakan tentang para rasul sebelum Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam dalam firman-Nya,

Dan sungguh Kami telah mengutus para rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami jadikan untuk mereka isteri-isteri dan anak keturunan.” (QS. Ar-Ra’du: 38)

Lalu, benarkah jika mengatakan bulan Syawal merupakan bulan yang baik untuk menikah?

1 dari 4 halaman

Tidak Ada Hari yang Buruk untuk Menikah

Pada dasarnya pernikahan itu tidak terikat dengan waktu tertentu. Kapan saja, hari apapun dan bulan apapun seseorang boleh menikah. Sebab dalam aqidah Islam tidak ada yang namanya hari dan bulan buruk, hari dan bulan sial untuk sebuah pernikahan. Semua waktu adalah baik.

Namun demikian, sebagian orang masih meyakini adanya hari sial dan bulan sial. Dan dalam menentukan waktu pernikahan mereka menghitung-hitung dan mencari waktu yang mereka yakini sebagai waktu yang baik, hari dan bulan baik, supaya terhindar dari bala bencana, seperti perceraian, menurut anggapan mereka.

2 dari 4 halaman

Asal Mula Bulan Syawal Disunnahkan untuk Menikah

 Bulan syawal disunnahkan untuk menikah© Ilustrasi foto : shutterstock

Di masa jahiliyyah dahulu, masyarakat Arab meyakini adanya suatu masa yang bila melakukan pernikahan atau membangun rumah tangga maka tidak akan beruntung alias sial, yaitu bulan Syawal. Anggapan ini mereka sandarkan kepada keadaan unta betina yang mengangkat ekornya (sya-lat bi dzanabiha) sebagai tanda penolakan terhadap unta jantan yang mendekatinya.

Karena itulah para wanita mereka menolak untuk dinikahi, atau para wali wanita tak ingin menikahkan anak wanitanya. Hal itu dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (menghilangkan/mengangkat) yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka.

 

3 dari 4 halaman

Kemudian dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua Id (bulan Syawal termasuk di antara Idulfitri dan Idul Adha), karena khawatir akan terjadi perceraian.

Aisyah Radiyallahu ‘anhaa juga berkata,

“ Rasulullah e menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “ Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR.  Muslim)

4 dari 4 halaman

Al-Imam An-Nawawi menerangkan hadits di atas di dalam syarah Shahih Muslim (9/209),

“ Di dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini.”

Demikianlah, Bulan Syawal dijadikan waktu disunahkannya menikah ditujukan untuk menghilangkan kepercayaan orang-orang Arab Jahiliyah yang menganggap bahwa pernikahan di bulan Syawal adalah sebuah kesialan dan akan berujung dengan perceraian.

Untuk menghilangkan kepercayaan menyimpang tersebut, pernikahan di bulan Syawal pun dijadikan sebagai ibadah, sebagai sunnah Nabi Shalallahu’alaihi Wassalam. Hadist di atas pun dijadikan sebagai anjuran untuk menikah dan menikahkan di bulan Syawal.

Beri Komentar