Beratnya Jalani Puasa di Masa Awal Islam

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 10 Mei 2019 20:01
Beratnya Jalani Puasa di Masa Awal Islam
Sebelum turunnya Surat Al Baqarah ayat 187, puasa umat Islam sangat berat.

Dream - Umat Islam patut bersyukur hidup di masa setelah Rasulullah Muhammad SAW. Semua amalan ibadah sudah ditetapkan dengan porsi yang tergolong ringan.

Ibadah di masa awal Islam bisa dikatakan berat. Terutama puasa di masa tersebut sebelum turunnya Surat Al Baqarah ayat 187.

Jika diterjemahkan, maka arti ayat tersebut adalah demikian.

" Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa."

Ayat tersebut berisi tentang ketentuan pelaksanaan puasa. Ayat ini juga mengatur mengenai apa saja yang dibolehkan dilakukan di malam hari usai puasa.

1 dari 2 halaman

Puasa Yang Berat

Dikutip dari rumaysho, Syeikh Muhammad Shalil Al Munajjid dalam kitab Tafsir Az Zahrawain menjelaskan latar belakang turunnya Surat Al Baqarah ayat 187. Ayat ini sebenarnya merupakan wujud kasih sayang Allah kepada umat Islam.

Di masa awal Islam, umat Islam menjalankan puasa sangat berat. Kala itu, jika sudah ada yang berbuka maka halal untuk makan, minum, dan berjimak sampai sholat Isya atau jika dia tertidur sebelum berbuka atau sebelum Isya, haram baginya makan dan minum serta berjimak sampai malam berikutnya.

Turunnya ayat di atas berkaitan dengan kisah sahabat Qais bin Shirmah. Kisah tersebut tercantum dalam hadis riwayat Bukhari dari Al Bara' bin 'Azib RA.

Al Bara' menceritakan para sahabat Rasulullah SAW dulu di masa awal Islam menjalani puasa yang begitu berat. Jika dia tertidur sebelum berbuka, maka harus puasa hingga malam keesokan harinya.

 

2 dari 2 halaman

Kisah Qais bin Shirmah

Suatu hari, Sahabat Qais bin Shirmah berpuasa. Ketika tiba waktu berbuka, dia bertanya kepada istrinya apakah ada makanan.

" Tidak ada. Aku akan pergi menyiapkannya (makanan) dan menyerahkannya kepadamu," jawab istri Qais.

Di siang hari, Qais berpuasa sembari bekerja keras. Sehingga, dia tertidur saat menunggu istrinya mencari makanan.

Ketika istrinya datang, wanita itu melihat Qais tertidur. Wanita itu berkata, " Yah, engkau gagal makan."

Keesokan harinya, Qais jatuh pingsan. Keadaan itu kemudian disampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Setelah mendengar kondisi Qais, turunlah Surat Al Baqarah ayat 187. Para sahabat begitu gembira dengan turunnya ayat tersebut.

Ayat tersebut merupakan rukhshah atau keringanan yang diberikan oleh Allah. Sejak itu, umat Islam berpuasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dan boleh melakukan apapun di malan hari.

(Sah, Sumber: Rumaysho.com)

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting