Berutang Untuk Melunasi Pinjaman Jatuh Tempo, Wajibkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 30 Juli 2019 20:00
Berutang Untuk Melunasi Pinjaman Jatuh Tempo, Wajibkah?
Terkadang berutang untuk menutup utang jadi alternatif tercepat saat tidak ada harta.

Dream - Utang kadang menjadi beban yang berat bagi kita. Apalagi ketika jatuh tempo dan kita sedang tidak punya harta untuk membayarnya.

Sebagian orang mungkin menempuh cara singkat. Mereka berutang lagi demi menutup utang yang jatuh tempo. Istilahnya gali lubang tutup lubang.

Hal ini dilakukan semata untuk menghindari adanya bahaya akibat tidak terbayarnya utang. Padahal, upaya tersebut justru membuat yang bersangkutan mendapat beban utang yang bertumpuk.

Dalam Islam, utang memang dibolehkan. Tetapi, setiap orang yang berutang wajib hukumnya untuk melunasi.

Bagaimana jika harus melunasi utang jatuh tempo dengan membuat utang baru lagi?

Dikutip dari NU Online, terdapat dua sudut pandang yang patut diperhatikan terkait perilaku menutup utang jatuh tempo dengan pinjaman.

Pertama terkait dengan utang kepada orang lain untuk melunasi utang lama. Sedangkan kedua berkaitan dengan hukum melunasi utang jatuh tempo.

1 dari 6 halaman

Bekerja Kapanpun dan Hasilnya Untuk Lunasi Utang, Bukan Dadakan

Para ulama berpandangan tidak wajib seseorang untuk mengupayakan terwujudnya suatu hal yang membuatnya wajib melakukan sesuatu. Dalam kajian fikih dikenal dengan istilah tahshilu sabab al wujub la yajib.

Contohnya, melunasi utang lewat utang. Para ulama menatakan tidak wajib seseorang bergegas bekerja untuk melunasi utang.

Dia boleh bekerja kapan pun tanpa adanya tuntutan kewajiban secara khusus. Hal ini selama dia tidak dianggap teledor dalam pembayaran utang.

Hal ini dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Al Majmu' ala Syarh Al Muhadzdzab.

" Jika orang yang memiliki tanggungan utang dapat bekerja dengan baik, maka ia tidak boleh dipaksa untuk bekerja supaya dapat melunasi utangnya. Ketentuan demikian merupakan salah satu keagungan Syariat Islam, kemerdekaan seseorang lebih berharga dari segala hal, tidak ada harta dan tanggungan yang dapat menandinginya, kemerdekaan ini tidak terikat dengan orang yang memberi utang ataupun seorang raja sekalipun. Tetapi jika ia bekerja dan menghasilkan harta yang lebih untuk menafkahi dirinya dan keluarganya, maka pada saat itulah ia menggunakan uang tersebut untuk membayar utangnya."

2 dari 6 halaman

Ketentuan Pelunasan Utang

Lewat penjelasan tersebut, Imam An Nawawi secara tegas menyatakan seseorang tidak perlu berutang untuk melunasi utang sebelumnya. Syariat menyatakan hal ini sebagai tidak wajib.

Sementara terkait dengan hukum melunasi utang, para ulama kalangan Mazhab Syafi'i tidak menjadikan waktu yang ditetapkan pemberi utang sebagai kewajiban pembayaran pinjaman. Tetapi, waktu wajib pelunasan utang ditetapkan ketika si pengutang memiliki cukup harta untuk melunasi pinjamannya.

Meski demikian, ketentuan ini sebisa mungkin tidak dianggap sebagai kelonggaran hingga menimbulkan keteledoran. Sebisa mungkin utang dilunasi tepat waktu agar tidak menimbulkan mudharat di kemudian hari.

(Sah, Sumber: NU Online)

3 dari 6 halaman

Orangtua Utang ke Anak, Bagaimana Statusnya?

Dream - Sebagai orangtua, memenuhi kebutuhan anak merupakan tugasnya. Anak menjadi tanggungan orangtua sedari kecil hingga mampu mandiri dalam mencari rezeki.

Sementara kewajiban anak yang telah mandiri kepada orangtuanya yaitu memuliakan mereka. Caranya dengan merawat serta membiayai keperluan mereka.

Terkadang, ada orangtua harus berutang pada sang anak. Misalnya untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak sementara orangtua sedang tidak memegang uang. '

Jika anak punya tugas memuliakan orangtua, bagaimana status utang orangtua pada anaknya?

Dikutip dari NU Online, para ulama menggolongkan utang orangtua kepada anak selaiknya utang kepada orang lain. Orangtua punya tanggungan untuk melunasi dan anak punya hak untuk menagih

Ketentuan ini seperti ditetapkan dalam Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah.

" Jika seorang ayah berutang pada anaknya, maka sang anak berhak untuk menagih utang tersebut menurut selain mazhab Imam Hambali, sebab utang ayah tersebut merupakan sebuah tanggungan yang tetap (tsabit). Boleh (bagi anak) untuk menagih utang tersebut, seperti halnya utang-utang yang lain. Sedangkan menurut mazhab Hambali, utang orangtua tidak boleh untuk ditagih."

 

4 dari 6 halaman

Hak Menjatuhkan Sanksi

Tetapi, utang ini memiliki kekhususan yaitu mengenai hak memberikan sanksi anak kepada orangtuanya. Dalam literatur fikih, pemberi utang berhak menjatuhkan sanksi kepada pengutang jika tidak memenuhi perjanjian berupa habsu (menahan atau memenjarakan.

 Memberi Utang Pada Orang yang Membutuhkan, Ini Keutamaannya

Hak ini tidak ada dalam utang orangtua kepada anaknya. Sebab, syariat tidak membenarkan anak memberikan hukuman kepada orangtuanya, seperti dijelaskan Syeikh Syamsuddin Ar Ramli dalam kitab Nihayah Al Muhtaj.

Ketentuan tersebut berlaku jika transaksi antara orangtua dan anak disebutkan secara jelas sebagai utang piutang sesuai hukum syariah.

Berbeda jika anak memberikan uang kepada orangtua tanpa ada penegasan penyerahan tersebut merupakan transaksi apa.

 

5 dari 6 halaman

Orangtua Sedang Tidak Mampu, Jadi Nafkah

Soal lain yang juga diperhatikan adalah perlunya anak mempertimbangkan keadaan orangtua. Jika orangtua dalam keadaan tidak mampu, maka akad yang terjadi dengan anak seharusnya bukan utang melainkan nafakah atau nafkah.

 Utang Piutang Lunasi Utang

Anak memang punya kewajiban menafkahi kedua orangtuanya. Kewajiban ini berlaku ketika anak memiliki harta cukup dan orangtua tidak memilikinya.

Kewajiban anak memberi nafkah akan gugur jika yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu orangtua punya harta cukup sedangkan anak tidak memilikinya.

 

6 dari 6 halaman

Mengutamakan Asas Kekeluargaan

Meski begitu, sangatlah penting orangtua dan anak mengutamakan asas kekeluargaan. Sangat tidak elok jika seorang anak memberi utang kepada orangtua yang sejak awal mendedikasikan hidup demi membesarkan buah hatinya.

 Karena Inflasi, Pelunasan Utang Harus Dilebihkan?

Terdapat riwayat yang menjelaskan hal. Dalam riwayat Imam Baihaqi, Rasulullah Muhammad SAW pernah didatangi oleh seorang lelaki.

" Seorang lelaki mendatangi Nabi, lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, aku memiliki harta dan anak, sedangkan orangtuaku membutuhkan hartaku.' Rasulullah lalu bersabda, 'Dirimu dan hartamu milik orang tuamu, sungguh anak-anak kalian itu termasuk yang paling baik dari usaha kalian. Maka makanlah dari hasil kerja anak-anak kalian."

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar
ANGRY BIRDS 2, Animasi Lucu dengan Pesan Tersembunyi - Wawancara Eksklusif Produser John Cohen