Bolehkah Makan dan Minum Saat Junub? Inilah Hukumnya Menurut Islam

Reporter : Arini Saadah
Kamis, 17 September 2020 10:03
Bolehkah Makan dan Minum Saat Junub? Inilah Hukumnya Menurut Islam
Syariat Islam mewajibkan pemeluknya untuk melaksanakan mandi besar saat junub.

Dream – Junub adalah kondisi hadas besar pada diri seorang muslim yang harus disucikan dengan mandi besar.

Islam mewajibkan pemeluknya untuk melaksanakan mandi besar saat junub. Mandi besar merupakan wujud bersuci untuk menghilangkan hadas besar, salah satunya junub.

Tetapi banyak orang sering menunda-nunda mandi besar setelah bersetubuh dengan pasangannya. Di antara mereka menyempatkan untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum melaksanakan mandi besar.

Lantas bagaimanakah hukum makan dan minum saat junub? Penjelasan selengkapnya akan kita paparkan berikut ini seperti dikutip dari Bincang Syariah.

1 dari 3 halaman

Hukumnya Menurut Ulama

Ilustrasi© unsplash.com

Para ulama pernah mengulas Panjang lebar mengenai hal ini. Salah satu ulama yang juga membahas hukum makan dan minum saat junub adalah Syekh Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitabnya yang berjudul al-Minhaj al-Qawim.

Syekh Ibn Hajar Al-Haitami menyebutkan hukum makan dan minum bagi orang yang sedang junub adalah makruh.

Akan tetapi ia memberikan pengecualian, yaitu apabila ia telah membasuh kemaluannya dan berwudhu terlebih dahulu maka diperbolehkan makan dan minum.

Artinya, meskipun sebelum mandi besar, namun seseorang yang junub telah berwudhu dan membasuh kemaluannya maka hukum makruhnya untuk makan dan minum sudah hilang.

2 dari 3 halaman

Penjelasan Dalam Kitab

Dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, Syekh Ibn Hajar Al-Haitami menjelaskan hukum makan dan minum saat junub sebagai berikut:

Ilustrasi© dream.co.id

“ Dan dimakruhkan bagi orang yang junub, yakni makan, minum dan berhubungan badan sebelum membasuh kemaluan dan berwudhu karena terdapat keterangan (nash) perintah untuk seperti itu, jimak, ikut pada sisanya. Kecuali pada minum, maka minum itu diqiyaskan pada makan. Begitu pula pada wanita yang putus (selesai) dari haid dan nifas, maka makruh pula bagi wanita tersebut untuk melakukan makan, minum, dan jimak (sebelum mandi besar). Bahkan wanita haid dan nifas itu lebih utama (untuk mendapatkan status makruh).”

Keterangan Syekh Ibn Hajar Al-Haitami tersebut juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in sebagai berikut:

Ilustrasi© dream.co.id

“ Disunahkan bagi rang yang junub, haid, dan nifas yang sudah selesai masa keluarnya darah (untuk) membasuh kemaluan dan wudhu untuk melaksanakan tidur, makan, dan minum. Dan hal pekerjaan tersebut dimakruhkan apabila dikerjakan tanpa berwudhu.”

3 dari 3 halaman

Kesimpulan Hukum

Selain itu, Syekh Abu Bakr bin Muhammad Asy-Syattha memberikan catatan pinggir pada redaksi di dalam kitab Fath al-Mu’in tersebut dalam karyanya berjudul Hasyiyah I’anah at-Thalibin, berikut redaksinya:

Ilustrasi© dream.co.id

“ Lafadz ‘tidak berwudhu’ jelasnya bahwasannya pekerjaan tersebut makruh (bila tidak berwudhu lebih dahulu), sekalipun beserta membasuh kemaluan. Bukan begitu, akan tetapi cukup membasuh kemaluan di dalam tercapainya kesunahan.”

Dengan demikian, dari penjelasan artikel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hukum orang yang junub maupun wanita yang haid dan nifas yang mana sudah selesai masa keluarnya darah dan belum mandi besar, maka disunahkan untuk membasuh kemaluannya dan berwudhu sebelum makan, minum, dan berhubungan intim.

Sebab makruh hukumnya apabila mengerjakan semua itu dalam keadaan junub tanpa berwudhu lebih dulu maupun membasuh kemaluannya. Wallahu a’lam bi shawaf!

Beri Komentar