Cara Rasulullah Mengonsumsi Makanan Diragukan Kehalalannya

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 16 Oktober 2019 20:00
Cara Rasulullah Mengonsumsi Makanan Diragukan Kehalalannya
Rasulullah bahkan menyuruh para sahabat makan makanan yang meragukan itu.

Dream - Umat Islam diwajibkan mengonsumsi makanan yang halal berdasarkan ketentuan syariat. Selain menjalankan syariat, makanan halal yang dikonsumsi juga membawa dampak baik pada tubuh.

Ada kalanya kita juga melakukan traveling ke negara-negara minoritas muslim. Saat berada di negara tersebut, sering kali kita khawatir dengan kehalalan hidangan yang tersaji. Meski si pemilik toko atau restoran telah memberi tahu jika menu makanan tersebut halal.

Timbul rasa was-was ketika hendak mengonsumsi makanan yang terhidang di negeri non-Muslim. Ada kekhawatiran makanan tersebut tercampur bahan tidak halal.

Pada dasarnya, Islam diturunkan tidak untuk memberatkan manusia namun justru meringankan. Kerepotan muncul karena seseorang belum memahami betul pandangan Islam terkait makanan yang diragukan kehalalannya. 

 

1 dari 6 halaman

Kisah Rasulullah Santap Makanan Orang Persia

Dikutip dari Islami, Rasulullah Muhammad SAW pernah mengonsumsi makanan yang diduga oleh para sahabat tercampur bahan tak halal. Riwayat mengenai hal ini terdapat dalam kitab syarh hadis Marfaqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih yang ditulis Mula 'Ali Al Qari, menyunting hadis Imam Thabrani dengan sanad yang jayyid.

Suatu kali, di sebuah peperangan, Rasulullah didatangi seseorang dengan membawa sepotong keju. Rasulullah kemudian bertanya, " Di mana makanan ini dibuat?" Orang itu lantas menjawab, " Di negeri Persia." Lelaki itu menerangkan makanan itu dibuat di daerah orang Majusi, atau para penyembah api. Lalu Nabi SAW pun bersabda, " Letakkan potong makanan tersebut, lalu makanlah!" Lalu ada yang protes, " Wahai Rasulullah, kami takut makanan itu dibuat dari bangkai." Nabi kemudian berkata, " Bacalah basmallah lalu makanlah."

 

2 dari 6 halaman

Riwayat Lain

Riwayat lain yang menjelaskan peristiwa serupa yaitu tercantum dalam kitab Sabilul Huda wr Rasyad yang ditulis Muhammad ibn Yusuf As Shalihi As Syami. Terdapat bab yang menjelaskan peristiwa saat Rasulullah SAW memakan keju buatan orang Nasrani.

Imam Musaddad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dalam shahihnya, serta Al Baihaqi meriwayatkan dari Ibn 'Umar RA bahwa ia berkata, " Rasulullah tatkala di perang Tabuk dibawakan sepotong keju buatan orang Nasrani. Lalu ada yang protes, " Ini makanan buatan orang Nasrani." Kemudian Nabi meminta pisau lalu menyebut nama Allah dan memotong keju tersebut.

Imam At Thayalisi meriwayatkan dari Ibn 'Abbas RA bahwa Rasulullah SAW tatkala Fathul Makkah melihat sepotong keju. Beliau lalu bertanya, " Ini apa?" " Makanan yang dibuat di daerah non Arab," jawab orang-orang. Nabi lalu berkata, " Potong dan makanlah."

Imam Ahmad, Muhammad ibn 'Umar Al Aslami, Al Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah didatangi dengan dibawakan sepotong keju di perang Tabuk. Lalu Rasulullah SAW bersabda, " Di mana ini dibuat?" Mereka menjawab, " Di Persia. Dan kami mengira bahwa ada campuran bangkai di dalamnya." Lalu Nabi berkata, " Makanlah."

 

3 dari 6 halaman

Berikut Penjelasannya

Empat riwayat tersebut dijadikan oleh para ulama sebagai dasar dalam menyikapi makanan yang diragukan kehalalannya. Jumhur ulama menyatakan menghindari najis atau keharaman pada makanan dilakukan dengan cara tidak memakannya jika diyakini makanan tersebut benar-benar mengandung najis.

Jika masih meragukan dan tidak diperoleh keyakinan, maka ketentuan tersebut tidak perlu dilakukan sehingga tetap bisa dimakan. Bahkan jika diolah dengan benda yang ditetapkan najis, makanan tersebut kembali ke hukum asalnya yaitu halal.

Ketentuan ini dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam kitabnya, Fathul Mu'in.

" Kaidah penting, yaitu benda yang asalnya suci dan muncul prasangka kuat terkena najis sebab umumnya bersinggungan dengan najis, maka dalam menyikapinya ada dua pendapat yang dikenal berdasar dengan kaidah hukum asal. Dan yang dzahir atau yang umum, yang paling unggul adalah yang menyatakan benda itu suci, berdasar hukum asal yang telah diyakini. Karena itu yang lebih dapat dideteksi daripada keumuman yang berbeda-beda bergantung keadaan serta waktu. Hal tersebut seperti halnya pakaian jenis selubung, pakaiannya orang yang haid serta anak kecil. Serta wadah-wadah yang dicetak dengan najis, kertas yang umumnya dihamburkan pada najis, air ludah anak kecil, kain yang masyhur dibuat dengan lemak babi, dan keju Syam yang mashur dibuat dengan infahah (semacam bagian perut) babi. Dan sudah ada riwayat Nabi pernah dibawakan sepotong keju buatan orang Syam lalu memakannya dan tidak menanyakan perihal infahah. Hal ini dituturkan oleh Imam Ibn Hajar dalam Syarah Minhaj."

Sumber: Islami.

4 dari 6 halaman

Meletakkan Mushaf Quran di Lantai, Bagaimana Hukumnya?

Dream - Alquran yang berisi Firman-firman Allah SWT merupakan kitab suci bagi umat Islam. Membaca Alquran dihitung sebagai ibadah dan pahala dihitung per huruf.

Mushaf Alquran memiliki kedudukan sangat istimewa. Mushaf mengandung nilai sakralitas yang harus dihormati.

Sakralitas Alquran terletak pada setiap ayat yang merupakan kalam-kalam Ilahi. Juga terdapat nama Allah yang diagungkan di dalamnya.

Sering kita mendengar orang tua memberi nasihat agar memperlakukan mushaf Alquran semulia mungkin. Salah satunya adalah larangan menyimpan Quran di lantai. 

Mengutip NU Online, Imam An Nawawi dalam kitab Al Majmu' menjelaskan menjaga dan menghormati Alquran hukumnya wajib. Mayoritas ulama juga bersepakat mengenai hal ini tanpa ada satupun yang menyelisihi.

Bahkan, orang yang sampai berani membuang Alquran di tempat kotor bisa dihukumi kafir. Ini lantaran perbuatannya telah menghina Alquran.

" Ulama telah sepakat atas kewajiban menjaga mushaf dan memuliakannya. Apabila ada orang yang dengan sengaja membuang Alquran di tempat kotor, ia menjadi kafir, naudzu billah."

5 dari 6 halaman

Letakkan Lebih Tinggi Dari Lantai

Karena menghormati Alquran adalah wajib, meletakkannya tidak boleh di sembarang tempat. Apalagi di lantai tanpa meninggikan tempat sedikitpun.

Syeikh Sulaiman Al Bujairimi dalam kitab Hasyiyah Al Bujairimi menjelaskan meletakkan mushaf di lantai langsung hukumnya haram. Dia menyatakan Alquran seharusnya diletakkan di tempat tinggi menurut pandangan khalayak meski jaraknya hanya sedikit dari permukaan lantai.

" Dan haram meletakkan mushaf di atas bumi, bahkan wajib mengangkatnya di tempat yang tinggi menurut khalayak walaupun sedikit.

 

6 dari 6 halaman

Rasulullah Muhammad SAW Hormati Kitab Suci Agama Lain

Dalam hadis riwayat Imam Abu Daud, Rasulullah memberikan contoh cara menghormati kitab suci. Hadis tersebut diriwayatkan dari Ibnu Umar.

" Sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi. Mereka mengundang Nabi untuk ke daerah Quf (satu daerah di Madinah). Kemudian Nabi mendatangi mereka di Baitul Midras (tempat yang digunakan orang Yahudi untuk mengkaji kitab Taurat). Mereka kemudian mengadu kepada Nabi. 'Hai ayahnya Qasim. Sesungguhnya seorang laki-laki di antara kami ada yang berzina dengan wanita. Jelaskan tentang hukumnya kepada mereka.' Orang-orang Yahudi ini kemudian meletakkan kasur kecil (sejenis bantal duduk) untuk Rasulullah SAW. Nabi pun lalu duduk di situ. Nabi berkata, 'Ambilkan aku Taurat!' Taurat pun diserahkan kepada Nabi. Nabi melepaskan kasur duduk yang berada di bawahnya. Beliau ganti dengan meletakkan Taurat di atas kasur tersebut. Lalu Nabi mengatakan kepada Taurat itu dengan pernyataan 'Aku iman kepadamu dan iman kepada Tuhan yang menurunkanmu.' Nabi meminta 'Tolong datangkan kepadaku orang yang paling mengerti (tentang Taurat) di antara kalian.' Nabi SAW didatangkan seorang pemuda. Ia membaca Taurat tersebut dengan mengisahkan tentang rajam."

Hadis di atas menjelaskan bagaimana Rasulullah memberikan penghormatan kepada kitab suci. Caranya dengan meletakkan bantal di bawahnya.

Bantal tersebut digunakan sebagai alas kitab suci. Sehingga, Taurat tersebut tidak berada langsung di atas lantai.

Contoh ini harus pula diterapkan dalam memperlakukan Alquran. Jika Rasulullah begitu menghormati Taurat, maka umat Islam wajib menghormati kitab sucinya sendiri yaitu Alquran.

Sumber: NU Online

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone