Cerita Masjid di Korsel, Dibangun dari Donasi Jemaah Indonesia

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 21 November 2018 11:07
Cerita Masjid di Korsel, Dibangun dari Donasi Jemaah Indonesia
Kiai Cholil Nafis bangga mendapati masjid-masjid di Korsel ada karena inisiasi Muslim Indonesia.

Dream - Komunitas Indonesia memberi warna tersendiri bagi Korea Selatan. Termasuk pula Muslim Tanah Air yang tinggal di Negeri Ginseng itu, baik untuk bekerja ataupun menempuh pendidikan.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, punya cerita unik mengenai sejumlah masjid yang berdiri di Korsel. Menurut dia, hampir 90 persen masjid di sana berdiri karena donasi jemaah sholawatan Indonesia.

" Awalnya sekadar hasrat ingin temu kangen yang kemudian merasa perlu ada pusat interaksi positif dan peribadatan," ujar Cholil, dikutip dari NU Online, Rabu 21 November 2018.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Kota Depok, Jawa Barat ini berkesempatan mengisi ceramah di Masjid Al Barokah Gimhae beberapa waktu lalu.

Cholil mengatakan hingga saat ini sudah ada 60 masjid yang berdiri atas inisiatif sekaligus dikelola para WNI. Lima di antaranya sudah berdiri secara permanen dan terpisah dari gedung lainnya.

Sisanya sebanyak 54 masjid masih berupa flat atau aula. Ruangan yang dipakai disewa dari para pengelola apartemen di Korsel.

" Umumnya, masjid-masjid tersebut dikelola oleh WNI, sedangkan umat Islam dari negara-negara lain umumnya hanya sekadar mengikuti kajian jemaah dan sholat," ucap dia.

Untuk masjid yang sudah berdiri secara permanen, kata dia, memiliki kewenangan untuk menunjuk imam tetap yang bisa berasal dari luar maupun dalam Korea. Terkait visanya diterbitkan dengan sponsor Korea Muslim Federation (KMF).

 

1 dari 2 halaman

Tak Hanya Sebagai Tempat Ibadah

Dia menambahkan masjid-masjid di Korsel tidak hanya difungsikan hanya untuk sholat, melainkan pusat informasi Islam bagi warga Korsel yang ingin belajar mengenai Islam. Masjid dilengkapi sejumlah fasilitas untuk mendukung proses pembelajaran.

" Masjid-masjid di Korsel menyediakan bahan-bahan bacaan dan audio yang diberikan gratis buat mereka yang ingin mempelajari Islam," ucap dia.

Menurut Cholil, jumlah WNI di Korsel mencapai 39 ribu, dan 80 persen di antaranya adalah Muslim. Mereka kebanyakan bekerja di bidang manufaktur.

Sebagian besar dari mereka tinggal di mess yang disediakan pabrik. Hanya sedikit WNI yang menyewa rumah di luar mes, itupun dengan cara patungan.

Selain itu, umumnya WNI tidak membawa keluarganya. Sebab, kata Cholil, mereka hanya mendapatkan visa tunggal untuk bekerja.

" Karena itu, keberadaan masjid menjadi angin surga bagi mereka karena di masjid itulah mereka bisa bertemu sesama WNI dan bisa beribadah dengan nyaman.

 

2 dari 2 halaman

Dana Patungan Jadi Masjid

Cholil juga menceritakan kondisi dari Masjid Al Barokah Gimhae. Berdasarkan informasi yang dia dapat, awalnya masjid ini adalah pertokoan.

Sejumlah WNI kemudian patungan untuk membeli pertokoan tersebut dan mengubahnya menjadi tempat ibadah. Masjid tersebut berdiri di atas lahan seluah 36x16 meter persegi, terdiri dari ruang sholat dan emperan yang difungsikan sebagai tempat kegiatan maupun sekadar berkumpul.

Cholil pun merasa bangga dengan Masjid Al Barokah. Menurut dia, masjid tidak hanya memenuhi kebutuhan personal WNI, melainkan juga sosial.

" Dengan tradisi yasinan, shalawatan dan pengajian dapat membentengi mereka dari arus kebebasan pergaulan dan mengatasi kesepian sebagai diaspora. Mereka lebih terarah dan tak melupakan tujuan awal untuk mengais rezeki di Negeri Ginseng," ucap Cholil.

Sumber: NU Online

Beri Komentar