Pilu, Bocah Ini 3 Hari Tak Makan Gara-Gara Corona

Reporter : Arini Saadah
Senin, 6 April 2020 16:46
Pilu, Bocah Ini 3 Hari Tak Makan Gara-Gara Corona
Keluarganya terdiri dari lima orang. Sang ayah sudah tidak bekerja. Jadilah keluarga ini takk makan selama tiga hari belakangan.

Dream – Virus corona membuat semua orang susah. Orang-orang tak hanya khawatir terinfeksi, virus ini juga sudah mengganggu urusan dapur mereka. Banyak orang sudah tak mampu lagi mengepulkan asap di dapur.

Tak hanya di Indonesia. Di Malaysia pun juga sama kondisinya. Untuk mengurangi penyebaran corona, negeri jiran itu menerapkan kebijakan Movement Control Order. MCO. Semua orang harus tinggal di dalam rumah. Tak boleh berkerumun.

Beruntunglah bagi Anda yang masih memiliki pemasukan meski harus tetap tinggal di rumah. Anda benar-benar harus bersyukur. Mungkin program ini justru bisa berkumpul dengan keluarga. Bercengkerama bersama. Atau Anda bisa membuat Dalgona Coffee juga merasa bosan.

Percayalah, masih banyak orang tang tidak seberuntung Anda. Mereka harus keluar rumah di tengah ancaman wabah. Mereka harus memenuhi kebutuhan dapur. Memastikan perut keluarganya tetap kenyang. Sebagian bahkan sudah kehilangan pekerjaan. Nganggur, tak punya pemasukan.

1 dari 6 halaman

Sang Ayah Sudah Tidak Bisa Bekerja Sejak Wabah Merajalela

Dengarlah kisah yang dimuat laman World of Buzz berikut ini. Kisah pilu tentang bocah Malaysia yang mengaku keluarganya sudah tidak makan selama berhari-hari.

Ketika orang lain stres memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukan selama berada di rumah, bocah ini dan keluarganya harus bertahan hidup di tengah kekurangan. Tak lagi sekadar mengencangkan ikat pinggang.

Kisah itu pada awalnya dibagikan oleh akun Facebook @Mohd Zaki Bin Salleh. Dalam video berdurasi 30 detik itu, bocah bernama Krisnen itu mengaku keluarganya belum makan selama tiga har terakhir.

Krisnen mengatakan, ayahnya sudah tidak dapat bekerja karena tempat kerjanya selama ini tutup akibat pandemi virus corona Covid-19. Karena penghasilan sang ayah menjadi pemasukan utama, maka terpaksa keluarga yang terdiri lima orang itu berada dalam masa kesulitan.

2 dari 6 halaman

Keluarga Malang Itu Tidak Makan Selama 3 Hari Terakhir

Dalam unggahan itu, pemilik akun Facebook @Mohd Zaki Bin Salleh mengaku melihat Krisnen yang membawa kantung plastik merah.

Saat itu, Krisnen bertanya kepada Mohd Zaki apakah memiliki makanan. " Datang adik Krisnen terus tanya uncle ada makanan? Saya sudah 3 hari tak makan," tulis Zaki

Dia pun bertanya jumlah keluarga Krisnen. Bocah itu mengaku ada lima orang di rumahnya. " Terus saya hulurkan 5 bungkus nasi putih siap gulai , sambal belacan dan ikan keli," tulis Zaki.

" Mesti family dia suka boleh makan malam ini," tambah dia.

Cerita memilukan keluarga Krisnen hanyalah gambaran kecil dari sekian banyak masyarakat dunia yang mengalami kesulitan hidup selama pandemi virus corona.

3 dari 6 halaman

 

Dalam video yang dibuat oleh Mohd Zaki tersebut, Zaki menghentikan mobil yang ia kendarai dan tiba-tiba Krisnen datang menanyakan apakah Zaki punya makanan. Krisnen mengaku sudah 3 hari sejak terakhir dia bisa makan.

Dalam status facebook @Mohd Zaki Bin Salleh yang diposting pada tanggal 3 April 2020 itu, ia menulis,

“ Saya berhenti kereta. Datang adik Krisnen terus tanya uncle ada makanan? Aya sudah 3 hari tak makan. Saya cakap rumah ada berapa orang? Dia cakap 5 orang. Terus saya hulurkan 5 bungkus nasi putih siap gulai, sambal belacan, dan ikan keli. Mesti family dia suka boleh makan malam ini.”

Krisnen menyebutkan ada lima anggota keluarga di rumahnya. Kemudian Zaki memberikan lima paket makanan ke mereka.

Disaat masa sulit seperti ini, bagi sebagian orang mungkin dapat menikmati masa di rumah dengan bersuka cita. Namun, masih banyak saudara kita di luar sana yang nyaris tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari meski hanya sesuap nasi.

Selama MCO di Malaysia, dan juga pembatasan sosial di berbagai negara, semoga saja tidak membutakan kepekaan sosial kita untuk tetap membantu sesama, seperti yang dilakukan oleh Mohd Zaki tersebut. Dan sebenarnya banyak orang di dunia ini yang seperti Mohd Zaki.

Disaat masa sulit seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah saling mendukung dan membantu supaya bisa melewati wabah mematikan ini secara bersama-sama.

4 dari 6 halaman

Kisah Yuyun Menahan Lapar 4 Hari, Anaknya Puasa Seminggu

Dream - Dampak pandemi virus corona benar-benar dirasakan rakyat kecil. Tak hanya keselamatan jiwa yang terancam, ternyata roda perekonomian mereka sudah lebih dahulu terhenti gara-gara pandemi yang tak berkeseudahan ini.

Simaklah cerita Yuyun Cahyaningsih, warga Kelurahan Pemancangan Baru, Kecamatan Cipocok jaya, Kota Serang. Buru setrika berusia 37 tahun itu kini sudah tidak bisa bekerja lagi. Pandemi corona membuat warga bertahan di rumah. Tak ada lagi baju yang harus dia setrika.

Sudah bisa ditebak. Yuyun, suami, dan anaknya, harus hidup dengan menahan lapar. Semua pemasukan sehari-hari kini terhenti gara-gara corona.

" Kan enggak boleh keluar, jadi orang-orang ngegosok sendiri. Anak saya seminggu puasa, mulai dari Senin sampai Kamis kemarin," kata Yuyun, dikutip dari Merdeka.com.

5 dari 6 halaman

Kondisi keluarga ini semakin memprihatinkan setelah suami Yuyun jatuh sakit, sehingga tidak bisa memberi nafkah tambahan untuk keluarga. " Sakitnya (kepala), sudah lama. Enggak kerja, buruh lepas," tambah Yuyn.

Untungnya, Yuyun tinggal di rumah warisan suami. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat tinggal.

Mereka juga masih mujur karena berhasil menghubungi Relawan Banten Melawan Corona (RBMC). Keluarga Yuyun mendapat bantuan berupa kebutuhan pokok.

" Saya ngeluh enggak punya beras, gosok saya sepi. Kemarin saya bingung, terus disuruh kontak Untirta (RBMC) peduli. Kepepet, saking kepepetnya, malu sebenarnya mah," terang Yuyun.

6 dari 6 halaman

Koordinator RBMC, yang juga Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Hendra Leo Munggaran, mengatakan, bantuan itu sebagai bentuk kepedulian antar sesama.

Menurut Leo, bantuan yang diberikan kepada keluarga Yuyun berasal dari para donatur dan relawan yang bukan hanya berasal dari wilayah Banten saja.

" Ini sebagai salah satu bentuk kita membantu masyarakat Banten. Semua elemen harus bahu membahu menyelesaikan persoalan bangsa kita ini. Semoga kita semua bisa melewati masa krisis ini," katanya.

Leo pun berharap, di tengah kondisi Pandemi Covid 19 ini, semakin banyak warga yang memiliki kemampuan secara ekonomi, membantu warga lainnya yang kesulitan di tengah kondisi saat ini.

Beri Komentar